Senter News
Sabtu, 26 September 2026
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
No Result
View All Result
Senter News
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
Home NEWS ANEKA RAGAM
Doni Arief, M.A

Doni Arief, M.A

Manusia, Mesin, dan Roh: Menjawab Tantangan AI dengan Konsep Insan Kamil

Penulis: Redaksi Senternews.com
25 September 2026 | 08:33 WIB
Rubrik: ANEKA RAGAM
Share on FacebookShare on WhatsappShare on Telegram

​Oleh: Doni Arief, M.A

​Di era ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mampu menulis puisi, mendiagnosis penyakit, hingga meniru percakapan emosional dengan meyakinkan, pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang dulu hanya dibahas di ruang-ruang filsafat kini menghantui kita.

Apakah mesin bisa memiliki kesadaran? Di mana letak “jiwa” pada era digital? Dan yang paling mendasar, apa yang membuat kita tetap menjadi manusia?

​Di Silicon Valley, para visioner transhumanis seperti Ray Kurzweil dan Yuval Noah Harari menawarkan jawaban yang provokatif: manusia hanyalah “platform biologis” yang perlu ditingkatkan (upgraded).

Tubuh dianggap sebagai kendaraan yang cacat desain, kematian adalah masalah teknis yang harus diselesaikan, dan suatu hari nanti kita akan “mengunggah” kesadaran ke dalam mesin demi mencapai keabadian digital.

​Bagi umat Islam, jawaban tersebut bukan sekadar keliru secara teknis, melainkan kekeliruan mendasar secara ontologis. Di sinilah konsep Insan Kamil (Manusia Sempurna) dalam tradisi tasawuf Islam—seperti yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan Al-Jili—menawarkan antitesis yang tajam dan mendalam.

​Roh yang Tidak Bisa Diunggah

​Asumsi dasar transhumanisme berakar pada materialisme reduksionis: manusia dianggap tidak lebih dari sistem fisik-kimiawi yang kompleks.

Kesadaran, emosi, dan spiritualitas dipandang sekadar sebagai “perangkat lunak” yang berjalan di atas “perangkat keras” berupa otak. Sehingga secara teoritis dapat dipindahkan ke substrat lain.

​Islam menolak asumsi tersebut sejak awal. Allah berfirman: ​”Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan Aku telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr [15]: 29)

​Roh yang ditiupkan Allah ini, yang dinisbatkan kepada-Nya sebagai bentuk pemuliaan (iḍāfat tasyrīf), merupakan sumber kesadaran sejati, kehendak bebas, serta kapasitas moral manusia. Roh bukanlah hasil dari kompleksitas komputasi, sehingga tidak dapat direplikasi, disimulasikan, apalagi “diunggah” ke dalam mesin.

​Ketika sebuah chatbot (bot obrolan) berkata, “Saya merasa sedih mendengar hal itu,” ia tidak sungguh-sungguh merasakan kesedihan. Ia hanya menghasilkan urutan kata yang secara statistik paling mungkin muncul.

Tidak ada pengalaman subjektif, tidak ada zauk (rasa spiritual), dan tidak ada “jiwa” di balik rangkaian kata tersebut. Ibnu Arabi mungkin akan menyebutnya sebagai khayāl ontologis, sesuatu yang tampak nyata, tetapi hampa substansi.

​Allah mengingatkan: ​”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)

​Insan Kamil: Kesempurnaan yang Radikal dan Berbeda

​Di sinilah konsep Insan Kamil menawarkan pandangan yang sama sekali berbeda tentang kesempurnaan manusia.

Dalam kerangka berpikir Ibnu Arabi dan Al-Jili, manusia sempurna bukanlah sosok yang memiliki kapasitas memori lebih besar, kecepatan pemrosesan lebih tinggi, atau usia yang lebih panjang. Hal-hal tersebut hanyalah kesempurnaan kuantitatif.

