SIANTAR, SENTER NEWS
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Plus Kota Siantar, ternyata memiliki kelebihan yang cukup membanggakan. Karena, dengan kata “plus” sekolah yang memiliki 1.115 siswa itu, dilengkapi dengan Tata Busana (Tabus) dan THP (Teknologi Hasil Pangan (THP).
Namun, meski memiliki Tabus yang dapat membuat seragam sekolah dan dijadikan untuk praktek mata pelajaran keterampilan dan ekstra kurikuler, para siswa dan siswi tidak diwajibkan membeli seragam dari sekolah.
Tidak wajibnya membeli seragam dari sekolah menurut Kepala Sekolah MAN Lintong Sirait, untuk menepis adanya informasi yang berkembang bahwa anak didik diwajibkan membeli seragam dari MAN pada tahun ajaran 2023-2024.
“Tak ada kewajiban anak didik membeli seragam dari MAN ini. Tapi, kalau pakai seragam, anak didik wajib pakai seragam saat masuk sekolah untuk melakukan proses belajar dan mengajar,” ujar Lintong Sirait di ruang kerjanya, Sabtu (24/6/2023).
Dijelaskan, kalau anak didik tidak bersedia membeli seragam dari MAN, silahkan membeli dari luar. Namun ada ketentuan yang harus dituruti. Antara lain, soal bahan pakaian dan model pakaian khususnya untuk pelajar perempuan yang cendrung model syariah atau Islami.
Keberadaan Tabus dikatakan untuk mempermudah anak didik memiliki seragam putih abu-abu, pramuka dan batik sesuai dengan ketentuan yang ditentukan, Lebih khusus untuk pelajar wanita dilengkapi dengan hijab yang standart.
“Soal harga, kalau ada yang mengatakan mahal, kita pikir jangan dibandingkan dengan harga pajak. Yang jelas, harga dari kita di MAN, di bawah harga toko pengadaan seragam sekolah di Indah Sari,” ujarnya.
Kemudian, bagi siswa dan siswi yang bangnya tamatan MAN dan masih memiliki seragam yang layak, siswa tersebut tidak perlu harus membeli dari MAN atau dari luar. “Ya, kalau ada abang atau kakak dari siswa atau siswi itu masih punya seragam, silahkan dipakai,” ujar Lintong Sirait.
Lebih lanjut, Kepala Sekolah mengajak awak koran ini mengunjungi ruangan Tabus yang dikelola guru Keterampilan, Farida Hanum. Dikatakan, peralatan yang tersedia seperti mesin border digital (komputer) mesin jahit pinggir dan mesin jahit lainnya termasuk meja untuk memotong bakal kain menjadi pakaian.
Meski jumlah peralatan masih terbatas, Tetapi, mencukupi untuk praktek anak didilk yang punya minat bidang jahit menjahit. Bahkan, melalui ketrampilan jahit menjahit, ada siswi setelah tamat akhirnya membuka usaha sendiri meski pengetahuannya harus diperdalam lagi.
Farida Hanum, guru Ketrampilan mengatakan, para siswa dan siswi selalu melakukan praktek di ruangan Tabus sesuai mata pelajaran Keterampilan. Namun, ada juga khusus ekstra kurikuler. “Kalau untuk ekstra kurikuler, dilakukan setelah selesai pelajaran atau sore hari, siswanya ada 20 orang,” ujarnya.
Sementara, Kepala Sekolah juga mengajak awak Koran ini mengunjungi ruangan THP yang ternyata menyediakan berbagai perlengkapan alat masak memasak. Mulai dari kompor gas sampai oven dan loyang serta lainnya.
THP untuk membuat berbagai macam roti dan penganan lainnya berada di bawah bimbingan guru Keterampilan, Gunadi asal Lampung yang ditempatkan dari Kementrian Agama.
“Kalau untuk penganan seperti roti, kita sudah ciptakan sendiri khususnya untuk keperluan sekolah saat ada acara,” ujAr Gunasi sembari mengatakan bahwa THP juga menjadi salah satu pelajaran ketrampilan dan ekstra kulikuler.
Terkait dengan Tabus dan THP, Kepala Sekolah MA Lintong Sirait mengatakan, kedepannya akan dilakukan penjajakan dengan Dunia Usaha (DU) dan Dunia Industri (DI). Sehingga, ada produk yang dapat dijadikan sebagai andalan.
“Tapi khiusus untuk dunia usaha dan industrI itu memang harus ada ketentuan yang kita ikuti. Untuk itu, kita akan pelajari lebih lanjut,” ujar Lintong Sirait mengakhiri. (In)






