Penerapan Kurikulum Merdeka di Kota Siantar, menuai masalah bagi sejumlah orang tua. Pasalnya, membuat guru ada tidak masuk sampai dua minggu. Sementara, siswa diberi bahan atau tugas untuk dipelajari.
“Ada orang tua bertanya soal Kurikulum Merdeka itu kepada saya. Tapi, bukan SD atau SMP, melainkan SMA dan itu sudah saya sampaikan langsung kepada Plt Kadis Pendidikan, ak Manurung saat rapat kerja (Raker) pembahasan Rancangan APBD 2024,” kata Hendra P Pardede, anggota DPRD Siantar dari Komisi II, Jumat (17/11/2023).
Lebih tegasnya saat Raker pembahasan Rancangan APBD Siantar Tahun Anggaran (TA) 2024, Kamis (16/11/2023) bersama Komisi II itu, Hendra menyampaikan kegalauan orang tua murid terkait Kurikulum Merdeka itu kepada Plt Kadis Pendidikan B Manurung yang hadir didampingi sejumlah staf.
“Penerapan Kurikulum Merdeka ini, kadang kala malah membuat guru yang jadi merdeka. Padahal, kalau sebelumnya siswa yanag merdeka kalau guru tidak datang. Kalau sekarang guru yang malah tidak datang bahkan ada sampai dua minggu,” kata Hendra.
“Mohon maaf, saya tidak bicara SD dan SMP, tapi SMA. Ada beberapa orang tua bertanya kek mananya Kurikulum Merdeka ini. Kadang tiga minggu tak datang gurunya dan siswa diberi tugas. Orang tua jadi bingung,” kata Hendra lagi.
Karena yang menangani sekolah tingkat SMA merupakan pemerintah propinsi Sumatera Utara, Hendra menyarankan agar Komisi II DPRD Siantar mengundang Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatera Utara yang berkantor di Kota Siantar.
Namun, kalau Kurukulum Merdeka dimana guru tidak masuk dan siswa diberi tugas terjadi di SD dan SMP, pihak Dinas Pendidikan diminta untuk turun ke sekolah. “Tolong sampaikan Kurikulum Merdeka disampaikan seperti apa. Khususnya kepada para guru. Sekaligus supaya memberi masukan,” kata Hendra.
Menanggapai pernyataan itu, Plt Kadis Pendidikan B Manurung mengatakan, soal penerapan kurikulum merupakan ke wenangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan meski setiap tahun kurikulum pendidikan di Indonesia selalu berubah.
Namun demikian, Plt Kadis Pendidikan itu mengatakan bahwa pelajar SMA menurutnya selalu menjadi sasaran penjaringan razia kasih sayang untuk menertibkan pelajar yang berkeliaran saat jam sekolah.
“Khusus tentang siswa yang bolos sekolah paling banyak SLTA. Bukan hanya dari Kota Siantar. Tetapi pelajar dari Kabupaten Simalungun yang datang ke Kota Siantar juga,” kata Manurung sembari mengatakan salah satu lokasi bolos sekolah adalah Pasar Horas. (In)






