SIANTAR, SENTERNEWS
Penutupan Yayasan Pendidikan (YP) Kartini Handayani di Jalan Kartini, Kecamatan Siantar Barat , Kota Siantar mendapat perlawanan dari para guru TK-SD dan wali murid dengan membentuk Forum Kartini Fighter.
Pembentukan forum yang berlangsung melalui rapat di aula sekolah tersebut, Selasa (30/5/23), karena pihak yayasan telah memutus hubungan kerja sepihak dengan para guru. Sedangkan para wali murid ikut bergabung karena, putra-putri mereka terganggu secara psikologis.
Ketua Forum Kartini Fighter, Miss Lina pada rapat tersebut menyatakan, para wali murid sepakat ikut bergabung dalam forum karena sama-sama menentang pentupan sekolah tanpa alasan yang jelas.
“Kita menolak pentupan sekolah karena hubungan kerja para guru diputus secara sepihak. Paling parah lagi, kondisi psikologis anak-anak didik sangat terganggu karena kalau pindah harus beradaptasi lagi dengan sekolahnya yang baru,” ujar Miss Lina.
Karena situasi tersebut, para orang tua wali murid resah. Terutama yang putra-putrinya saat ini sedang duduk di kelas VI. Pasalnya, masa sekolah untuk tamat SD tinggal setahun lagi. “Kalau pindah sekolah pada kelas enam, ini sangat beresiko,” ujar Miss Lina.
Dijelaskan, selama mengajar di YP Kartini Handayani, seluruh guru kelas diwajibkan mengambil gelar Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan menggunakan biaya sendiri meski posisi keuangan dikatakan kurang memadai dan harus pintar-pintar mengumpul.
Hal lain, setelah mendapat gelar PGSD, para guru juga diwajibkan untuk merekrut siswa minimal dua orang pertahun. Ketika hal itu dilaksanakan dan sekolah ditutup, Miss Lina mengatakan sangat ironis.
“Kami kuliah pakai biaya sendiri. Tapi, mengapa pihak yayasan semena-mena menutup sekolah. Bukan hanya karena kami akan kehilangan pencarian dari honor. Lebih dari itu, kami juga punya tanggungjawab berat kepada para orang tua yang anaknya kami masukkan ke sekolah ini,” tegasnya.
Tina yang mewakili para guru menyatakan sangat berterimakasih kepada wali murid memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mendidik anak-anaknya. Padahal, tidak sedikit sekolah lain yang lebih berkualitas dan banyak juga gurur yang lebih pintar.
Namun, setelah para guru berhasil meyakinkan masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di YP Kartika Handayani dan yayasan memperoleh penghasilan, sangat ironis akhirnya sekolah ditutup tanpa alasan tidak masuk akal.
“Masyarakat atau bapak ibu telah memberi kepercayaan kepada kami untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah ini. Kalau sekolah tiba-tiba ditutup, ini sangat ironis dan kita sebagai guru sangat menyesalkan pihak yayasan,” lirihnya.
Lebih lanjut dikatakan, para guru sudah menyurati Dinas Pendidikan dan DPRD Kota Siantar. Dan, Dinas Pendidikan ddikatakan sepakat menolak permintaan yayasan menutup sekolah tersebut.
Sementara, perwakilan wali murid, Gunawan mengaku bahwa mereka siap mendukung perjuangan para guru dengan mempertahankan sekolah tersebut agar tetap beroperasi. Bahkan, parawali murid meyakinkan bahwa langkah yang dilakukan para guru sudah tepat.
Wali murid kelas V itu menyatakan, untuk menutup satu sekolah ada aturannya dan yang berhak adalah Dinas Pendidikan di daerah tersebut berdasarkan permintaan yayasan. Tapi, penutupan tidak bisa semena-mena karena alasannya harus tepat dan tidak mengada-ada.
“Sampai saat ini kita tidak mengetahui jelas apa alasan pihak yayasan menutup sekolah dan alasana kitu kita piker mengada-ada,” tuturnya sembari mengatakan siap berjuang bersama para guru.
“Kita para wali murid mendukung para guru yang berjuang supaya sekolah tidak ditutup dan kita siap berada di barisan terdepan menentang segala bentuk kecurangan di dalam pendidikan,” ujar Gunawan.
Terpisah, anggota Komisi II DPRD Siantar, Metro Hutagaol mengatakan, pihaknya sudah mengetahui bahwa para guru YP Kartika Hhandayani Kota Siantar itu melayangkan surat kepada DPRD Siantar dan diterima Sekretariat DPRD.
“Surat para guru itu sudah masuk dan ada pada bagian umum sekretariat. Surat itu baru masuk dan ditujukan kepada pimpinan DPRD. Sekarang, kita di Komisi II yang membidangi pendidikan menunggu disposisi pimpinan,” ujar politisi Partai Demokrat itu.
Sementara, terkait dengan penutupan sekolah YP Kartika Handayani, pihak yayasan malah belum mengajukan surat kepada Dinas Pendidikan Kota Siantar. Hal itu dibenarkan Kasi Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan, Rado Damanik.
“Kita belum ada menerima surat permintaan dari yayasan terkait penutupan sekolah. Namun, ketika mengetahui YP Kartini Handayani itu akan ditutup, kita langsung melakukan pemantauan. Bahkan, meminta guru-guru melanjutkan proses belajar mengajar,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, saat memantau sekolah tersebut, proses belajar-mengajar masih normal. Tapi, jangan karena ada informasi bahwa sekolah akan ditutup, psikologis anak-anak terganggu. “Kita minta supaya pihak terkait menjaga situasi dan kondisi agar tetap kondusif,” ujarnya melalui telepon seluler. (In)






