SIANTAR, SENTER NEWS
Meski para orang tua sempat resah dan putra-putri mereka sudah menerima surat dari pihak yayasan sekolah akan ditutup, Yayasan Pendidikan Kartini Handayani (YPKH), Jalan Kartini, Kecamatan Siantar Barat, Kota Siantar akhirnya tetap beroperasi dan tidak akan ditutup.
Keberhasilan itu atas desakan Gerakan Tolak Penutupan TK dan SD Kartini Handayani (Gertak PKH) kepada pihak yayasan melalui pertemuan yang dimediasi Dinas Pendidikan Kota Siantar, Polres dan DPRD Siantar, di salah satu lokasi YPKH, Senin (12/6/2023).
Sebelum mediasi, Gertak PKH yang terdiri dari puluhan orang tua murid dan guru siap berunjukrasa ke Polres, DPRD Siantar dan Kantor Wali Kota. Lengkap dengan spanduk berukuran besar serta puluhan poster dan pengeras suara.
“Tadinya kita sudah siap untuk berunjukrasa. Tapi, karena ada surat untuk melakukan pertemuan untuk mediasi akhirnya kita turuti,” ujar Gunawan Purba juru bicara Gertak PKH yang kemudian konvoi dari Lapangan H Adam Malik ke YPKH dengan mendapat pengawalan dari pihak Polres Siantar.
Saat mediasi, Polres Siantar melalui Kasat Reskrim, AKP Banuara Manurung menekankan, agar orang tua murid dan para guru tetap tenang dan tidak emosi menyampaikan aspiras. “Mediasi ini kita minta memberikan hasil yang terbaik,” ujarnya.
Hal senada disampaikan DPRD Siantar melalui Ilhamsyah Sinaga. Karena para orang tua sudah mempercayakan putra-putrinya sekolah di YPKH, untuk itu harus ada solusi terbaik. “Orang tua tidak mengetahui kemana akan memindahkan anak-anaknya. Untuk itu, turunkan ego dan jangan main-main dengan pendidikan,” ujarnya.
Sementara, mediasi yang dipandu Riado Damanik dari Dinas Pendidikan Kota Siantar yang turut dihadiri Kadis Pendidikan Kota Siantar, EW Manurung dan sejumlah staf mempersilahkan orang tua murid menyampaikan aspirasi.
Lantas, Gunawan Purba sebagai juru bicara Gertak PKH mengatakan, penutupan sekolah jelas mengganggu psikologi para siswa. Terutama yang akan memasuki kelas enam. “Untuk itu, kami bertekad untuk tidak akan memindahkan anak-anak kami ke sekolah lain,” ujarnya.
Dijelaskan juga, selama ini orang tua siswa sudah mempercayakan pihak YPKH untuk sekolah putra-putri mereka. Bahkan, sudah membayar uang pendaftaran, mengeluarkan biaya untuk bimbingan belajar maupun membayar beberapa ketentuan yang ditetapkan pihak kepala sekolah.
“Karena itu kami marah!. Kami apapun alasan penutupan sekolah tidak masuk akal dan tidak terbuka. Kalau katanya pailit ada tim yang harus melakukan audit meski itu masih dalam proses,” ujar Gunawan lagi.
Hal senada di sampaikan para guru melalui ketua Forum Kartini Fighter, Miss Lina yang mengatakan bahwa pernyataan pihak YPKH menutup sekolah sepihak dana tidak pernah melibatkan para guru. Padahal, YPKH baru berjalan delapan tahun berkualitas baik.
“Kami tidak mengetahui kalau sekolah ini terpuruk dan ada penyelewengan keuangan. Harusnya ada solusi, tidak justru melakukan penutupan. Padahal, selama ini kami selalu patuh menjalankan intruksi pihak yayasan untuk memajukan sekolah,” ujar Miss Nina.
Pada perkembangan selanjutnya, Ketua Yayasan Joni Phan menanggapi pernyataan sikap orang tua murid dan guru. Awalnya dikatakan kawatir kualitas sekolah yang sudah baik menjadi terpuruk karena ada penyelewengan keuangan di internal sekolah.
Karenanya, pihak yayasan tidak mampu membayar gaji guru. Hal itu, membuat pihak yayasan menjadi malu apalagi informasinya sudah tersebesar ke luar sekolah. Sedangkan, soal bimbingan belajar yang dilakukan Kepala Sekolah tanpa pemberitahuan kepada YPKH.
Bahkan soal dana BOS untuk SD yang menurut Dinas Pendidikan sebesar Rp 162 juta lebih dan sudah diambil kepala sekolah sebesar Rp 81 juta lebih, tanpa sepengetahuan pihak YPKH dan itu harus dipertanggungjwabkan kepala sekolah.
“Untuk menyelesaikan semua permasalahaan ini, kepala sekolah harus bertanggungjawab karena dia membuat situasi sekolah jadi begini. Kalau untuk guru, saya minta tidak terlibat karena soal gaji tetap akan saya bayar,” tegas Ketua YPKH kepada para guru dan orang tua siswa.
Setelaha menyampaikan permasalahan tersebut, Kadis Pendidikan EW Manurung langsung menyatakan soal keuangan yayasan itu masalah internal. Yang jelas aspirasi para guru dan orang tua siswa agar sekolah tetap beroperasi harus diperjelas.
Akhirnya, setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, Jhon Phan sebagai Ketua YPKH mulai “kendor” dan menyatakan bahwa YPKH tetap akan beroiperasi. Tetapi dengan syarat harus ada pengangkatan kepala sekolah yang baru. Sehingga, management dapat lebih baik.
Mendengar pernyataan itu, para guru dan orang tua siswa akhirnya memberi aplusan meriah dan soal pengangkatan kepala sekolah tersebut menurut Kadis Pendidikan Kota Siantar segera didiskusikan dengan pihak YPKH karena ada kriteria yang harus dipenuhi.
Usai pertemuan yang memberi solusi terbaik, para orang tua murid dan guru tampak saling bersalamaan dengan ceria serta saling memaafkan. Bahkan, para orang tua murid dan guru beberapa kali berteriak “Hidup YPKH!” (In)






