SIANTAR, SENTERNEWS
Saat berunjuk rasa dari lapangan Parkir Pariwisata menuju Jalan Sutomo Kota Siantar, kelompok massa dari Aliansi Kesatuan Aksi Mahasiswa dan Pemuda Siantar (Kampas), menyuarakan Mosi Tak Percaya Jilid III kepada Wali Kota Siantar, Rabu (31/5/2023) siang.
Di depan Kantor Kejaksaan Negeri Siantar, Kapak menyuarakan bahwa mosi tak percaya jilid III itu karena Wali Kota Siantar dr Susanti Dewayani memiliki banyak masalah. Pelayanan publik mengecewakan. Terutama terkait pembangunan kesejahteraan masyarakat.
Di depan kantor Kejaksaan Negeri Kota Siantar Jalan Sutomo, Kampas sempat berorasi dan menjadi perhatian para pengendera yang melintas karena aksi tersebut memakan badan jalan. Sehingga personel Polisi Polres harus mengatur arus lalulintas.
Dari depan Kantor Kejaksaan, Kampas bergerak menuju Kantor Wali Kota. Sambil mengusung spanduk dan poster menyanyikan lagu-lagu penyemangat sembari berteriak “Hidup mahasiswa, hidup rakyat!”.
Namun, saat tiba di kantor Wali Kota, pintu gerbangnya ternyata ditutup dan dijaga puluhan personel Polres Siantar yang melakukan pagar betis. “Kenapa pagar kantor Wali Kota ditutup? Kita bukan maling! Kita ingin masuk menemui ibu Wali Kota,” ujar pengunjukrasa.
Dari luar pagar kantor Wali Kota, massa kampas kembali berorasi menyuarakan 10 poin pernyataan. Wali Kota dr Susanti dinilai berjalan sendiri dan tidak menuai dukungan positif masyarakat yang seolah acuh tak acuh dengan lakonnya yang penuh pencitraan.
“Mana Wali Kota! Jangan sembunyi. Ini rakyatmu datang untuk menyampaikan aspirasi,” teriak Gading S didampingi Bill Fatah Nasution yang menuding bahwa Wali Kota Susanti terjebak peristiwa protokoler seremonial. Tanpa berupaya memunculkan dan mendorong gagasan untuk menjawab permasalahan Kota Siantar.
Disoroti juga soal Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PD PAUS) yang terus merugi dan Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya (PD PHJ) yang penghasilannya sangat minim. Kemudian, Kampas singgung banyaknya gelandangan pengemis (Gepeng) di Kota Siantar.
“Banyak Gepeng membawa anak kecil datang ke pusat-pusat keramaian tempat para pejabat kota nongkrong,” ujar Bill yang juga menyatakan terkait dengan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) membuat rakyat menjerit.
“Program LISA atau Lihat Sampah Ambil hanya slogan belaka. Odong-odong yang penumnpangnya anak-anak, berkeliaran seenaknya di jalanan memainkan musik dewasa. Lapangan Merdeka dikuasai pedagang liar dan kumuh,” ujar Kampas lagi melalui orasi.
Hal lain yang disoroti sesuai dengan statemen Kampas, Laporan Keterangan Pertanggung jawaban (LKPj) dan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tertunda membuat pembangunan Kota Siantar semrawut.
“Susanti sebagai penguasa tunggal karena tidak sampai sekarang tidak memiliki Wakil Wali Kota,” ujar Bill yang juga menyigngung tentang persoalan dugaan pemalsuan dokumen negara terkait mutasi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemko yang telah dilaporkan ke Polres Siantar.
Kampas mendukung pengusulan pemakzulan yang disampaikan kepada Mahkamah Agung (MA) agar segera diputuskan. Selanjutnya, tentang kewajiban mendapatkan proyek fisik tanpa kewajiban (KW) harus menjadi kenyataan sehingga tidak ada pembohongan terhadap rakyat.
“Wali Kota tak becus! Copot oknum Dewan Pengawas (Dewas) Perumda Tirtauli yang nakal. Usut tuntas dugaan pemotongan tunjangan ASN di lingkungan Pemko Siantar,” ujar Gading S Koordinator Kampas, Rifqi Pratama dari KOPASIS didampingi Bill Fatah Nasution dari IMM dan Armada Prawira Simorangkir dari GMKI.
. Polres Siantar jangan bermain api terhadap laporan soal dugaan pemalsuan dokumen negara oleh Wali Kota dkk,” tegas pengunjukrasa melalui tuntutan yang dibacakan.
Meski telah melakukan orasi secara bergantian dan memanggil Wali Kota agar hadir, ternyata Kampas hanya diterima Asisten I Junaedi Sitanggan didampingi Asisten II Zainal Siahaan. Karena hanya ingin bertemu Wali Kota, Kampas menolak kehadiran kedua pejabat tersebut.
Jelang beberapa saat , massa Kampas akhirnya membuabbarkan diri dengan tertib. Namun, berjanji akan dating lagi dengan jumlah massa yang lebih besatr untuk melanjutkan mosi tidak percaya kepada Wali Kota Jilid IV.
Diketahui, Kampas terdiri dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Siantar, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Siantar-Simalungun, Koalisi Aksi Pemuda dan Mahasiswa (Kopasis) Siantar, Gerakan Mahasiswa Pejuang Rakyat (GEMPAR) Siantar.(In/Tn)






