Sebagai seorang Bakal Calon Legislatif (Bacaleg), Lemhot dari Partai Lama Tapi Baru (PLTB), sempat suntuk dan kawatir dengan hasil verifikasi administrasi KPU. Karena namanya belum memenuhi persyaratan untuk masuk Daftar Calon Sementara (DCS).
Padahal, sebagai pengusaha muda yang baru terjun ke dunia bisnis meski kecil-kecilan, Lemhot merasa serius mengurus berbagai surat-surat dan dokumen kelengkapan untuk dapat maju merebut salah satu kursi dari 30 kursi di DPRD Kota.
Maka, dengan wajah tampak kusut dan kening berkerut tujuh seperti uang kertas lama yang nyaris tak laku, Lemhot bolak balik dari teras rumah ke dapur tempat istrinya sedang memasak nasi dan lauk pauk untuk santapan siang.
Ternyata, sang istri melihat gelagat Lemhot sang suami yang tampaknya agak lain dari biasa. Sehingga, dia bertanya, “Ada apa pula abang ini bolak balik ke dapur seperti orang mencari istri yang pergi tanpa permisi sejak pagi ? Ada apa bang?”.
Dituding bingung seperti mencari istri karena pergi tanpa permisi, Lemhot sebenarnya ingin marah. Tapi, karena sang istri sedang menggiling cabe merah bercampur cabe rawit, marah yang seperti menggumpal di kening, ditahannya supaya tidak naik ke ubun-ubun.
“Masak saja la kau, nanti ku beritau,” ujar Lemhot dengan nada pelan tapi terdengar ketus bagai suara ikan kelotok yang digoreng pakai minyak panas. Kemudian, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, melangkah lagi ke ruang tamu.
Jelang beberapa saat, sang istri yang selesai memasak menghidangkan nasi dan lauk pauk di atas meja makan sembari memanggil sang suami untuk bersantap siang. “Bang, sudah masak ini, ayo makan. Apa perut abang tidak lapar? “ kata sang istri dengan nada agak keras supaya didengar sang suami.
Selanjutnya, dengan langkah pelan tapi pasti, Lemhot yang wajahnya masih tampak kusut memenuhi panggilan sang istri dan duduk dikursi menghadap makanan dan lauk pauk yang siap untuk disantap.
“Yang penting makan saja dulu. Setelah perut kenyang baru enak berpikir untuk menyelesaikan masalah. Taunya aku abang seperti punya masalah,” ujar sang istri sembari menyendokkan nasi ke piring dan disajikan kepada Lemhot sang suami.
Tanpa suara dan tanpa kata, Lemhot mengambil ikan kelotok sambal goreng dan daun ubi rebus campur sayur jipang pakai sambal belacan yang kalau di pulau Jawa disebut sambel terasi. Kemudian, nasi disuapkan ke mulut menggunakan tangan sendiri.
“Bah! Pedas kali kurasa sambal belacanmu ini? Apa karena harga cabe sedang murah?” tanya Lemhot sambil meneguk air hangat dalam gelas kemudian mengunyah makanan lagi dan ditelan lewat tenggorokan.
“Ya, harga cabe memang sedang murah. Jadi, sengaja dipedaskan. Kalau tidak pedas abang suka protes. Tapi, enakkan bang? Tambuhlah abang, tambuh,” kata sang istri mendekatkan nasi ke sebelah piring makan suaminya.
“Bukan karena masakanmu yang tak enak, aku kurang selera makan karena hatiku juga sedang tidak enak,” kata Lemhot yang kemudian mencuci tangan dari air dari dalam baskon kecil pertanda makan siang tuntas.
Lemhot yang masih tetap diam di tempat, memandangi mulut sang istri mengunyah makanan plus lauk pauk. Selanjutnya, selesai sang istri menunaikan hak mengisi sejengkal perut sebagai kebutuhan pokok agar tidak lapar, Lemhot bicara lagi.
“Kau la dulu, sebagai istri tentu ikut susah kalau suamimu ini tidak lolos menjadi Bacaleg. Padahal, aku sudah berusaha ingin memberikan yang terbaik supaya nantinya bisa duduk menjadi anggota dewan,” ujar Lemhot dengan nada serius.
“Bah! Itunya rupa masalah yang membuat kening abang berkerut-kerut dan rambut jadi kusut karena garuk-garuk kepala walaupun tidak gatal? Teringatnya, dari mana abang tau terancam batal menjadi anggota dewan?” tanya sang istri lebih serius.
“Dari mana kau bilang? Tadi Wasek atau wakil sekretaris partai menelponku dan bilang begitu samaku. Masak aku tidak percaya sama dia? Dia itu sarjana dan sudah berpengalaman dalam perpolitikan,” jawab Lemhot.
“Bukan masalah sarjana atau tidak karena banyak sarjana yang asal-asalan dan sekripsinya malah diupahkan dan waktu meja hijau dapat nilai bagus,” kata sang istri menimpali.
“Ekh, kok jadi meluas dan menyinggung soal sarjana. Memang mungkin ada sarjana seperti kau bilang. Tapi, kalau wakil sekretaris partai kami, aku yakin tidak begitu,” ujar Lemhot.
Meski sempat terjadi perdebatan kecil antara keduanya, sang istri akhirnya memberi saran kepada suaminya agar mendatangi sekretariat partai politik (Parpol) yang mengusung Lemhot menjadi Cacaleg dan akhirnya akan dijadikan Caleg.