​Kesempurnaan dalam konteks Insan Kamil bersifat kualitatif, yaitu teraktualisasinya secara penuh potensi spiritual yang telah tertanam dalam fitrah.

Manusia sempurna adalah manusia yang hatinya menjadi cermin jernih bagi cahaya Ilahi, akhlaknya mencerminkan sifat-sifat Allah, dan jalannya selaras dengan tatanan kosmis yang ditetapkan Sang Pencipta.

​Allah berfirman: ​”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin [95]: 4)

​Ibnu Arabi memahami aḥsan taqwīm bukan sekadar kesempurnaan fisik, melainkan kapasitas manusia untuk mencerminkan seluruh nama-nama indah bagi Allah (al-Asmā’ al-Ḥusnā) secara seimbang. Inilah yang membedakan manusia dari malaikat, hewan, dan dalam konteks saat ini, mesin.

​Transhumanisme menyatakan: “Kamu tidak cukup baik sebagaimana kamu diciptakan; kamu harus merekayasa ulang dirimu.” Sebaliknya, Insan Kamil menegaskan: “Kamu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya; tugasmu adalah merealisasikan potensi ilahiah yang sudah tertanam dalam fitrahmu.”

​Rasulullah bersabda: ​”Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

​Fitrah ini merupakan cetak biru spiritual yang sudah sempurna. Ia tidak memerlukan “peningkatan” oleh teknologi, melainkan perlu dijaga, dipelihara, dan diaktualisasikan melalui ibadah, akhlak, serta perjalanan spiritual.

​Karāmah Insānīyah: Martabat yang Tidak Perlu Peningkatan Buatan

​Implikasi etis dari pandangan ini sangat krusial. Martabat manusia (karāmah insānīyah) dalam Islam tidak bersumber dari kecerdasan, produktivitas, atau efisiensi komputasi.

Martabat tersebut merupakan anugerah langsung dari Allah yang melekat pada diri manusia semata-mata karena kedudukannya sebagai manusia. ​”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (QS. Al-Isra’ [17]: 70)

​Kemuliaan ini dianugerahkan kepada banī Ādam, seluruh anak cucu Adam tanpa terkecuali. Hal ini menegaskan dua prinsip utama:

​Pertama, manusia yang belum atau tidak mengalami “peningkatan” teknologi (enhancement) tidak berada pada tingkatan yang lebih rendah daripada mereka yang menggunakannya. Tidak ada dasar ontologis untuk membentuk hierarki baru berbasis enhancement, sebuah ancaman yang diperingatkan oleh Harari tentang potensi munculnya kasta “manusia-dewa” versus manusia yang “tidak berguna”.

​Kedua, kecerdasan buatan, sehebat apa pun kemampuannya, tidak memiliki martabat manusia karena tidak dikaruniai roh Ilahi. Teknologi adalah sarana (wasīlah), bukan tujuan (ghāyah), serta tidak boleh ditempatkan sebagai pengganti otoritas moral, spiritual, maupun hukum manusia.

​Teknologi sebagai Wasilah, Bukan Ghayyah

​Islam tidak menolak teknologi. Sejarah peradaban Islam, mulai dari aljabar karya Al-Khawarizmi hingga sains optik karya Ibnu al-Haitsam, menjadi bukti nyata atas penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.

Namun, Islam menempatkan teknologi dalam kerangka yang tegas: teknologi adalah wasīlah (sarana), bukan ghāyah (tujuan akhir). Ia harus tunduk pada maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan-tujuan syariat)—yaitu pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

​Allah berfirman: ​”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

​Dalam kerangka ini, rekayasa genetika yang bertujuan menyembuhkan penyakit dapat diterima (sejalan dengan prinsip pengobatan). Namun, modifikasi genetik yang bertujuan “meningkatkan” manusia melampaui batas kewajaran biologis menjadi bermasalah karena melampaui batas medis hingga menyerupai upaya “bermain menjadi Tuhan”.

