SIANTAR, SENTERNEWS
Buku Perjalanan Perguruan Karate Kala Hitam Sejak 20 Januari 1972, gambaran tentang apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana tentang ilmu bela diri karate yang telah memberi berbagai manfaat kepada kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
Ketua Pengcab Karate Kala Hitam Pematangsiantar, Andika Prayogi Sinaga mengatakan, buku itu sudah dibagikan pada Dirgahayu ke 53 Karate Kala Hitam di Balai Rahmat Shah Taman Hewan, Kota Siantar, Minggu (26/1/2025).
“Langsung dibagikan penyusun/editor, Dr H Rustam Effendi YS SpPD KGEH dan Mangandar Sianipar dan Dr Muhammad Khadafi Sp B Subsp BE,” kata Andika Prayogi yang saat Dirgayu ke 53 itu memperoleh DAN III dari Ketua Umum Karate Kala Hitam, H Ronny Simon.
“Tidak hanya penting dibaca para atlit karate. Khususnya dari kalangan Karate Kala Hitam. Tapi, perlu dibaca masyarakat umum karena enak dibaca untuk menambah pengetahuan,” ujar Andika Prayogi yang menjadi anggota DPRD Siantar dua priode.
Pada buku berisi 245 halaman, XV Bab itu, halaman awal tertuang sambutan dari Ketua Umum Pengda FORKI Sumut Tahun 2005, DR H Rahmat Sah yang intinya menyatakan, prestasi Perguruan Karate Kala Hitam pantas diacungi jempol. Bahkan, banyak orang sukses dalam berbagai bidang berkat disiplin dan kesabaran yang diperoleh dari belajar Karate Kala Hitam.
Bahkan, suatu hal yang sangat menonjol adalah soal kesetiakawanan dan rasa sosial yang terbina di lingkungan murid-muridnya terasa begitu kental. “Sebab, kita semua meyakini, dewasa ini nilai-nilai luhur sudah semakin memudar di lingkungan masyarakat kita. Sehingga, negeri kita terancam integritasi,” tulis tokoh nasional itu pada sambutannya.
Kemudian, ada juga sambutan Ketua Umum PWI Pusat dan Ketua PWI Cabang Sumut di tahun 2005. Sambutan mantan murid Kala Hitam Dr Ronmald Sihotang SpB yang memetik pepatah Latin Kuno,”Fama Semper vivat” yang artinya “Semoga nama baiknya terus hidup”.
Pada buku itu,dipaparkan sejarah singkat kelahiran karate sebagai upaya bela diri kalangan Shaolin (Pendeta Budha) untuk menyebarkan ajarannya ke berbagai pelosok Tiongkok dan India, tetapi kerap menjadi sasaran para perampok.
Alkisah, ilmu bela diri itu sampai ke Pulau Okinawa Jepang yang rakyatnya semula sebagai korban penindasan penguasa setempat dan berkat karate, rakyatnya berhasil mengakhiri tindakan pendindasan kepada mereka.
Selanjutnya perguruan karate dengan berbagai aliran tumbuh subur. Antara lain Okinawa-te, Shuri-te, Naha-te dan Tomari-te. Lantas, “Bapak Karate” Shisin Funakoshi di tahun 1923 memperkenalkan karate secara terbuka di Jepang dan memunculkan berbagai aliran karate.
Selain atas izin perguruan untuk membuka nama perguruan baru yang telah memperoleh Dan VI, munculnya aliran karate, juga karena egosime ingin membesarkan nama diri sendiri.
Bahkan, ada karena ketatnya sistim uji kenaikan tingkat. Sehingga bermunculan perguruan yang menghilangkan sebagian materi ujian yang tadinya tidak mampu dikuasai.

AWAL BERDIRINYA PERGURUAN KARATE KALA HITAM
Awal berdirinya perguruan Karate Kala Hitam penganut aliran Kyokushin-karate atau Oyama-Karate bergaya full body contack, 20 Januari 1972 di Jalan Listrik Medan.
Ronny Simon dan Winta Karna, keduanya wartawan yang bergaung di PWI Cabang Medan, mengembangkan Kala Hitam dengan menerima para wartawan sebagai murid karena mengaku sering diancam tỉndak kekerasan karena tulisan yang cukup kritis, sebagai murid.
Bahkan, dengan semangat yang tinggi mampu menguasai teknik bela diri karate yang diajarkan pelatih Winta Karna. Tahun berikutnya olah raga karate sudah dipertandingkan pada Pekan Olah Raga Wartawan setiap tahunnya di Medan.
Kala Hitam terus memperoleh kemajuan luar biasa karena jumlah anggota terus bertambah termasuk para mahasiswa yang diantaranya adalah para penulis buku Perjalanan Perguruan Karate Kala Hitam Sejak 1972 ini.
Dalam perjalanan Perguruan Karate Kala Hitam banyak menorehkan prestasi dan keberhasilan tingkat daerah maupun nasional dan internasional. Bahkan, tidak edikit muridnya berhasil menjadi prajurit TNI dan Polri.
Lebih dari itu, beberapa perwira berhasil mendapat sabuk hitam. Antara lain, Jenderal TNI Ryamizard Raycudu (KSAD) yang juga Dan V, Jenderal TNI Luhut Binsar Panjaitan pejabat Menteri Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto. Tidak ketinggalan, Rahmat Shah yang saat itu Konjen Kehormatan Turki Indonesia peraih Dan IV. (Bersambung)






