Catatan: Imran Nst
Ketika tugu Becak BSA di lapangan parkir Pariwisata, Jalan Merdeka, Kota Siantar diresmikan Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, 15 Oktober 2016 dan kini masih berdiri kokoh, muncul berbagai opini positif dan negatif dari berbagai kalangan.
Terkait hal positif, tugu becak BSA memperkuat bahwa becak BSA, merupakan heritage (warisan) yang tidak bisa dipisahkan dengan kota Siantar. Sekaligus memperindah sudut kota jadi tampak aristik. Sehingga, warga Siantar dan luar kota, ramai berswapoto atau berselfi. Ketika dishare ke media sosial, mengundang banyak komentar positif.
Hal negatif, pembuatan tugu dinilai tidak terlalu penting apabila becak BSA semakin berkurang. Bahkan mulai langka dan yang beroperasi, bisa dihitung dengan jari. Artinya, untuk apa tugu becak BSA megah tapi wujud aslinya lenyap?
Kalau memang punah, Tugu Becak itu hanya menjadi bahan cerita seorang kakek kepada anak cucunya menjelang tidur. Menuturkan, “Dulu, di Siantar pernah ada becak BSA peninggalan Perang Dunia II dijadikan angkutan umum, satu-satunya di dunia,”.
Terlepas dari soal positif atau negatif, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Becak BSA Siantar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tahun 2025.
Predikat WBTB itu mampu mengangkat “harkat” Kota Siantar karena masuk dalam jajaran “elite” dengan daerah lain di Indonesia yang punya WBTB. Sehingga, menjadi perhatian pecinta, pemerhati maupun pengamat budaya dari seluruh dunia.
Namun, seiring perkembangan zaman, becak BSA atau “besi tua” itu ternyata melaju sendiri menelusuri jalan sepi di keremangan sambil mengejar bayangan samar. Kalah bersaing dengan becak non BSA yang ditarik motor made ini Jepang.
Belum lagi muncul bajaj yang sempat disebut tanpa izin tetapi akhirnya dibiarkan bebas berkeliaran di jalanan membawa penumpang sampai dua orang. Bahkan, akan muncul lagi “becak listrik” yang semakin “menzigzag” becak BSA?
“Kalau Gojek tidak terlalu sebagai saingan. Tapi, Bajaj jelas,” kata abang becak BSA yang mangkal di simpang Jalan Diponegoro-Sutomo dari komunitas BSA (Becak Asli Siantar).
Karena penghasilan abang becak BSA tidak lagi memberi harapan untuk menghidupi keluarga apalagi sampai mengkuliahkan anak meraih gelar sarjana, satu persatu dijual ke luar daerah dengan harga menggiurkan sebagai koleksi pribadi.
“Untuk mengembalikan masa kejayaan becak BSA seperti dulu, seperti mustahil,” kata Alvin Nasution Ketua Komunitas BSA “Becak Asli Siantar” sembari mengatakan, becak BSA yang sekarang tinggal sekitar 40 unit. Tapi, yang beroperasi rutin hanya sekitar 10 unit lagi.
Sementara, kalau para abang becak BSA ditanya bagaimana menghadapi situasi saat ini, nurani mereka sebenarnya menjerit. Bukan saja karena penghasilan mereka tak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan terpaksa harus cari kerja sampingan, para elite “penguasa” terkesan membiarkan pesaing becak BSA “merajalela”.
Kondisi itu terjadi karena para elite penguasa kota, seperti tidak mau tau dengan nilai sejarah Siantar dengan becak BSA. Atau mungkin tidak perduli dan tidak terpanggil untuk bangga bahwa predikat becak BSA sudah ditetapkan sebagai WBTB.
SIAP MENGGEBRAK
Ketika becak BSA nyaris hilang dan dilupakan, Komunitas BSA “Becak Asli Siantar” berkumpul sambil “ngopi” di tepi sungai Bah Bolon, belakang Luky Striker, Jalan Diponegoro, Kota Siantar.
Hasil dari kumpul-kumpul itu, salah satunya itu tadi, becak BSA menjadi WBTB yang ditetapkan Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lebih dari itu, ada film dokumenter berjudul “Deru Mesin”. Berkisah tentang perjuangan komunitas “Becak Asli Siantar” mempertahankan besi tua bernilai sejarah itu. Pekan depan di Medan, ada Gala Premiere atau pertunjukan perdana “Deru Mesin”.
“Dari Medan, Deru Mesin juga siap tayang disaksikan melalui nonton bareng di Lapangan H Adam Malik dan di lapangan Parkir Pariwisata Kota Siantar,” kata Ketua Komunitas BSA, Alvin Nasution.
Dijelaskan, sudah ada program Komunitas BSA yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Siantar menjadikan becak BSA sebagai kenderaan wisata. Akan ada trip untuk mengantar para pelancong dalam dan luar negeri ke lokasi-lokasi wisata Siantar. Termasuk menikmati kuliner khas ciri Siantar.
“Selain trip wisata, akan ada aplikasi Becak BSA untuk umum yang ingin menggunakan becak BSA,” katanya sembari mengatakan, berkat kerja sama dengan Bank Indonesia Pematangsiantar, pihaknya sedang memoles becak BSA supaya lebih cantik.
Saat ini, komunitas BSA masih terus berjuang agar deru mesin becak BSA tetap bergemuruh meski tidak seperti masa kejayaannya dulu. Lantas, siapa yang mau ikut? (Penulis Alumni Fisip UISU Medan/Pemred Senternews.com)






