Oleh: Samro Himtihani Nasution, MA
Dajjal, siapa dia sebenarnya? Bagi sebagian orang, nama ini mungkin cuma sekilas lewat. Banyak yang tahu nama, tapi nggak paham betapa besar dampaknya bagi umat manusia.
Menurut Hadis Rasulullah SAW, Dajjal adalah seorang laki-laki (HR. Muslim) Makhluk llah yang masih dalam keturunan Nabi Adam AS.
Jadi jelas Dajjal itu adalah manusia, keturunan Nabi Adam, bukan makhluk aneh atau monster. Dan, Dajjal sebagai salah satu tanda besar sebelum tiba kiamat. Dan, Rasulullah mengingatkan bahaya fitnah Dajjal.
Maka, Rasulullah memberikan perisai kepada umat Islam agar terhindar dari fitnah Dajjal ataupu Dajjal itu sendiri.
Berdasarkan hadis Rasulullah Barang siapa membaca sepuluh ayat pertama (atau terakhir) dari Surah Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal.”(HR. Muslim).
Dari hadis tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membaca surat al-khafi agar tidak terpengaruh dengan fitnah dajjal atau bahaya dajjal, karena itu dapat diartikan, fitnah dajjal maupun dajjal itu sendiri sangat berbahaya.
Gelombang informasi sangat mudah diakses melalui platform media sosial. Namun disayangkan adalah infromasi ataupun berita yang ada belum tentu benar adanya. Maka sebagai manusia kita harus berhati-hati mendapat informasi yang diterima. Karena, sangat susah membedakan berita yang benar dan berita yang hoaks.
Untuk itu, umat Islam diingatkan tentang betapa sangat berbahayanya fitnah Dajjal, yang memberikan ujian terberat bagi umat manusia menjelang akhir zaman.
Meskipun Dajjal belum muncul, tapi dalam fenomena dan gejala modern, kita melihat “bayang-bayang kecil” dari fitnah cara kerjanya.
Hal ini mengacu pada banyaknya video-video yang beredar di media sosial termasuk melalui AI yang belum tentu benar adanya.
- Hoaks: Kebohongan yang Menyamar Menjadi Kebenaran
Di hadis-hadis, Dajjal digambarkan ahli membolak-balik realitas. Yang benar bisa kelihatan salah, yang salah malah kelihatan benar. Informasi atau berita menyebar lewat media sosial, kadang narasinya kuat, gambarnya nyata.
Banyak orang langsung percaya tanpa mengecek dulu, lalu menyebarkan lagi. Dalam hitungan menit, kebohongan bisa berubah jadi “kebenaran umum.” Padahal, Islam mewajibkan tabayyun meneliti kebenaran sebelum menyampaikan berita.
Dalam konteks ini, hoaks menjadi cerminan kecil dari bagaimana fitnah besar bisa menembus manusia tanpa kita sadari.
Hoaks bekerja dengan memanfaatkan kelemahan manusia: rasa penasaran, ketakutan, bahkan kebutuhan untuk merasa “lebih tahu” yang istilah generasi Z sekarang adalah “Kepo” (Knowing Every Particular Object) dari orang lain.
Sekali seseorang termakan, ia bukan hanya menjadi korban, tetapi bisa berubah menjadi penyebar tanpa sadar. Dalam hitungan menit saja, kebohongan biasa bisa berubah jadi semacam kebenaran populer. Sehingga orang lebih percaya itu dari pada fakta sebenarnya.
Hoaks itu kebanyakan tidak muncul dari informasi yang benar, tapi lebih dari manipulasi sengaja. Motivasinya macam-macam, politik misalnya, atau ekonomi, provokasi, bahkan cuma buat sensasi saja.
Saya pikir efeknya tetap sama saja, merusak kepercayaan orang, bikin persatuan terpecah dan yang paling susah, batas antara benar sama salah jadi kabur.
Di tengah badai informasi palsu ini, kehati-hatian adalah benteng. Verifikasi serta cek dan ricek adalah senjata. Dan kebijaksanaan adalah kompas. Tugas kita bukan hanya menolak hoaks, tetapi juga membiasakan diri untuk berpikir jernih, menunda reaksi, dan menimbang sebelum membagikan informasi yang kita terima.
