Setelah kembali dari kantor Partai Lama Tapi Baru (PLTB), Lemhot sebagai Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) yang belum memenuhi syarat masuk Daftar Calo Sementara (DCS) langsung masuk kamar. Sehingga, istrinya yang juga masuk kamar, seperti bingung.
Bingung bukan karena melihat suami bilang ingin tidur dengan alasan capek. Bukan pula bingung karena ingin berbincang-bincang lebih serius bagaimana kalau sudah ditetapkan menjadi Caleg. Kemudian berjuang merebut suara terbanyak supaya dapat jatah kursi di DPRD.
Tapi, sang istri bingung karena suaminya justru berbaring tanpa membuka seragam partai. “Bang! Kalau tidur buka dulu seragamnya. Tidur kok seperti mau ikut rapat, pakai seragam,” ujar sang istri yang akrab dipanggil dengan nama Selpi.
“Jangan ganggu dulu, aku capek, mau tidur. Biarkan aku pakai seragam supaya tidur ku lebih nyenyak,” kata Lemhot yang malah memeluk bantal guling dan sang istri belum juga dapat membunuh bingungnya.
Namun, meski di kepala ada rasa bingung dan dihati jadi bertanya-tanya mengapa suaminya bertingkah agak lain dari biasanya, sang istri akhirnya keluar dari kamar. Kemudian, keluar dari rumah, berjalan menuju warung terdekat untuk membeli kopi.
Masalahnya, kalau sang suami sudah bangun dan selesai mandi, selalu minta dibuatkan kopi . Sementara, persediaan kopi di dapur sudah habis. “Mak, beli kopi black cap hitam satu bungkus,” kata Selpi kepada perempuan pemilik warung yang usianya sudah memasuki senja dan dipanggilnya, Mak.
“Selpi, cantik kali kau, seperti mau pesta? Dimana pestanya?” tanya Mak yang menyunggingkan sekuntum senyum di bibir yang telah layu sembari menerima selembar uang kertas Rp 20 ribu seharga kopi yang telah diterima Selpi.
“Tidak kemana-mana Mak, tadi dari kantor partai menemani abang. Tapi, kalau soal pesta masih lama Mak,” kata Selpi yang membuat pemilik warung kembali bertanya,” Pesta apa lagi dan kapan?”.
“Wah, pestanya masih 2024 Mak, pesta rakyat alias Pemilu. Untung la Mak bertanya supaya jangan lupa mencoblos suami saya,” ujar Selpi lagi kemudian mengucapkan terimakasih kepada penjaga warung yang masih tampak tersenyum.
Saat sampai ke rumah, Selpi mendengar ada suara sayup-sayup yang semula pelan dan semakin lama bertambah jelas. Ketika masuk kamar, ternyata Lemhot suaminya malah mendengkur atau “ngorok” pertanda tidurnya memang ‘nyenyak alias pulas.
Untuk tidak mengganggu sang suami tidur meski hari masih siang bolong, sang istri diam saja. Setelah mengganti pakaian, keluar lagi dari kamar dan duduk di kursi teras sambil membaca koran terbitan minggu lalu. Tapi, masih enak dibaca karena beritanya masih hangat.
Setelah membaca beberapa berita, Selpi masuk ke rumah dan berencana ingin menuju dapur. Namun, saat melewati pintu kamar tidur, perempuan itu mendengar suara suaminya seperti sedang berbicara.
Kalau bicaranya biasa saja mungkin bisa saja sedang bertelpon. Tapi, suara itu lain dari pada yang lain. Karena penasaran, Selpi masuk ke kamar. Ternyata, apa yang dilihat perempuan itu benar. Lemhot yang masih tertidur, ternyata sedang mengingau.
Karena semakin penasarannya, Selpi tidak membangunkan suaminya. Tapi, ingin mendengar apa yang diigaukan dan suaminya ternyata berkata-kata tentang PLTB yang mengusung suaminya menjadi Bacaleg tetapi belum memenuhi persyaratan.
“Terimakasih ketua, ternyata aku lolos juga menjadi Caleg. Buktinya namaku sudah tercantum dalam DCS. Pokoknya PLTB Jaya! Yes! Yes! Ok! Ok!” kata Lemhot mengucapkan yel-yel partai tetapi dengan kedua bola mata yang masih terpejam.
Melalui igauannya itu juga, Lemhot mengatakan siap meraih kursi untuk PLTB di DPRD. Tak ada yang dia kawatirkan sebagai Caleg walaupun berada di Daerah Pemilihan (Dapil) “neraka” karena banyak Caleg “raksasa”. Bahkan ada yang mendapat dukungan dari penguasa elit kota sebagai ketua “Partai Alamak Nego”.
“Rakyat harus cerdas! Sekali cerdas harus cerdas. Hidup cerdas! Hidup cerdas!” kata Lemhot lagi membuat istrinya semakin bingung karena kurang paham dengan apa yang disuarakan sang suami.
Di antara rasa bingung itu, Selpi mendengar suara pintu depan rumah ada yang mengetuk. Lantas, meninggalkan sang suami yang sempat berhenti mengingau. Selanjutnya, melangkah keluar kamar dan membuka pintu depan.
Ternyata yang datang pengelola sablon untuk mengantarkan bon karena pesanan sudah selesai. Seperti, beberapa lembar spanduk bergambar Lemhor menggenggam tangan ke udara sambil berteriak. Empat lusin kaos yang juga bergambar Lemhot yang juga menggenggam tangan sambil teriak, beserta kartu nama.
“Ibu, mana bapak Lemhot? “ tanya lelaki itu menyoodorkan bon kepada Selpi dan melihat bon itu jumlah uang tertulis sekitar Rp 8,5 juta.
“Ekh, Bapak lagi tidur, dia sedang istrahat. Pokoknya nanti saya bilang dan akan saya minta segera datang ke kios menemui abang untuk mengambil pesanan,” ujar Selpi meyakinkan lelaki pengantar bon yang akhirnya percaya kemudian permisi tetapi sempat berkata,” Saya tunggu ya,” ujarnya melangkah meninggalkan Selpi yang berdiri di ambang pintu.
Selanjutnya, Selpi menutup pintu depan rumah, melangkah masuk kamar dan kembali mendengar sang suami kembali mengigau. Bahkan, igauannya lebih unik dari sebelumnya. Dikatakan unik karena jarang dia dengar.
“Horree! Sekarang tinggal selangkah lagi duduk menjadi wakil rakyat. Pokoknya sekali wakil rakyat tetap wakil rakyat selama lima tahun. Pokoknya, pokoknya selangkah lagi tinggal pelantikan,” kata Lemhot.
“Bang! Bangun bang! Bangun!” kata Selpi menggoyang-goyang tubuh suaminya. Tapi, Lemhot malah mengatakan, “Jangan berisik. Ini sudah di depan mata!” kata Lemhot.
Karena Selpi sang istri menilai bahwa igauan suaminya semakin kacau, tubuh Lemhot akhirnya digoyang lagi dengan kuat hingga Lemhot tersentak bangun.
“Abang ‘ngaur, “ ujar sang istri. “Ngaur apa kau bilang, sekarang tinggal pelantikan!” kata Lemhot.
Pelantikan apa? Pemilu aja masih lama dan abang juga belum masuk DCS. Sadar bang, sadar!” kata Selpi yang akhirnya membuat sang suami mulai sadar. Bahkan, semakin sadar ketika disodorkan bon berupa tagihan uang Rp 8,5 juta.
“Siapa yang mengatar ini?” tanya Lemhot yang kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah masuk kamar mandi untuk cuci muka. Kemudian berkata,” Wah, belum ada uang untuk membayar spanduk itu. Apa ada uang mu? Atau kita bisa minjam dari orang tuamu?” kata Lemhot.
“Buyar semua, buyar. Kupikir aku tinggal dilantik!” kata Lemhot sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Kemudian, bingung dari mana mencari uang untuk menebus spanduk dan kaos serta kartu nama yang kata pihak sablon sudah selesai dan tinggal diambil.
Tapi, meski sempat bingung, Lemhot tetap optimis akan memperoleh kursi di DPRD Kota. Karena, semua tergantung dari garis tangan! (***)
(Penulis, Pemred SiantarNews)






