Oleh : Suteki MM
Perkembangan teknologi dan arus globalisasi telah mengubah wajah kehidupan manusia secara drastis. Dunia kini terhubung dalam genggaman tangan. Segala informasi mengalir cepat tanpa batas ruang dan waktu.
Namun, di balik kemudahan itu, muncul pula tantangan besar bagi umat Islam: bagaimana menjaga nilai-nilai ilahiah di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup?
Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memberikan panduan yang komprehensif bagi seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam menghadapi perubahan zaman. Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Ayat ini menegaskan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Umat Islam tidak dituntut untuk menolak modernitas, namun harus menempatkannya dalam koridor syariat.
Artinya, kemajuan teknologi dan gaya hidup modern hendaknya menjadi sarana untuk memperkuat keimanan, bukan justru menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan pekerjaan, maka hendaklah ia melakukannya dengan itqan (sebaik-baiknya).” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini sangat relevan di era digital. Profesionalitas, integritas, dan kejujuran adalah nilai yang harus melekat pada setiap Muslim, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun aktivitas di media sosial. Ketika umat Islam menunjukkan akhlak mulia di dunia maya-menyebarkan kebaikan, menghindari hoaks, dan menjaga etika komunikasi-maka ia telah menjalankan dakwah kontemporer sesuai tuntunan Rasulullah.
Namun realitas hari ini menunjukkan banyak tantangan moral. Budaya konsumtif, konten negatif, dan krisis spiritual menjadi penyakit sosial yang merusak generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus menanamkan literasi digital yang berlandaskan iman dan takwa.
Kecerdasan spiritual (spiritual quotient) perlu dikembangkan seiring dengan kecerdasan teknologi agar manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara moral.
Kehidupan Islam di era modern bukan berarti mundur dari kemajuan, tetapi memaknai kemajuan dengan nilai ketauhidan. Umat Islam perlu kembali pada prinsip *“al-‘ilmu wal ‘amal”*-ilmu yang diamalkan dan amal yang berilmu. Dengan itu, dunia digital dapat menjadi ladang pahala, bukan sumber kemaksiatan.
Menutup tulisan ini, mari kita renungkan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat [41]: 30)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa istiqamah adalah kunci utama dalam menghadapi perubahan zaman. Dengan tetap berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, umat Islam akan mampu menghadapi tantangan kehidupan modern tanpa kehilangan jati diri keislamannya. (*) (Penulis Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar)






