SIANTAR, SENTERNEWS
Jelang peringatan Hari Jadi Kota Siantar ke 155 tahun, sejatinya masyarakat merasakan hasil nyata pembangunan dan pembenahan kota. Terutama menangani soal banjir yang sudah menjadi langganan saat musim hujan tiba.
Pernyataan itu disampaikan Presiden Mahasiswa Universitas Efarina, Depandes Nababan. Karena soal banjir ini bukan lagi dapat dianggap sebagai bencana musiman semata. Melainkan cerminan dari kelemahan Walikota dan jajaran Pemko Siantar menyelesaikan persoalan mendasar kota.
Dijelaskan, persoalan mendasar, khususnya terkait pembenahan drainase, pengelolaan tata ruang, dan pembangunan infrastruktur yang berpihak kepada kebutuhan masyarakat. Sehingga, dapat mengantisipasi banjir di beberapa lokasi seperti yang terjadi beberapa hari lalu.
“Sampai hari ini pemerintah belum mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi warganya sendiri,” ujar Depandes Nababan, Rabu (22/04/2026). .
Lebih lanjut dijelaskan, perayaan Hari Jadi Kota Siantar jelas kehilangan makna apabila persoalan mendasar masyarakat tidak segera ditangani. Untuk itu, perayaan hari jadi kota jangan hanya menjadi seremoni tahunan yang meriah secara simbolik.
BEM Universitas Efarina menilai, momentum hari jadi kota Siantar ke-155 harus menjadi titik evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Walikota dan jajarannya.
“Kota yang bertambah usia seharusnya bertambah matang dalam pelayanan dan pembangunan. Tetapi jika banjir tetap menjadi persoalan tahunan, maka Pemko perlu jujur mengakui, ada kegagalan sol tata kelola kota,” kata Depandes Nababan lagi.
Untuk itu, BEM Universitas Efarina mendesak Pemko Siantar segera mengambil langkah konkret dalam pembenahan sistem drainase, penataan infrastruktur, dan penyelesaian persoalan banjir secara menyeluruh. (Rel)






