SIANTAR, SENTERNEWS
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar melalui Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga, gelar workshop dialog interaktif tentang Pendekatan Spritual Orang Tua untuk Membangun Karakter Remaja Sholeh/Sholeha.
Kegiatan dengan tema, “Teladan dan Kasih Sayang Ibu Membentengi Anak dari Bahaya LGBT” itu, berlangsung di aula MUI Pematangsiantar, Jalan Kartini, Kota Siantar, Sabtu (15/08/2026).
Yusnani Nasir sebagai protokol mendaulat Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Pematangsiantar, Hj Dra Rayani Purba yang juga ketua panitia menyampaikan sambutan.
“Peserta terdiri dari guru bimbingan konseling, guru agama tingkat SLTA serta kaum ibu yang memiliki anak remaja. Karena sasaran workshop ini untuk mengantisipasi putra-putri kita agar terhindar dari prilaku LGBT, ” kata Hj Rayani Purba.
Sekretaris Umum MUI Pematangsiantar, H Ahmad Ridwansyah Putra yang membuka workshop menyatakan dukungan penuh workshop tersebut agar dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Judul workshop dikatakan sangat relevan. Apalagi MUI telah mengeluarkan fatwa soal LGBT dan mengajukan Rancangan Undang-undang tentang sanksi hukum bagi pelaku LGBT.

“Kalau sanksi dari Allah terhadap pelaku LGBT sudah jelas sangat dilaknat Allah,” ujar H Ahmad Ridwansyah sembari berharap agar para peserta dialog dapat menyampaikan isi materi dari para narasumber kepada lingkungannya masing-masing.
Sementara, Ketua MUI Pematangsiantar, Drs H M Ali Lubis sebagai narasumber paparkan pendekatan spritual orang tua untuk membangun karakter remaja menjadi sholeh/sholeha karena tantangan zaman begitu kompleks.
“Orang tua silahkan menyekolahkan anak sebaik mungkin. Tapi, jangan lupa menerapkan pendidikan agama agar saat remaja dan dewasa dapat membedakan mana yang baik dan buruk,” ujar H M Ali Lubis.
Narasumber berikutnya, Dr Nevi Darmayanti sebagai Psikolog, paparkan materi “Parenting Membentengi Anak di Era Digitalisasi”.
Dijelaskan, anak merupakan perhiasan bagi orang tua dan amanah dari Allah yang harus didik dan akan dipertanggungjawabkan kelak.
“Pembinaan anak di era sebelumnya sangat berbeda dengan saat ini. Melalui handphone, anak sekarang dapat menjelajah dunia luar, berteman dengan orang yang salah dan dapat membuat jebakan negatif seperti prilaku LGBT,” ujar narasumber.
Untuk itu, kaum ibu harus tetap melakukan pengawasan terhadap anak dengan persuasif. Dan, dapat mencari informasi agar anak-anaknya tidak masuk dalam konten-konten negatif,
Nara sumber terakhir, Dra Hj Rayani Purba mengusung materi, orang tua sebagai role model bagi anak- anaknya. Artinya, orang tua harus mampu menjadi teladan. Terutama dalam prilaku melaksanakan ibadah.
“Orang tua harus dekat dan mau mendengar keluh kesah anak- untuk memberi solusi terbaik sesuai dengan kaidah Islam,” ujar Hj Rayani Purba.
Usai para nara sumber maeyampaikan materi masing-masing, dilakukan tanya jawab dan dialog yang dipandu moderator Hj Marintan Lubis. Berlangsung dengan komunikatif. Baik tentang pembinaan dan pendidikan kepada anak agar terhindar dari prilaku menyimpang. (In)






