SIANTAR, SENTERNEWS
Pada hari kedua lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1447H/2026 M, Minggu (22/03/2026), suasana di balairung pedagang ikan basah Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan Kota Siantar, tampak sepi.
Masalahnya, lapak pedagang yang biasanya menawarkan berbagai jenis ikan laut , banyak kosong karena pedagang tidak berjualan. Bahkan, suasana balairung yang biasanya mulai subuh sampai pada pagi hari tampak ramai, juga lengang.
Karena banyak pedagang belum berjualan, peredaran ikan jadi sangat terbatas. Itu pun hanya beberapa jenis. Karena kondisi tersebut, harga ikan akhirnya menjadi mahal.
“Nelayan belum ada yang melaut. Bukan karena angin koncang. Tapi, masih berhari raya. Jadi, dapat dimaklumi ikan tak masuk dan harganya juga mahal,” kata salah seorang pedagang ikan basah sembari menawarkan udang dan jenis ikan tongkol.
Ikan yang paling dominan di jual malah jenis air tawar seperti nila, atau lele dumbo. Dan ada juga ikan bawal air tawar.
Karena ikan laut tergolong sedikit dan harganya mahal, seorang ibu rumah tangga mengaku terpaksa membeli ikan air tawar seperti nila dengan harga Rp29 ribu per Kg.
“Ya, pedangang ikan basah memang banyak tak jualan dan orang yang berhari raya juga masih punya daging seperti rendang atau popor ayam,” kata ibu rumah tangga yang mengaku tidak ikut merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 H.
Menurut pedagang ikan, situasi penjualan ikan laut diperkirkan mulai stabil pada tiga atau empat hari ke depan. Itupun harganya belum tentu stabil. Apalagi nelayan diperkirakan belum sepenuhnya turun melaut karena masih suasana Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2026 M. (In)






