SIMALUNGUN, SENTER NEWS
Kenaikan harga jual cabe merah di pasaran sampai Rp 40 ribu per kilogram dan tomat Rp 18 ribu per kilogram, membuat petani yang saat ini memasuki masa panen tersenyum manis. Karena keuntungan yang diperoleh begitu menjanjikan.
“Kalau harga cabe di pasaran sampai Rp 40 ribu per kilo, harga jual kita kepada saudagar atau pengumpul Rp 34 ribu per kilogram,” kata Roman Sipayung (25), petani dari Nagori Silau Marawan, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, Kamis (1/2/2024).
Roman yang sengaja langsung menolak cabe merah ke Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan Kota Siantar itu mengatakan, saat ini petani cabe banyak sedang memasuki masa tanam. Namun, tetap ada yang sedang panen. Sehingga, harga jual naik.
“Harga jual naik karena pasokan cabe di pasaran sedang sepi,” kata petani cabe yang memiliki hamparan hampir seluas satu hektar itu. Dikatakan, petani harus punya perhitungan kapan dilakukan masa tanam dan kapan masa panen dan saat panen tiba harga tetap di atas rata-rata. Hal yang paling memuaskan juga, saat harga cabe sempat Rp 100 ribu perkilogram, petani tersenyum lebar. Karena harga jual sampai Rp 90 ribu. Jadi, keuntungan yang diperoleh membuat petani yang punya hamparan luas, banyak beli mobil baru.
Namun, paling mengawatirkan, saat cabe dari pulau Jawa seperti dari Brebes yang disebut cabe kotak melimpah di pasaran. Harga cabe lokal dipastikan anjlok. “Panen raya di pulau Jawa sangat berpengaruh dengan harga cabe lokal,” katanya sembari mengatakan saat harga jual Rp 13 ribu kepada pengumpul, petani sebenarnya sudah untung tapi sangat tipis.
Roman mengatakan, selain menanam cabe, petani di Nagori Silau Marawan juga banyak menanam tomat yang saat ini harganya di pasar juga melejit Rp 16 ribu sampai Rp 20 ribu.
“Ya, harga tomat juga naik dan harga tolak petani untuk tomat berkualitas sampai Rp 14 ribu per kilogram,” imbuhnya sembari mengatakan menanam tomat tidak serumit menanam cabe. Dan, kalau harga tomat sedang naik, petani banyak langsung memanen meski belum begitu merah karena harganya tetap di atas rata-rata.
Namun, saat harga tomat sempat anjlok sampai Rp 3000 per kilogram, petani tak mau memetik tomat. “Dibiarkan busuk begitu saja karena kalau dipetik hanya tinggal capeknya saja,” kata Roman lagi.
Pantauan di Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan kota Siantar, harga eceran cabe merah saat ini sampai Rp 40 ribu meski ada yang menjual Rp 30 ribu perkilogram tetapi cabe yang memang sudah layu dan kurang berkualitas.
Namun, cabe yang sudah layu atau tidak segar itu tetap diburu konsumen karena saat tiba di rumah langsung diblender dan dimaasukkan ke kulkas. Biasanya itu dilakukan para pedagang makanan yang menggunakan bahan cabe.
Seperti pengakuan Dina (41), pedagang nasi di Kelurahan Melayu, Kecamatan Siantar Utara. “Kalau harga cabe naik, kita terpaksa pintar-pintar membeli cabe yang harganya murah. Kalau beli harga mahal, keuntungan pasti tipis. Sedangkan kita penjual nasi tidak mungkin menaikkan harga,” katanya. (In)






