SIANTAR, SENTERNEWS
Seorang perempuan lanjut usia (Lansia) berstatus janda, Mika br Pasaribu (61), datangi kantor DPRD Siantar, Jalan H Adam Malik.
Tujuannya, bermohon kepada wakil rakyat supaya namanya bisa dimasukkan sebagai penerima bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah, Rabu (12/11/2025) sekiranya pukul 10.00 WIB.
Karena tidak ada anggota dewan yang hadir, perempuan tua itu sempat menangis meneteskan air mata. Kemudian, bersama cucu perempuannya berusia 4 tahun dan seorang warga boru Sidabutar pensiunan ASN, meninggalkan kantor DPRD Siantar itu.
Pulang ke rumah miliknya yang sudah reot atau tak layak huni di Jalan Bah Kora II, Kelurahan Pamatang Marihat, Kecamatan Siantar Simarimbun.
“Aku tinggal berdua bersama cucu perempuanku ini. Bapaknya sudah meninggal, mamaknya pergi entah kemana karena ada kurang-kurangnya, ” kata perempuan tergolong prasejahtera atau miskin itu di tangga rumah yang lapuk.
Beberapa waktu lalu, Boru Pasaribu mengaku ada didatangi pihak kelurahan yang katanya untuk mendata supaya dapat menerima Bansos. “Tapi, sampai sekarang, aku tak pernah menerima Bansos seperti beras. Padahal, banyak juga warga yang lebih lumayan dari aku, ada mendapat Bansos, ” ujarnya lagi.
Karena belum juga mendapatkan Bansos, boru Pasaribu beberapa kali mendatangi kantor Lurah. Bahkan pernah ke kantor Dinas Sosial. Dengan harapan, namanya masuk data penerima Bansos. Nyatanya, sampai sekarang, harapan itu belum juga terealisasi.
Saat ada warga mendapat bantuan berupa beras dari Bansos, dia mengaku hanya melihat dari jauh dan merasa sedih. Karena di rumahnya sudah tidak ada lagi beras untuk dimakan.
“Rasanya sudah capek kalilah. Karena itu juga, tadi aku datang ke kantor DPRD. Tapi, tak ada yang bisa dijumpai, ” imbuh Boru Pasaribu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Boru Pasaribu itu bekerja mengambil genjer di bandar sawah untuk dikumpul. Kemudian dijual ke Pasar Horas. Kalau laku, paling banyak mendapatkan uang Rp 40 ribu dan itu digunakan membeli beras dan ikan asin untuk memenuhi kebutuhan sejengkal perut bersama sang cucu.
“Mencari genjer tidak setiap hari. Kalau ada yang mengajak membersihkan ladang atau sawah orang lain, aku dapat uang sekedarnya. Kalau sawah sedang panen, aku meleles padi. Dapatlah paling 20 ribu, ” kata Boru Pasaribu sembari mengatakan, ada juga tetangga yang kalau panen memberi beras untuknya untuk bekal tiga atau empat hari.
Boru Pasaribu juga mengaku, pernah mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan secara mandiri. Karena tidak bisa membayar, sudah setahun lebih menunggak. ” Tak taulah aku, kalau aku sakit kek mana jadinya,” kata Boru Pasaribu dengan kelopak mata berkaca-kaca.
Saat rumahnya rusak dihantam angin puting beliung sampai miring beberapa waktu lalu dan seng rumahnya beterbangan. Untung ada bantuan dari Pemko Siantar memperbaiki rumahnya dengan mengganti seng yang baru.
Kalau tidak ada bantuan dari Pemko itu, boru Pasaribu mengaku tidak bisa memperbaiki rumahnya dan akan tidur beratapkan langit. “Terimakasih lah pemerintah sudah memperbaiki atap seng rumahku ini, ” imbuhnya.
Di penghujung perbincangan, Boru Pasaribu sangat berharap kepada Lurah, Camat bahkan Walikota supaya namanya bisa masuk sebagai penerima manfaat Bansos. “Tolonglah aku supaya dapat Bansos. Tolonglah, ” katanya mengakhiri. (In)