“Kek mana kalau ku telpon aja?” tanya Lemhot sambil mengambil tusuk gigi karena ada sayur daun ubi yang terasa menyelip di sela-sela giginya.
“Terserah abang aja,” ujar sang istri dan Lemhot langsung mengambil HP menghubungi Wakil sekretatis Parpol. Namun, beberapa kali dihubungi, ternyata tidak diangkat. “Bah, tak diangkat pula teleponku,” kata Lemhot.
“Kalau begitu langsung aja kita datang ke kantor,” kata sang istri memberi saran dan saran itu diterima Lemhot. “Kalau begitu mandi la dulu aku,” ujarnya.
“Ya, aku memberesi piring-piring. Pokoknya lebih cepat lebih baik,” jawab sang istri.
“Betul kau bilang, lebih cepat lebih baik dan lebih cepat pula aku bisa jadi wakil rakyat. Jadi, mandi la aku dulu,” kata Lemhot.
Selesai mandi, Lemhot masuk kamar mengenakan seragam kebesaran Parpol berwarna abu-abu. Kemudian, berangkat ke kantor partai bersama istri yang tampak lebih cantik dan anggun dibanding saat memasak di dapur.
Dengan menunggang sepeda motor Honda yang dibeli bukan dari hasil kredit, mereka keluar dari rumah menuju kantor PLTB. Setiap berpas-pasan dengan warga, langsung ditegur sambil senyum. Karena, meski masih Bacaleg harus ramah agar dibilang merakyat.
Begitu juga dengan sang istri yang berada di boncengan. Sebab, jangan pula suami baru menjadi Bacaleg sudah dibilang sombong. Bagaimana pula kalau sudah dapat kursi menjadi wakil rakyat di jajaran legislatif?
Ternyata, tiba di sekretariat atau kantor Parpol PLTB, sudah banyak orang yang juga berstatus Bacaleg. Tapi, mereka tidak didampingi istri dan tidak ada mengenakan seragam kebesaran partai. Karena itu, Lemhot jadi tertanya-tanya di dalam hati yang bimbang.
Dengan langkah yang ditegap-tegapkan mirip personel Satpol PP yang siaprazia pedagang kaki lima dan meninggalkan sang istri begitu saja dekat sepeda motor yang diparkirkan di depan kantor, Lemhot langsung masuk menemui Wasek PLTB.
“Ada apa Wasek? Ada apa ini?” tanya Lemhot tidak menyadari puluhan pasang biji mata sedang mengarah kepadanya. Sementara, suasana terasa hening seperti ada jin buang anak.
“Apa pula kau, baru datang langsung ngerocos kayak entok belum makan. Tunggu di sana. Kita sedang menunggu ketua yang OTW menuju ke sini,” ujar Wasek dengan tegas sehingga Lemhot tampak mundur dengan langkah yang tidak teratur.
Menghadapi situasi itu, Lemhot jadi penasaran dan bertanya kepada seorang di sebelahnya yang juga Bacaleg. “Ada apa ini bung? Kok rame kantor kita, apa ada yang sangat amat penting?” . Namun yang ditanya diam saja seperti tanpa ekspresi.
Jelang beberapa saat, Ketua PLTB yang ditunggu-tunggu datang didampingi sekretaris dan antek-anteknya. “PLTB Jaya!” teriak sang ketua yang langsung dijawab para Bacaleg dan pengurus partai dengan gemuruh,” Yes! Yes! Ok! Ok!” .
“Sekarang tenang! Sekali tenang tetap tenang!” teriak sang ketua lagi dan para personel lainnya langsung menyambut “Hidup Tenang!!”.
“Ternyata, bukan Bacaleg dari partai kita saja yang belum memenuhi persyaratan masuk Daftar Calon Sementara atau DCS. Tapi, dari 18 partai peserta Pemilu 2024. Dari 482 Bacaleg yang didaftarkan hanya 10 orang yang baru memenuhi persyaratan,” kata ketua.
Untuk itu, ketua kembali mengatakan agar semua Bacaleg tetap tenang karena masih ada perbaikan selama dua minggu ke depan dan pengurus PLTB segera menuntaskannya. “Jadi, sekali tenang tetap tenang! ” kata ketua yang disambut para Bacaleg, “Hidup tenang!!”.
Pada kesempatan itu, seluruh Bacaleg PLTB seperti tersugesti dengan retrorika sang ketua dan saat diminta kembali ke rumah masing-masing, para Bacaleg akhirnya menurut tanpa ada protes.”Koordinasi akan dilakukan lewat WA group,” imbuh ketua.
Sama seperti Lemhot dan istri yang juga pulang ke rumah menunggangi sepeda motor. Sampai di rumah, Lemhot bilang, “Pokoknya aku percaya kepada ketua. Dan, aku yakin pasti lolos jadi Caleg. Setelah itu berjuang merebut suara terbanyak dan jatah satu kursi di DPRD jadi milikku dan kau akan berstatus istri anggota dewan,” ujar Lemhot kepada sang istri.
“Aku yakin bang dan kita harus optimis!” kata sang istri kepada Lemhot yang masuk ke kamar. Dan sang istri yang sudah menutup pintu depan rumahnya, mengekor ikut masuk kamar. (Bersambung)
(Penulis Pemred SenterNews)