Demikian pula antarmuka otak-komputer (brain-computer interface) untuk membantu penderita kelumpuhan dapat dibenarkan, tetapi upaya yang bertujuan “mengunggah” kesadaran melanggar integritas ontologis manusia sebagai kesatuan tubuh, jiwa, dan roh.

​Tantangan Nyata di Hadapan Kita

​Meskipun skenario transhumanis seperti pengunggahan kesadaran masih tergolong jauh, tantangan spiritual yang mendesak sejatinya sudah hadir di hadapan kita: algoritma media sosial yang memanipulasi emosi, desain adiktif yang mengikis kapasitas bertafakur, hingga surveillance capitalism (kapitalisme pengawasan) yang menggerus otonomi moral.

​Allah berfirman mengenai orang-orang yang berakal (ulul albāb): ​”(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191)

​Tafakur, kontemplasi yang mendalam adalah bentuk ibadah luhur yang kian sulit dilakukan ketika perhatian manusia terus-menerus terpecah oleh notifikasi dan infinite scroll (guliran tanpa batas).

Karena itu, perjalanan menuju Insan Kamil di era digital memerlukan murāqabah (kesadaran kritis dan pengawasan diri), mujāhadah (kesungguhan spiritual), serta adab dalam memanfaatkan teknologi,  sebuah konsep yang diusung oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai “penempatan segala sesuatu pada tempatnya yang semestinya.”

​Dua Jalan yang Berseberangan

​Saat ini kita berdiri di persimpangan jalan. Satu jalan menawarkan “kesempurnaan” melalui peningkatan kuantitatif: lebih cepat, lebih kuat, lebih tahan lama, dan mungkin abadi secara digital.

Jalan lainnya menawarkan kesempurnaan melalui pendalaman kualitatif: hati yang bersih, akhlak yang mulia, dan pencapaian spiritual bersama Sang Pencipta.

​Allah berfirman: ​”Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6)

​Islam tidak memusuhi teknologi. Akan tetapi, Islam menolak setiap ideologi yang mereduksi manusia menjadi sekadar mesin atau menjadikan teknologi sebagai tujuan akhir kehidupan.

Di era ketika algoritma mendikte pola pikir dan kecerdasan buatan meniru gaya bertutur manusia, konsep Insan Kamil hadir sebagai pengingat yang menyentuh:

​Manusia telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Martabat manusia bersumber dari roh Ilahi. Kesempurnaan sejati tidak terletak pada upaya menjadi menyerupai mesin, melainkan pada keberhasilan menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang mengenali Tuhannya, mengasihi sesamanya, dan menjalankan peran sebagai khalifah yang bertanggung jawab di bumi. ​”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

​Inilah tujuan akhir yang hakiki, bukan singularitas, bukan pula keabadian digital, melainkan ibadah: pengabdian yang dilakukan dengan penuh kesadaran kepada Sang Pencipta. (Penulis: Dosen STAI Samora Pematangsiantar)

ShareSendShare

Berita Terkait

Kepala  BPKPD  Siantar  dan Wakil Ketua DPRD Siantar
ANEKA RAGAM

Soal Pembahasan R-APBD Pematangsiantar TA 2027, Eksekutif Lakukan Komunikasi kepada Legislatif 

25 September 2026 | 17:04 WIB

SIANTAR, SENTERNEWS  Dengan harapan agar Rancangan (R) APBD Pematangsiantar Tahun Anggaran 2027 dapat selesai sesuai  rencana  maksimal  30 Nopember 2027,...

Read moreDetails
Poto bersama
ANEKA RAGAM

FKUB Beri Penghargaan Bapak Toleransi kepada Wali Kota Siantar  

24 September 2026 | 19:42 WIB

SIANTAR, SENTERNEWS   Didampingi sejumlah Unsur Forkopimda Walikota Pematangsiantar Wesly Silalahi menerima penghargaan sebagai Tokoh Toleransi di Kota Pematangsiantar dari...

