Oleh : Dr. Muhammad sidik, M.Pd
Salah satu hal penting yang harus dilakukan seorang muslim adalah muhasabah. Yaitu melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap diri sendiri.
Kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan bertanya kepada diri kita sendiri: bagaimana kehidupan yang telah kita jalani selama ini?
Sudahkah hari-hari kita dipenuhi dengan amal kebaikan? Apakah ketakwaan kita semakin meningkat atau justru semakin menurun? Apakah ibadah kita semakin berkualitas?
Apakah hubungan kita dengan keluarga, tetangga, sahabat, dan masyarakat semakin harmonis? Ataukah masih terdapat perkataan dan perbuatan kita yang menyakiti orang lain?
Pertanyaan yang sama juga perlu kita tujukan kepada hubungan kita dengan Allah SWT. Sudahkah kita melaksanakan shalat dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah kita membaca dan memahami Al-Qur’an? Sudahkah kita memperbanyak doa, zikir, sedekah, dan amal kebajikan? Ataukah selama ini kita beribadah hanya sebatas menggugurkan kewajiban?
Begitu pula dengan harta yang Allah SWT titipkan kepada kita. Berapa banyak yang telah kita gunakan untuk membantu orang lain? Berapa banyak yang telah kita sedekahkan di jalan Allah?
Jangan sampai seluruh perhatian kita hanya tertuju pada bagaimana mendapatkan dan mengumpulkan harta. Sementara, kita lupa bahwa di dalam harta tersebut terdapat hak orang lain.
Islam tidak melarang umatnya mencari kehidupan dunia. Kita diperintahkan untuk bekerja, berusaha, mencari rezeki yang halal, dan membangun kehidupan yang baik. Namun, dunia tidak boleh membuat kita lupa kepada akhirat.
Kita bekerja untuk hidup, tetapi jangan sampai hidup hanya untuk bekerja. Kita mencari harta, tetapi jangan sampai harta menguasai hati. Kita mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita meninggalkan Allah SWT.
Kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki batas. Setiap manusia akan meninggalkan dunia. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, rumah akan dihuni oleh orang lain, dan nama kita suatu saat hanya akan menjadi kenangan.
Yang akan menemani kita adalah amal yang telah kita kerjakan. Karena itu, seorang muslim harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dan sekaligus melihat kembali apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok. Hari esok yang dimaksud bukan sekadar hari setelah hari ini, tetapi kehidupan akhirat.
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim tidak boleh menjalani kehidupan tanpa arah. Setiap amal harus dipertimbangkan. Setiap perbuatan harus diperhatikan. Setiap kesempatan harus dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan.
Muhasabah bukan berarti terus menyalahkan diri sendiri. Muhasabah berarti menyadari kekurangan, memperbaikinya, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Jika hari ini kita masih sering meninggalkan shalat tepat waktu, maka mulai hari ini kita berusaha memperbaikinya. Jika selama ini kita jarang membaca Al-Qur’an, maka mulai hari ini kita sisihkan waktu untuk membacanya.
Jika kita masih sulit bersedekah, maka mulailah dengan jumlah yang sederhana. Jika hubungan kita dengan keluarga belum baik, maka ambillah langkah untuk memperbaikinya.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, tetapi dilakukan secara konsisten. Perubahan diri juga harus diawali dengan niat yang baik.
Niat menjadi dasar bagi seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Ketika seseorang memiliki niat untuk memperbaiki diri karena Allah, ia akan memiliki arah yang jelas dalam kehidupannya.
Namun, niat tidak boleh berhenti sebagai keinginan. Niat harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Seseorang tidak cukup mengatakan ingin menjadi lebih baik jika tidak melakukan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita ingin menjadi orang yang sabar, maka kita harus belajar mengendalikan emosi. Kita ingin menjadi orang yang dermawan, maka kita harus mulai berbagi.
Kita ingin menjadi orang yang dekat dengan Allah, maka kita harus memperbaiki shalat, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan meningkatkan amal saleh. Dengan demikian, perubahan bukan hanya persoalan ucapan, tetapi juga tindakan.
Dalam proses memperbaiki diri, kita juga perlu memahami izzah, yaitu kemuliaan dan harga diri seorang muslim. Harga diri seorang manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, penampilan, pendidikan, atau penilaian manusia.
Kemuliaan seorang muslim berasal dari kedudukannya sebagai hamba Allah SWT. Karena itu, jangan terlalu bergantung pada pujian manusia. Jangan pula merasa rendah hanya karena mendapatkan kritik atau menghadapi kegagalan.
Selama kita berusaha berada di jalan yang diridai Allah, kita memiliki alasan untuk tetap teguh dan memperbaiki diri.
Allah telah memberikan setiap manusia potensi yang berbeda. Ada yang memiliki kemampuan dalam ilmu, ada yang memiliki kemampuan dalam bekerja, ada yang memiliki kemampuan membantu orang lain, dan ada pula yang memiliki kemampuan dalam membangun hubungan sosial.
Syukurilah kelebihan yang Allah berikan. Terimalah kekurangan dengan lapang dada. Kekurangan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Sebaliknya, kekurangan dapat menjadi dorongan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Dalam menghadapi kehidupan, kita juga harus berpikir positif dan bertawakal kepada Allah. Setelah melakukan ikhtiar terbaik, serahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha dengan sungguh-sungguh.
Jika berhasil, kita bersyukur. Jika belum berhasil, kita bersabar dan melakukan evaluasi. Dengan cara demikian, hati tidak mudah dikuasai oleh kecemasan, kesombongan, maupun keputusasaan.
Semoga setiap langkah kita menjadi ibadah, setiap usaha kita mendapatkan keberkahan, setiap kesalahan kita mendapatkan ampunan, dan setiap kebaikan kita diterima oleh Allah SWT.(Penulis: Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






