SIANTAR, SENTERNEWS
Melalui diskusi publik sejumlah aktifis mahasiswa Siantar-Siimalungun, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menimbulkan masalah. Sehingga, minta dihentikan dan dikaji secara komprehensif.
Pernyataan itu disampaikan, Randa sebagai moderator Diskusi Publik dengan tajuk “MBG Peluru Nyasar atau Tabungan Peluru”. Didampingi Fauzan Pasaribu dari Komunitas Ruang Rakyat sebagai pelaksana Diskusi Publik.
“Kemarin, Rabu (11/03/2026) kita sudah melakukan diskusi publik terkait dengan MBG itu. Dihadiri 50-an para aktifis mahasiswa dari perguruan tinggi se Siantar dan Simalungun,” kata Randa sembari mengatakan, diskusi publik berlangsung di Cafe Kabeh, Jalan Kota Nopan, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, Kota Siantar.

Pada diskusi publik itu, nara sumber Rado Sidauruk sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Universitas Simalungun menilai, MBG akan mencederai ruang fiskal dan sentimen pasar. Sementara, anggaran yang ditetap untuk MBG tahun 2026 sebesar Rp335 triliun termasuk alokasi dari anggaran pendidikan sebesar Rp223,5 triliun, dinilai sangat besar. Sehingga mengkhawatirkan keberlanjutan fiskal.
“Tahun 2025 anggaran program MBG sebesar Rp1 triliun dan tahun 2026 naik menjadi Rp355 triliun. peningkatan yang signifikan ini sangat berpotensi terjadinya defisit anggaran,” kata Rado Sidauruk sembari mengatakan, data Desember 2025, defisit membengkak hingga Rp695,1 triliun atau setara dengan 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara, UU Nomor 17 Tahun 2003 Pasal 12 ayat 3 menyebutkan, defisit anggaran dibatasi maksimal 3 persen dari PDB. Sehingga, defisit yang terjadi hampir menyentuh batas aman menurut undang-undang.
Dipaparkan juga, terkait MBG menimbulkan dinamika lain pada pasar tradisional. Masalahnya, sejumlah harga bahan baku seperti ayam potong (broiler) terus mengalami kenaikan. Mulai dari Rp26 ribu menjadi Rp44 ribu per Kg. Demikian juga harga sayur mayur, telur dan lainnya.
“Ini bukan hanya sekedar tata kelola. Tapi, merupakan masalah baru yang harus di hadapi para pedagang pasar. Sebagai simpul anggaran sebesar Rp335 trliun, kita pikir banyak hal yang lebih krusial yang harus diterima masyarakat Indonesia, ” Ajar Rado.
Nara sumber lainnya, Presiden Mahasiswa Universitas Efarina, Pandes Nababan menyoroti berbagai persoalan teknis MBG. Meski program tersebut memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, dalam praktiknya banyak persoalan yang harus diperhatikan secara serius.
Dijelaskan, kesiapan sistem distribusi makanan, pengawasan kualitas makanan, serta standar higienitas, masih belum maksimal. Disinggung juga juga beberapa kasus keracunan makanan yang terjadi di beberapa daerah yang menunjukkan bahwa pengawasan terhadap program tersebut masih lemah.
“Mahasiswa tidak menolak upaya peningkatan gizi masyarakat. Tetapi pemerintah harus memastikan bahwa program ini dijalankan dengan sistem yang matang, aman, dan tidak membuka ruang terjadinya penyalahgunaan anggaran,” kata Pandes Nababan.
Menurutnya, kalau program MBG belum benar benar matang, lebih baik diberhentikan sementara. Selanjutnya, dilakukan evaluasi agar mencapai target sesuai dengan semestinya” ujar Depandes Nababan sebagai penutup.
Selanjutnya, Presiden Mahasiswa STAI Panca Budi, Nia Ramadhani Damanik sebagai nara sumber ketiga mengatakan, program MBG memiliki ketimpangan dengan pendidikan karena menggunakan anggaran negara yang sangat besar dengan dalih meningkatkan kualitas generasi masa depan.
Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan pendidikan yang belum tersentuh secara serius. Seperti fasilitas sekolah yang tidak layak, ketimpangan akses pendidikan, serta kesejahteraan guru yang masih jauh dari ideal.
“Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa kebijakan besar sering kali tidak berjalan seiring dengan kebutuhan paling mendasar dalam sistem pendidikan,” ujarnya yang juga menegaskan agar pemerintah benar benar melakukan evaluasi terhadap program MBG. Karena diduga mulai mencederai dunia pendidikan bahkan martabat guru.
Usai para nara sumber menyampaikan presentase, dilakukan dialog yang cukup kritis. Antara lain tentang besarnya anggaran MBG lebih baik dialihkan untuk perbaikan infrastruktur sekolah atau peningkatan gizi dasar (sebelum sekolah) daripada makan siang.
Kemudian, MBG dinilai banyak yang tidak higenis. Bahkan, karena dimasak pada malam hari, didistribusikan pagi dan dikonsumsi siang, apakah masih dapat disebut makanan bergizi? (In)






