SIANTAR, SENTER NEWS
Sampah di Kota Siantar, khususnya di sekitar Pasar Horas dan Pasar Dwikora tampaknya masih tetap menuai masalah. Karena jarang diangkut akhirnya menggunung dan sangat mengganggu kenyamanan masyarakat.
Seperti di Jalan Pantuan Nanggi, samping Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan. Sampah yang tingginya sudah hampir satu setengah meter itu malah berserak sampai memakan badan jalan. Sehingga, arus lalulintas saat jam sibuk seperti pagi hari, menjadi terganggu.
“Wah, kalau sampah ini sudah biasa menumpuk. Pokoknya sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kita yang melintas di sekitar tumpukan sampah itu. Nggak tau kenapa bisa sampai menumpuk gitu,” ujar Marwan (43) warga Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur, Sabtu (25/2/2023).
Warga yang setiap pagi berbelanja bahan-bahan kebutuhan dapur seperti ikan basah, sayur mayur dan hasil pertanian lainnya untuk dijual kembali itu, merasa heran mengapa permasalahan sampah itu tidak bisa diselesaikan.
“Setahu saya, Wali kota punya program LISA atau Lihat Sampah Ambil dan spanduk tentang itu sempat banyak bertebaran. Tapi, kalau sudah menumpuk seperti itu, mana mungkin masyarakat membersihkannya,” ujar Marwan lagi.
Lebih lanjut, Marwan yang ternyata kerap mengamati soal sampah di Kota Siantar menyarakan, seharusnya ada bak sampah besar dari besi (arm roll) disediakan di sekitar lokasi. “Kalau ada bak sampah dari besi itu, sampah tidak berserakan dan mudah diangkut,” ujarnya.
Ketika soal sampah dimaksud dikonfirmasi kepada Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya (PD PHJ) Kota Siantar sebagai pengelola Pasar Dwikora, melalui Direktur Operasional Evra Saskia Damanik, dikatakan bahwa di lokasi tempat menumpuknya sampah itu bukan sebagai tempat pembuangan sampah.
Kemudian, tidak tertutup kemungkinan sampah dimaksud bukan hanya berasal dari pedagang yang berjualan dari Pasar Dwikora. Namun demikian, memang dibutuhkan arm roll. Hanya saja, itu harus dikoordinasikan kepada Badan Lingkungan Hidup. Apalagi PD PHJ sendiri tidak memiliki truk pengangkutan sampah yang memadai.
“Ya, di lokasi itu memang perlu arm roll tapi kita sendiri tidak punya. Sedangkan satu unit truk pengangkut sampah milik PD PHJ sering rusak dan sulit beroperasi maksimal,” ujarnya sembari mengatakan soal sampah bukan urusan satu pihak saja. Tetapi butuh kerjasama dengan semua pihak. Termasuk masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Pantauan Senter News, soal sampah di Kota Siantar, juga ditemukan di sejumlah lokasi. Antar lain di Jalan Kereta Api belakang Pasar Horas. Sampah tersebut bukan hanya sayur mayur yang busuk, bangkai ayam dan bulu-bulu ayam juga ada. Kalau melintas di sekitar lokasi, wajib tutup hidung karena bisa membuat perut jadi mual.
Selain itu, sampah yang sering menyebar sampai berserakan berasal dari bak pembuangan sementara seperti di Jalan Sudirman, Jalan Narumonda dan di sejumlah kelurahan lainnya. Termasuk di simpang Jalan Bandung-Sutomo yang berada di inti kota. (In)






