SIANTAR NEWS, JAM 11.00 WIB
Meski sempat menuai polemik, DPRD Siantar gelar rapat paripurna Peringatan Hari Jadi Kota Siantar ke 152 tahun. Selain turut dihadiri Wali Kota dan sejumlah pejabat Pemko Siantar yang datang terlambat, tetap berjalan sesuai rencana, Selasa (2/5/2023).
Usai rapat paripurna, seluruh anggota DPRD Siantar dan unsur pimpinan melakukan ziarah ke Jorat Raja Siantar Sangnaualuh Damanik di Pamatang, Kelurahan Simalungun yang difasilitasi Yayasan Raja Sangnaualuh Damanik.
Sementara, Wali Kota dan Forkopimda Plus Kota Siantar serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Siantar tidak turut karena sebelumnya sudah melakukan melakukan ziarah, Sabtu (27/4/20230.
Pantauan di kantor DPRD Siantar, Wali Kota dan sejumlah pejabat Pemko baru masuk menghadiri rapat parupurna yang dipimpin Ketua DPRD Siantar, Timbul Marganda Lingga, setelah usai menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan hening cipta.
Setelah Wali Kota Siantar masuk ruangan rapat dan duduk di kursi bagian depan bersebelahan dengan ketua DPRD Siantar, suasana rapat paripurna yang dihadiri Forkopimda Plus, danseluruh anggota DPRD Siantar yang mengenakan pakaian adat Simalungun, sempat hening.
Selanjutnya, Ketua DPRD Kota Siantar Timbul Marganda Lingga didampingi Wakil Ketua Mangatas Silalahi dan Ronald Tampubolon menyampaikan sambutan. Menyatakan bahwa peringatan Hari Jadi Kota Siantar ke 152 Tahun itu bukan hanya seremonial. Namun harus mampu meneladani sifat yang dimiliki Raja Sangnaualuh Damanik.
Mengamati isi sambutan Ketua DPRD Siantar, tidak ada di sebut nama Wali Kota dr Susanti Dewayani, kecuali menyebut “pimpinan”. Bahkan, sambutan tersebut berisi berbagai kritik terkait berbagai kebijakan Pemerintahan Kota.
Kritikan tersebut antara lain terkait belum selesainya Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), pembangunan jalan ring road tidak ada perkembangan. Kemudian, pembiaran pedagang yang menggunakan badan jalan dan trotoar di sekitar Pasar Dwikora.
“Semestinya, pemerintah memberi perhatian kepada mereka dengan memberi lokasi yang tepat untuk berjualan,” ujar Timbul sembari mengatakan ada terjadi pembiaran. Sehingga, mengganggu arus lalulintas karena badan jalan semakin sempit.
Soal mutasi para pejabat disebut sebagai suatu kesewenang-wenangan karena tidak sesuai ketentuan juga disinggung. Tak kalah “kritis”, soal program LISA (Lihat Sampah Ambil). Dikatakan gagal karena sampah banyak bertebaran. Sehingga, visi dan misi menjadikan Kota Siantar sehat sama sekali tak tercapai dan hanya menjadi bahan retrorika.
“Begitu juga dengan indeks toleransi Kota, jatuh, terjun bebas. Bahkan, terlempar dari 10 besar kota toleransi di Indonesia di bawah kepemimpinan Wali Kota sekarang ini,” tegas Timbul Marganda Lingga lagi.
Ditegaskan juga, pemimpin dan aparat harus bertanggungjawab atas segala program. Teguh pendirian menetapkan dan menjalankan segala pekerjaan yang telah disepakati sebagai hasil dari musyawarah. Sehingga, melahirkan komitmen yang pola tindakan prilaku.
“Aparat harus saling menghormati terhadap warganya, terhadap sesama lembaga dan penyelenggara pemerintahan. Tidak menghina suku atau agama warganya. Pemimpin dan aparat harus menjadi pelayan kepada warganya,” tegas Timbul Marganda.
TAK DITANGGAPI WALIKOTA
Selanjutnya, Wali Kota dr Susanti Dewayani melalui sambutannnya, tidak ada menanggapi kritik Ketua DPRD Siantar. Dikatakan bahwa seiring perjalanan panjang selama 152 tahun, Kota Siantar mengalami banyak perubahan secara fisik maupun sosial, ekonomi dan budaya.
“Semoga ke depannya kita sebagai elemen pemerintahan di Kota Pematang Siantar senantiasa mendapat keberkahan, yaitu orang-orang yang saat diberi amanah dapat menunaikannya dengan sebaik-baiknya dan ketika diberi jabatan dapat menjalankannya semata demi kepentingan masyarakat,” terangnya.
Kedepannnya, Kota Siantar diharap dapat bersaing dan lebih baik dari kabupaten/kota lain di Sumut bahkan sampai tingkat nasional. Sejalan dengan sikap dan perilaku pendiri Kota Siantar, Raja Sangnaualuh Damanik, yang tulus dan sukarela berbuat untuk masyarakat sampai akhir hayatnya.
“Hendaknya juga kita memaknai dan mampu melaksanakan falsafah Habonaron do Bona (kebenaran sebagai cikal bakal segalanya) dan bukan didorong oleh nafsu semata, serta Sapangambei Manoktok Hitei (seiring seirama menggapai tujuan),” jelas dr Susanti.
Pada kesempatan itu, disinggung juga terkait kondisi makro ekonomi, pertumbuhan ekonomi Kota Siantar mengalami peningkatan dari 1,23 persen di tahun 2021 menjadi 3, 47 persen pada tahun 2022. Dan sampai tahun 2024 ditargetkan di angka 3,38 persen hingga 4,54 persen.
Kemudian, Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) meningkat dari 79,17 pada tahun 2021 menjadi 79,70 pada tahun 2022. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan dari angka 11 persen di tahun 2021 menjadi 9,36 persen di tahun 2022.
Disampaikan juga angka kemiskinan yang mengalami penurunan dari 8,32 persen pada tahun 2021 menjadi 7,88 persen pada tahun 2022. Angka ini, lanjutnya, melebihi dari target. Kemudian, memaparkan beberapa penghargaan yang diperoleh.
Antara lain, Penghargaan Siddhakarya atas kepedulian Pemerintah Kota (Pemko) Siantar dalam memotivasi dunia usaha dan UMKM yang mengedepankan prinsip-prinsip efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ramah lingkungan.
Selain itu, Pemko Siantar masuk tiga besar Penilaian Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) atas inovasi yang dilakukan dalam pengelolaan pajak. Kemudian, Perumda Tirta Uli Pematang Siantar menerima BUMD Awards atas pengelolaan BUMD. (In)






