SIANTAR, SENTER NEWS
Sekelompok mahasiswa Kota Siantar dari “Aliansi Mahasiswa Siantar Memanggil”, gelar Malam Refleksi Mahasiswa Siantar. Berlangsung di Tugu Proklamasi Taman Pariwisata, Kota Siantar, Senin (16/7/2023) mulai jam 20.00 WIB hingga jam 23.00 Wib
Para mahasiswa sekitar 40 orang itu berasal dari Universitas Simalungun, Universitas HKBP Nomenssen, Universitas Efarina, STT Renatus dan STIE Sultan Agung. Mereka juga menuliskan kalimat di atas karton putih, ”Pemilu 2024, Demokrasi di Obral !” dan “’Gerakan!!! Mahasiswa Siantar, Dimana?”.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Mars Mahasiswa serta pengucapan “Sumpah Serapah Mahasiswa”. Sementara, Malam Refleksi Mahasiswa Siantar itu dilaksanakan atas keterpanggilan sejumlah mahasiswa.
Salah seorang mahasiswa, Ardian Napitupul mengatakan, Malam Refleksi Mahasiswa Siantar itu berawal dari hasil bincang-bincang sambil ngopi di salah satu warung kopi di sekitaran Pajak Parluasan Kota Siantar beberapa hari sebelumnya.
”Perhari ini dan malam ini, kita sepakat bahwa kegiatan ini awal dari pergerakan kita kembali. Sepakat teman-teman?” ujar seorang mahasiswa melalui orasinya dan dijawab seluruh mahasiswa dengan kata “Sepakat”.
Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan dialog terbuka antara masyarakat dengan mahasiswa yang isinya terdengar berbagai keluh kesah. Kemudian, ada juga musikalisasi dan pembacaan puisi.
“Kita harus menyadari, saat ini terjadi degradasi terhadap gerakan mahasiswa di Siantar. Untuk itu kita mulai kembali gerakan demi ketercapaian keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai sila ke-5 Pancasila,” kata Kimi salah seorang mahasiswa melalui dialog.
Melalui dialog tersebut mencuat beberapa permasalahan yang menjadi perhatian. Antara lain soal lahan HGU di Kelurahan Gurila yang tak kunjung selesai. Sehingga, Yuda sebagai mahasiswa mengatakan siap melakukan pendampingan bahkan mengadvokasi masyarakat.
Pada dialog tersebut, seorang warga berprofesi sebagai penarik Ojek Online, Suratno memberi semangat. Mahasiswa dikatakan orang-orang hebat yang tidak perlu takut kepada dosen bahkan rektorat.
“Kalian dapat menyuarakan aspirasi masyarakat di pemerintah. Berkuliah itu bukan soal belajar. Tapi bagaimana pengabdian terhadap masyarakat,” ujarnya sangat berharap kepada mahasiswa untuk selalu bersuara terhadap pemerintah.
Hal lain yang menjadi perhatian seperti disampaikan Duhan, Kungo, Jira dan Garlap, soal pendidikan, permasalahan GOR yang tak kunjung jelas dibangun untuk apa. Soal terminal Tanjung Pinggir yang menghabiskan anggaran Rp 30 miliar. Namun sampai saat ini operasionalnya masih dipertanyakan.
Di akhir Malam Refleksi Mahasiswa Siantar itu, para mahasiswa sepakat bahwa kegatan itu akan kelanjutan dengan akssi nyata. Dimulai dari turun ke masyarakat. Bahkan, melakukan Konsolidasi Akbar untuk memanggil seluruh para mahasiswa Kota Siantar.
“Hidup Mahasiswa,” teriak Samuel Simanullang salah seorang mahasiswa sekaligus menutup kegiatan. (In)






