SIANTAR, SENTERNEWS
Terpaksa merantau demi menempuh pendidikan, membuat sejumlah mahasiswa/i Universitas Simalungun(USI) Kota Pematangsiantar harus beradaptasi dengan kehidupan yang serba mandiri.
Seperti yang dialami Nur Indah Saragih dari Pekanbaru, Propinsi Riau, Intan Roma dari Pematang Raya, kecamatan Raya, Kabupaten simalungun dan Asri Saragih dari Sipoldas, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun.
Ketiganya memilih tinggal di kamar kos atau rumah kontrakan dengan berbagai pertimbangan, jarak tempuh, situasi keluarga, dan padatnya aktivitas perkuliahan.
Jauh dari orang tua, membuat ketiganya harus pintar mengatur keuangan, bertahan di tengah cuaca yang kurang bersahabat, sampai menghadapi tekanan kebutuhan sehari-hari. Namun di balik semua tantangan itu, mereka menyimpan tekad yang sama untuk menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan mampu membalas pengorbanan orang tua dengan keberhasilan yang nyata.
Nur Indah Saragih (20), mahasiswi Semester IV, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi, USI, Kota Siantar meninggalkan kampung halamannya di Pekanbaru, Riau untuk mengontrak rumah di Pematang Raya Kabupaten Simalungun.
Mengapa di Pematang Raya, bukan di Kota Siantar tempatnya menuntut ilmu di USI? Ternyata, tinggal bersama dua saudara kandungnya, termasuk adik yang bersekolah di Pematang Raya.
“Sudah tujuh bulan aku tinggal di kontrakan bersama kakak dan adik. Karena adek sekolah di Raya, jadi biar ada kawan nya kami kontrak rumah lah di Raya,” ungkap Indah, Minggu (30/5/2025).
Keputusannya untuk merantau memiliki beberapa alasan. Diantaranya, karena tidak lolos di Universitas Negeri dan kebetulan ada kakak nya yang di Universitas Simalungun Semester VI 6.
Menurutnya merantau tak semudah yang dibayangkan. Jauh dari orang tua, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan masalah keuangan menjadi tantangan utama yang dihadapi.
“Biaya makan sehari-hari harus pintar-pintar mengatur dan masak sendiri biar lebih hemat, karena kalau beli terus cepat habis uang,” ujarnya.
Indah juga harus membayar biaya listrik, air, dan kuota internet untuk setiap bulan.
“Kalau lupa bisa nunggak. Tapi yang paling berat itu harus bisa menyisihkan uang untuk keperluan mendadak, misalnya kalau tiba-tiba sakit,” tambahnya.
Masalah ongkos ke kampus di Kota Siantar, juga jadi beban tersendiri baginya. Karena harus benar-benar dapat ngatur uang yang dikirim tiap bulan. Uang digunakan untuk membeli hal-hal yang dianggap perlu saja.
Indah juga mengeluhkan perbedaan cuaca yang cukup ekstrem dibanding daerah asalnya. Karena di Pekanbaru terkenal panas, sementara di Raya lebih sering hujan dan suhunya dingin. Sehingga Indah mengaku sering sakit, demam dan pilek
Indah berharap setelah lulus kuliah dapat mengembangkan ilmu dan keterampilan yang sudah diperoleh selama kuliah agar dapat bermanfaat dalam dunia kerja dan kehidupan.
” Saya ingin membalas semua pengorbanan dan doa orang tua saya bukan hanya dari materi tetapi sikap dan tanggung jawab,” harapnya.
Senada dengan pernyataan Intan Roma Dearni Purba (19), mahasiswi Semester II dari Fakultas Keguruan sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Berasal dari Pematang Raya, yang kos di sekitaran kampus Universitas Simalungun.
“Aku uda delapan bulan jadi anak kos, untuk kelancaran kuliah soalnya, biar dekat aja soalnya banyak kegiatan di kampus. Nggak tahan juga kalau setiap hari harus naik bus,” jelas Intan.
Tantangan terbesar baginya mengatur keuangan sendiri antara biaya tugas kuliah, biaya pribadi dan lain nya. Untuk itu intan mendahulukan kepentingan pribadi.
“Kalau buat makan, kadang masak apa yang ada aja. Sering juga bawa bahan makanan dari kampung, agar bisa tahan seminggu,” ujarnya sembari mengatakan berusaha mencoba mencari penghasilan tambahan dengan menjadi joki tugas.
Intan berharap bisa terus kuat, sukses, dan membahagiakan orang tua sehingga ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal hidup dimasa depan.
Sementara Asri Saragih (20), mahasiswi Semester IV Program Studi PPKn FKIP asal Sipoldas, Kabupaten Simalungun, juga berbagi pengalaman tentang kehidupan sebagai anak kos.
“Saya udah ngekos empat bulan. Alasannya karena biaya kos murah dan sekarang lagi PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan), jadi lebih praktis tinggal dekat kampus,” katanya.
Namun, seperti dua mahasiswi sebelumnya, Asri juga merasakan berat mengatur keuangan sendiri.
Karena kalau tidak kos atau tinggal bersama orang tua, makan dan belanja aman. Tapi sejak kos, semuanya harus dipikirkan apalagi biaya makan, uang dari orang tua pas-pasan, jadi harus pandai mengatur keuangan.
“Kalau gak ngekos ribet pulang balik, tapi kalau ngekos lambung bermasalah,” katanya mencoba mencairkan suasana dan menyampaikan harapannya dengan cara yang unik dan jujur.
“Mudah-mudahan aku bisa jadi diriku sendiri yang lebih waras lagi. Soalnya selama aku ngekos, aku gila tapi tetap waras. Semoga orang tuaku nggak capek menghadapi anaknya yang seperti ini.” tutupnya tertawa kecil. (Penulis: Maisyaroh Purba, Peserta Pelatihan Dasar-Dasar Jurnalistik UKM Pers Sastra Universitas Simalungun)