Semisal informasi tersebut adalah fakta tetapi merupakan aib dari seseorang, alangkah baiknya kita simpan. Jangan disebar luaskan, karena sesuai dalil dalam Alquran “Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nur ayat 19). Begitu juga dengan hadis Rasulullah “Tiada seorang hamba pun yang menutupi cela seorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari kiamat.” (HR Muslim).
Tetapi apabila informasi tersebut adalah fakta sebagai suatu yang benar dan baik, kita diwajibkan menyebarluaskan informasi tersebut. Karena, bisa jadi itu menjadi ladang amal bagi kita kelak.
Hal ini juga sesuai dengan dalil Quran “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar” (QS. Ali Imran ayat 104).
- Ilusi Digital: Dunia Maya yang Mengaburkan Realitas
Dajjal disebut mampu menciptakan ilusi yang menipu pandangan manusia. Di zaman modern, bentuk ilusi ini hadir melalui manipulasi foto dan video, deepfake, rekayasa visual yang hampir tak bisa dibedakan dari kenyataan. Maupun informasi yang dikemas sedemikian rupa sehingga menggerakkan emosi tanpa dasar.
Manusia semakin sulit membedakan nyata dan palsu. Teknologi yang seharusnya mempermudah hidup justru dapat menciptakan ketergantungan pada “realitas buatan”. Banyak orang membangun persepsi dunia berdasarkan hal yang tidak benar, sama seperti masyarakat di akhir zaman yang mudah terperdaya oleh ilusi Dajjal.
3.Fitnah Modern: Krisis Kepercayaan dan Rusaknya Nilai
Fitnah di era digital bukan hanya terkait kebohongan informasi, tetapi juga kerusakan nilai-nilai:
-Fitnah popularitas yang menghalalkan segala cara
-Fitnah gaya hidup hedonis yang dibungkus “kebebasan”
-Fitnah konten yang merusak moral tetapi disajikan sebagai hiburan
-Fitnah perpecahan antarumat hanya karena perbedaan pendapat di dunia maya
Fenomena seperti ini bikin saya sadar, manusia itu gampang terbawa arus besar yang salah arah. Apalagi kalau pondasi imannya tidak kuat.
Para ulama sering mengatakan, sebelum fitnah yang besar datang, pasti ada terlebih dahulu fitnah-fitnah kecil sebagai semacam ujian. Buat lihat apakah orang bisa pegang teguh kebenaran, atau malah ikut bingung dan tenggelam dalam arus tersebut.
4.Menguatkan Diri dari “Pra-Fitnah” Dajjal
Islam tidak meminta kita sekadar takut; Islam meminta kita bersiap. Ada beberapa langkah yang diajarkan syariat untuk menghadapi fenomena fitnah, baik yang kecil maupun yang besar:
1.Berpegang pada ilmu yang benar Ilmu adalah cahaya. Tanpa ilmu, manusia mudah disesatkan oleh narasi palsu.
2.Tabayyun pada setiap informasi Allah memerintahkan untuk memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
3.Memperbanyak dzikir dan menjaga hubungan dengan Al-Qur’an
Surah Al-Kahfi, terutama 10 ayat pertama, disebut sebagai perisai dari fitnah Dajjal.
4.Menjaga kebersihan hati Fitnah paling mudah menjangkiti hati yang rapuh; sedangkan hati yang bersih akan lebih peka membedakan kebenaran dan kebatilan.
5.Selektif dalam menggunakan teknologi Tidak semua yang mendunia itu benar, dan tidak semua yang viral itu baik. Seorang Muslim harus mampu memilah, bukan sekadar mengikuti.
Hoaks, ilusi digital, dan fitnah media bukan hanya masalah sosial atau teknologi. Tetapi, cerminan dari ujian besar yang pernah diingatkan Rasulullah SAW.
Fenomena-fenomena ini mengajarkan bahwa sebelum fitnah yang besar datang, manusia sudah diuji dengan bentuk-bentuk kecilnya.
Jika umat Islam tidak membangun benteng iman, ilmu, dan akhlak sejak sekarang, akan mudah terjerumus dalam tipu daya zaman.
Namun jika mereka kuat, fitnah sekecil atau sebesar apa pun, akan menjadi peluang untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin teguh memegang kebenaran. (Penulis: Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






