Catatan: Imran Nst
Generasi milenial Kota Siantar, apalagi kelahiran tahun 2000-an ke atas, pasti banyak tidak mengetahui keberadaan becak yang ditarik motor gede BSA (Birmingham Small Arms), peninggalan Perang Dunia II antara tahun 1939-1945.
Padahal, benda yang dibawa Inggris untuk bergabung dengan Tentera Sekutu membantu Belanda kembali menjajah Indonesia tersebut, begitu fenomenal. Meski pabrik BSA di Birmingham tutup tahun 1973, becak BSA masih gagah mengitari jalan menurun dan mendaki kota Siantar nan berbukit.
Sebagai angkutan umum yang tidak ditemukan di berbagai belahan bumi lain, becak BSA disebut sebagai salah satu ikon kota Siantar. Bahkan, tahun 2025, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadikannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Bercerita tentang masa kejayaan becak BSA yang kepanjangannya menjadi “Becak Asli Siantar” di tahun 1990-an ke bawah, bukan saja unik. Lebih dari itu mengangumkan.
Seperti penuturan abang becak “senior” yang sudah punya Komunitas BSA “Becak Asli Siantar”. Akrab disapa dengan, Pak Ucok (63) dan Pak Ismail (61) serta Pak Azis (62).
Sebut saja Persatuan Sepakbola Roda Tiga Siantar (Portis) di era 90-an ke bawah yang pemainnya terdiri dari para abang becak maupun para keluarganya sendiri.
Ketika menjadi peserta kompetisi Persatuan Sepakbola Siantar (Persesi) dan bertanding di lapangan H Adam Malik (Simarito-dulu) atau Stadion Sang Naualuh (Martoba-dulu), penggemarnya begitu membeludak.
Kalau Portis berhasil mengalahkan lawan dan pertandingan usai, becak yang diparkirkan di tepi jalan sekitar lapangan atau sekitar stadion, langsung dihidupkan. Sehingga, suara mesinnya begitu bergemuruh pertanda suka.
Selain itu, para bang becak BSA yang tergabung di Portis atau abang becak BSA pecinta sepakbola lainnya, nekat menembus jalanan sepanjang 130 Km dari Siantar ke stadion Teladan Medan, menonton PSMS Medan bertanding pada Piala Marah Halim Cup.
Piala Marah Halim Cup (1972-1990) diikuti klub ternama dalam negeri dan luar negeri seperti dari negara ASEAN, Korea, Jepang, Inggris bahkan Jerman dan negara Arab.
Apalagi kalau PSMS Medan masuk semi final dan final, puluhan abang becak BSA bertambah ramai konvoi menunggangi kenderaan masing-masing. Sehingga, deru suara mesin yang bergemuruh mampu menarik perhatian masyarakat di setiap kota yang dilalui.
“Waktu melintasi setiap kota, becak kita mampu menarik perhatian masyarakat dan mereka teriak, “Becak Siantar lewat, pinggir-pinggir, kata mereka,”. Itu membuat kita bangga,” beber Pak Ucok mengenang masa lalu.
Selain Portis, para abang becak BSA yang memiliki bakat seni. Khususnya musik, membentuk group band “The Gawel”. Selalu tampil pada acara-acara pekawinan dari kampung ke kampung dan begitu menghibur.
“Kalau The Gawel main, pasti ramai apalagi waktu itu belum ada hiburan seperti musik kibot,” kata Pak Ismail sembari mengatakan, ada juga “The Gawel” yang khusus menampilkan seni budaya daerah.
Becak BSA di masa jayanya juga sumber pencarian menghidupi keluarga dan tidak sedikit para abang becak BSA mampu mengantar putra-putrinya kuliah meraih gelar sarjana.
“Dengan menarik becak BSA, saya bisa kuliahkan anak. Satu di Universitas Sebelas Maret, Purwakarta dan satu lagi di Siantar,” kata Pak Aziz.
Di subuh buta, saat kedua anaknya masih tidur, Azis keluar rumah menembus Siantar berembun, mencari sewa. “Pulangnya larut malam dan anak-anak yang saat itu masih kecil sudah tidur,” kata Azis bercerita kisahnya di era 1990-an.
Penghasilan menarik becak, sebagian ditabung dalam peti. “Waktu mengkuliahkan anak, banyak beranggapan anak saya akan putus di tengah jalan karena kekurangan biaya. Mungkin sepele dengan penghasilan penarik becak,” katanya.
Nyatanya, kedua anaknya berhasil meraih sarjana dan sekarang sudah punya pekerjaan tetap yang cukup lumayan.
“Kalau mengingat perjuangan saya dengan becak BSA, rasanya merinding,” katanya mengaku, di usia tergolong senja sekarang, masih tetap menarik becak BSA meski tidak begitu rutin dan becak BSA miliknya masih terawat dan tampak gagah. (Bersambung…)