Read moreDetails
Poto bersama
ANEKA RAGAM

Polres Siantar Kembali Gelar Program Pahami AI Tingkat SMA/SMK/MA  

24 September 2026 | 08:30 WIB

SIANTAR, SENTERNEWS Kalau sebelumnya berlangsung se Kecamatan Siantar Barat,  kali ini  personel Polres Pematangsiantar kembali menggelar program pahami AI (Kecerdasan...

Read moreDetails
Putra Lubis
ANEKA RAGAM

Pemuda Muhammadiyah Kecewa, LKPD dan P-APBD Siantar Tidak Dibahas

23 September 2026 | 21:53 WIB

SIANTAR, SENTERNEWS Pemuda Muhammadiyah Kota Pematangsiantar kekecewa terhadap tidak dibahasnya Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025 dan  Perubahan...

Read moreDetails
Tersangka dan barang bukti
ANEKA RAGAM

Duduk di Atas Sepeda Motor, Polres Siantar Amankan Pemilik 21,55 Gram Sabu

23 September 2026 | 20:21 WIB

SIANTAR,SENTERNEWS Pria berinisial IH (29) diamankan personel Satresnarkoba Polres Pematangsiantar yang sedang duduk di atas sepeda motor di  pinggir Jalan...

Read moreDetails
Evakuasi jenazah
ANEKA RAGAM

Warga Siopat Suhu Ditemukan Mayat Membusuk

23 September 2026 | 20:20 WIB

SIANTAR ,SENTERNEWS Temuan sosok mayat lelaki-laki,  Rahmali Panjaitan yang kondisinya sangat mengenaskan di dalam rumah menghebohkan warga Jalan perwira, Kelurahan...

Read moreDetails

Berita Terbaru

ANEKA RAGAM

Soal Pembahasan R-APBD Pematangsiantar TA 2027, Eksekutif Lakukan Komunikasi kepada Legislatif 

25 September 2026 | 17:04 WIB
ANEKA RAGAM

Manusia, Mesin, dan Roh: Menjawab Tantangan AI dengan Konsep Insan Kamil

25 September 2026 | 08:33 WIB
ANEKA RAGAM

FKUB Beri Penghargaan Bapak Toleransi kepada Wali Kota Siantar  

24 September 2026 | 19:42 WIB
HEADLINE

Pengunjukrasa Berjualan Hasil Pertanian dan Masak Kolak di Kantor Wali Kota Siantar

24 September 2026 | 14:48 WIB
ANEKA RAGAM

Polres Siantar Kembali Gelar Program Pahami AI Tingkat SMA/SMK/MA  

24 September 2026 | 08:30 WIB
ANEKA RAGAM

Pemuda Muhammadiyah Kecewa, LKPD dan P-APBD Siantar Tidak Dibahas

23 September 2026 | 21:53 WIB
SEREMONIAL

Awal Tugas, Kapolres Siantar AKBP Dhana Noer Kurniawan Silaturahmi ke Ketua PN

23 September 2026 | 21:44 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Kapolres Simalungun Jalin Silaturahmi dengan Ketua DPRD

23 September 2026 | 21:38 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Pelaku Curanmor Dibekuk Polsek Gunung Malela  

23 September 2026 | 21:37 WIB
ANEKA RAGAM

Duduk di Atas Sepeda Motor, Polres Siantar Amankan Pemilik 21,55 Gram Sabu

23 September 2026 | 20:21 WIB
ANEKA RAGAM

Warga Siopat Suhu Ditemukan Mayat Membusuk

23 September 2026 | 20:20 WIB
ANEKA RAGAM

MUI Pusat Nilai, Pemanfaatan Digital MUI Pematangsiantar Punya Nilai Plus

23 September 2026 | 19:36 WIB

barak barak barak barak barak barak

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
  • Visi & Misi

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata