SIANTAR,SENTERNEWS
Saat Choky Sihotang, pria kelahiran Bandung Jawa Barat, di Kedai Kopi Kok Thong, Jalan Cipto, Kota Siantar yang biasa ramai dengan pengunjung, lelaki itu tampak biasa-bisa saja, tidak kelihatan seperti selebritis terkenal yang telah malang melintang di dunia entertainment.
“Dalam rangka apa kesini bang?” tanya kru Senter News saat menyapa lelaki kelahiran 1982 itu. Dan, langsung dijawab, “Wah pertanyaannya simple, tapi jawabannya panjang,” ujarnya menyunggingkan senyum sembari memandang lelaki di depannya, Ketua DPD Partai NasDem Kota Siantar, Frans Herbet Siahaan diampingi istri boru Lubis, Selasa (30/5/2023).
Dengan logat yang terdengar “Medan” dan berada di antara sejumlah kader Partai NasDem termasuk Hotman Siahaan yang pernah lama tinggal di Bandung, Choky yang lahir dari rahim seorang ibu buro Napitupulu itu, mengatakan sengaja datang ke Sumatera Utara.
Secara spesifik dikatakan untuk memenuhi takdir. Dalam rangka persiapan tugas mulia dan agung bagi bangsa dan negara. “Itu kiasan saja” ujarnya sembari tetap tersenyum, tetapi tipis.
Pria bertubuh atletis ini mengatakan, berangkat ke tanah leluhur di desa Moka Pulau Samosir yang selama ini belum sempat dikunjungi untuk mendatangi Tugu Sitohang dan Tugu Situmorang. Berinteraksi dengan keluarga ompung (Adiknya ompung) yang masih ada.
“Supaya didoakan leluhur. Dapat restu bahwa kami ingin mengabdi untuk Indonesia di DPR RI dan saya tidak malu mengatakan itu menjadi DPR RI untuk melayani NKRI dan Pancasila,” ujar anak pertama dari tiga saudara yang kedua adiknya perempuan.
Choky mengaku, tahun 1999 menjadi penyiar radio dengan gaji Rp 60 ribu perbulan. Sebagai jurnalis politik 2022-2005 dan sampai sekarang masih dalam Paguyuban Wartawan -Korespenden. ”Saya ada darah wartawan , Keluar dari Jurnalistik jadi pembawa acara televisi,” imbuhnya.
Berencana maju menjadi anggota DPR RI dari Partai NasDem yang sudah “digaulinya” sejak 2021, dari daerah pemilihan Jawa Barat 6, Bogor dan Bekasi, untuk merawat toleransi.
Choky percaya kepada cita-cita pendiri bangsa untuk membuat bangsa ini maju dan berbhineka sebagai cita-cita bangsa yang tak terpisahkan satu sama lain. Merawat toleransi menjadi salah satu yang menggugahnya sebagai ummat Kristen dan Suku Batak yang dalam penamaan hidup bersosialisasi sehari-hari, disebut kaum minoritas.
“Tapi, kita tidak alergi kata minoritas karena itu fakta geopolitik. Ada minoritas, ada mayoritas.
Namun, meski disebut minoritas, negara menjamin kebebasan warganya memeluk agama masing-masing. Menjaga dan merawat adat budaya, adat istiadat. Kalau tidak ada budaya, kita bisa jadi liar,” bebernya.
Tanpa memiliki adat budaya, adat istiadat, orang tidak akan mengerti dari mana dia berasal. Siapa yang melahirkan. Gangguan Indonesia hari ini dikatakan radikalisme dan intoleransi sebagai semua bibit perpecahan bangsa yang mampu mengoyang pilar pilar kehidupan, masuk dari ideologi serta keamanan pertahanan negara.
Sementara, untuk bisa duduk di jajaran kursi legislatif gedung DPR RI menurutnya butuh perjuangan dan itu sudah dilakukan sejak hampir dua tahun terakhir. “Selain karena berkat Tuhan, yang membawa kami berhasil, saya latihan, kerja keras dan disiplin,” ujarnya.
“Saya perlu sampaikan, kami datang bukan untuk curi suara dan kami bukan jadi beban. Baik secara sosial maupun beban anggaran negara. Bukan. Tapi, jalan sudah ada,” imbuh yang juga mengatakan, sebagai pelaku seni dan budaya, seni dan budaya dikatakan berjalan beriringan dalam profesi apa pun.
“Tapi sekali lagi, tanggungjawab kami melayani masyarakat sesuai dengan tempat dimana kami dipercaya. Selebihnya talenta kami akan digunakan untuk berkat bagi banyak orang,” ujarnya.
Terkait dengan suku Batak, Choky mengaku jujur tidak bisa berbahasa Batak meski mengerti bahasa tertentu karena di rumahnya tidak biasa bahasa Batak. “Tapi saya bangga dan tak malu menyembunyikan sebagai Batak. Padahal ada yang menginginkan agar menghilangkan marga Sitohang,” tegasnya.
Dijelaskan, saat ini informasi begitu cepat berganti dan mendalami suatu cerita. Kalau tidak didalami, akan terbawa dalam opini publik, hoaks datangnya bohong. Kutip sumber berita yang salah, Group WA yang isinya menjelekkan tokoh tertentu.
“Saya beri contoh politik identitas. Kalau kita benci pada orang lain dan sebut orang itu gunanakan politik identitas, jangan-jangan bapak itu yang gunakan politik identitas. Kita banyak tenggelam berbagai isu sampai lupa membaca kembali sejarah bangsa,” ujarnya.
Saat tutur kata Choky mengalir begitu saja, terdengar suara musik dari pengamen perempuan tuna netra sambil menyenandungkan lagu Batak. Dituntun seorang lelaki setengah baya, “Bagus lagunya dan saat melintas dari belakangnya, Choky mengatakan,” Terimakasih amang”.
Terkait dengan kaum muda yang terdiri sekitar 60 persen lebih pemilih pemula,dikatakan memiliki karakter yang tumbuh cepat berkembang karena media sosial. Sehingga dalam memilih menu utama keseharian, begitu cepat pindah dari satu info ke info lain. Sehingga nalar dan kritisme mereka begitu kuat. Sedikit tak suka tinggalkan.
Kepada kaum milenial, diharap tidak melupakan sejarah bangsa. Kaum milenial harus mengetahui mengapa mereka lahir di Indonesia, siapa orang tuanya. “Karena itu, dari dunia yang membesarkan saya selama ini dan saya menjadi inspirasi. Itulah pengabdian ku selama ini menuju DPR RI, ” ujarnya mengakhiri perbincangan. (In)






