SIANTAR, SENTERNEWS
Kuliah Umum yang disampaikan Wakil Menteri (Wamen) HAM, Mugiyanto bertajuk, “Membangun sinergitas dunia kampus dalam penegakan HAM “, di Universitas Simalungun (USI) Kota Siantar, Jumat (16/5/2025), mengudang kekecewaan sejumlah mahasiswa.
Gideon Surbakti Ketua BEM Fakultas Teknik mengetakan,. Kekecewaan itu muncul karena mahasiswa hanya sebagai pendengar. Tidak ada dialog interaktif. “Kita kecewa hanya sebagai pendengar tanpa ada tanya jawab atau dialog,” katanya, Sabtu (17/5/2025).
Karena itu, setelah Wamen selesai menyampaikan kuliah umum, Gideon mengatakan, ada mahasiswa yang berdiri sambil tunjuk tangan sembari berteriak, “Dimana tanya jawabnya? Apakah ini namanya kuliah umum? mahasiswa dibungkam?”

Dijelaskan juga, usai poto bersama dan Wamen serta beberapa pihak ingin keluar dari ruang auditoriun sebagai lokasi kuliah umum, sejumlah mahasiswa berusaha mendatangi Wamen .
Dan, Reynaldi Manik, Ketua Komisariat GMNI Teknik USI yang mendekati Wamen mengatakan, sesi tanya jawab sangat ditunggu-tunggu mahasiswa.
“Ketua Komisariat GMNI itu bilang kepada Wamen, kami mau berdialog dan menyampaikan asprasi kami juga,” kata Gideon menirukan Reynaldi Manik.
“Setelah itu, saya sebagai Ketua BEM Fakultas Teknik mengatakan kepada Wamen,”Kita mahasiswa kaum intelektual pak, tak sepantasnya hanya mendengar saja, kami berharap ada interaktif,” katanya.
Salah satu yang ingin dipertanyakan mahasiswa menurut Gideon, bagaimana tanggapan Wamen terkait pemukulan yang dilakukan oknum anggota DPRD Siantar Fraksi Partai Nasdem yang juga menjadi ketua komisi I.
Namun, saat itu Wamen malah balik bertanya,”Siapa? Anggota DPRD yang mana?” .
Meski mahasiswa ingin mendapat jawaban yang konkrit dari Wamen, dialog itu akhirnya terhenti karena salah seorang ajudan Wamen menarik Gideon Surbakti. “Dialog terhenti karen saya ditarik salah seorang ajudan Pak Wamen. Kemudian, Pak Wamen Murgiyanto meninggalkan pelataran auditorium,” kata Gideon.
Gideon dan beberapa mahasiswa mengatakan, kuliah umum itu seharusnya menjadi tempat yang solutif, melahirkan gagasan gagasan dan ide ide baru dalam upaya menuntaskan permasalahan HAM di Indonesia. Terlebih di Kota Siantar.
“Kami menduga ada pihak tertentu yang mungkin takut kalau dilakukan tanya jawab,” kata Gideon mengakhiri. (In)






