Oleh: Samro Himtihani Nasution
Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian ketika kesempatan berbuat baik dan berbakti kepada orang tua telah berlalu dan penyesalan datang tanpa dapat mengembalikan waktu.
Banyak diantara kita yang mengalami hal tersebut. Tanpa sadar, kita sejak buaian ibu dan ayah, sampai dewasa lalai untuk berbakti. Hanya sekedar menanyakan kabar orang tua karena merasa sibuk dengan pekerjaan ataupun hidup masing-masing.
Kita sering baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah kehilangan dirinya. Ketika orang tua masih hidup, kita merasa masih memiliki banyak waktu. Kita menunda mengunjungi mereka karena kesibukan.
Kita menunda menelepon karena pekerjaan. Kita terkadang menjawab pertanyaan mereka dengan nada tinggi karena merasa lelah. Kita bahkan bisa merasa terganggu ketika mereka terlalu banyak bertanya atau mengulang cerita yang sama.
Orang tua adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT hadirkan dalam kehidupan kita. Kehadiran mereka sering kali kita anggap sebagai sesuatu yang biasa. Kita terbiasa mendengar suara ibu, melihat wajah ayah, menerima nasihat mereka, dan merasakan perhatian mereka.
Karena sudah terbiasa, terkadang kita lupa bahwa semua itu adalah nikmat yang tidak selamanya Allah titipkan kepada kita.
Namun, ketika mereka telah tiada, semuanya berubah. Suara mereka tidak lagi terdengar. Tangan mereka tidak lagi dapat kita cium. Nasihat mereka tidak lagi dapat kita dengarkan secara langsung. Saat itulah penyesalan sering muncul.
Kita mungkin berkata dalam hati, “Seandainya dulu saya lebih sering datang,” .”Seandainya dulu saya lebih sering menelepon,”. “Seandainya dulu saya tidak membentak,” .”Seandainya dulu saya lebih banyak meluangkan waktu.”
Tetapi waktu tidak dapat kembali. Karena itu, jangan tunggu kehilangan untuk berbakti kepada orang tua.
Perintah Allah untuk Berbakti kepada Orang Tua
Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada orang tua. Bahkan, Allah SWT menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah menyembah-Nya.
Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23).
Ayat ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar tradisi atau kewajiban sosial. Birrul walidain merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Allah kemudian memberikan penekanan khusus ketika orang tua memasuki usia lanjut: “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Allah melarang perkataan yang sangat ringan, yaitu “ah”. Jika berkata “ah” saja dilarang, tentu membentak, memaki, merendahkan, atau menyakiti hati orang tua lebih patut kita hindari.
Pengorbanan orang tua tdak akan pernah selesai kita balas. Cobalah kita mengingat kembali masa kecil.
Ketika kita belum mampu berjalan, ibu menggendong kita. Ketika kita belum mampu makan sendiri, ibu menyuapi kita. Ketika kita sakit, orang tua merasa khawatir. Ketika kita menangis, mereka berusaha menenangkan. Ketika kita membutuhkan pendidikan, mereka berusaha memenuhi kebutuhan kita.
Seorang ayah mungkin bekerja sejak pagi hingga malam. Ia menanggung lelah demi memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang ibu mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus rumah dan anak-anak.
Mereka tidak selalu meminta balasan, mereka hanya ingin melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik.
Ketika kita masih kecil, orang tua memberikan waktunya untuk kita. Ketika mereka sudah tua, mungkin keadaan justru berbalik. Mereka membutuhkan waktu kita.
Dahulu mereka mengantar kita ke sekolah, sekarang mungkin kita yang harus mengantar mereka ke dokter.
Dahulu mereka membimbing kita ketika belajar berjalan, sekarang mungkin kita yang harus menggandeng tangan mereka ketika berjalan.
Dahulu mereka menjaga kita ketika sakit, sekarang mungkin mereka yang membutuhkan kita ketika tubuh mereka mulai lemah.
Inilah kehidupan, masa akan berubah karena itu, jangan merasa keberatan ketika orang tua membutuhkan perhatian kita.
Berbakti Tidak Selalu Berarti Memberikan Materi
Sebagian orang menganggap bahwa berbakti kepada orang tua hanya dapat dilakukan dengan memberikan uang atau memenuhi kebutuhan materi mereka. Padahal, berbakti memiliki makna yang jauh lebih luas.
Berbakti dapat dilakukan dengan berbicara lembut. Berbakti dapat dilakukan dengan mendengarkan cerita mereka. Berbakti dapat dilakukan dengan mengunjungi mereka. Berbakti dapat dilakukan dengan membantu pekerjaan mereka. Berbakti dapat dilakukan dengan menjaga nama baik keluarga. Berbakti dapat dilakukan dengan memberikan perhatian. Berbakti dapat dilakukan dengan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Bahkan, tersenyum kepada orang tua dan menunjukkan kasih sayang juga merupakan bagian dari akhlak yang baik.
Tidak semua orang tua membutuhkan uang dalam jumlah besar. Terkadang yang mereka butuhkan hanya satu hal sederhana, kehadiran anaknya, mereka ingin melihat anaknya datang, mereka ingin mendengar suara anaknya, mereka ingin tahu bahwa anaknya masih mengingat mereka.
Maka, jika orang tua kita masih hidup, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya berikan kepada mereka?”.
Tanyakan juga: “Berapa banyak waktu yang sudah saya berikan untuk mereka?” Jangan Menunggu Mereka Tua untuk Mulai Berbakti, kita tidak pernah mengetahui berapa lama Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama orang tua.
angisan setelah kehilangan tidak dapat menggantikan kesempatan untuk berbakti ketika mereka masih hidup.
Mungkin kita pernah terlalu sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, teman, atau urusan pribadi sehingga melupakan mereka. Membuat mereka kecewa dengan kata-kata dan perbuatan yang tanpa sadar dilakukan.
Jika itu pernah terjadi, jangan biarkan kesalahan tersebut berlanjut. Jangan gengsi untuk mendatangi mereka, mencium tangan mereka, minta maaf yang tulus.
Sebagai anak, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan dengan mereka selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat Allah.
Jika orang tua kita telah meninggal dunia, bukan berarti bakti kita kepada mereka berhenti. Kita masih dapat mendoakan mereka.
Allah SWT mengajarkan sebuah doa: “Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)
Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa hubungan seorang anak dengan orang tua tidak berhenti hanya karena kematian.
Selama kita hidup, kita dapat terus mendoakan mereka. Kita dapat memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sahabat mereka, meneruskan kebaikan yang dahulu mereka ajarkan. Dan, kita dapat berusaha menjadi anak saleh yang membawa kebaikan bagi mereka.
Pada akhirnya, kita semua akan mengalami kehilangan, tidak ada orang tua yang hidup selamanya begitupun sebaliknya. Karena itu, jangan tunggu kehilangan untuk menyadari bahwa mereka berharga. Sebab ketika orang tua masih berada di samping kita, kita memiliki kesempatan yang tidak ternilai untuk menunjukkan cinta, penghormatan, dan rasa terima kasih.
Kelak, ketika mereka telah tiada, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk memperbaiki masa lalu, yang tersisa adalah doa, amal, dan kenangan. Maka selama Allah masih memberikan kesempatan, Berbaktilah hari ini, selagi mereka masih ada.
Penulis sendiri merasakan bahwa kehilangan orang tua, dalam hal ini seorang ayah, adalah rasa sakit yang tidak pernah benar-benar bisa dibayangkan sebelum mengalaminya sendiri.
Ketika ayah masih ada, mungkin menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa. Namun, setelah kepergiannya, barulah menyadari betapa berharganya suara, nasihat, senyum, dan kebersamaannya.
Ada kerinduan yang tak lagi bisa terobati dengan pertemuan, ada kata kata yang tak sempat terucap, dan ada kesempatan yang tak mungkin terulang.
Dari kehilangan ini, penulis belajar bahwa jangan pernah menunda berbakti kepada orang tua, sebab ketika mereka telah tiada, yang tersisa hanyalah kenangan, penyesalan, dan doa yang terus kita panjatkan. (Penulis: Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar)







