KALAU boleh dikatakan, suhu perpolitikan di Kota Siantar menjelang Pemilu 2024 seperti api dalam sekam. Meski apinya belum kelihatan tapi asap mulai mengepul ke udara. Sementara, pepatah lama bilang, kalau tidak ada api, tidak ada asap.
Asap itu ibarat kata bisu yang terlihat nyata meski tak dapat dipegang apalagi digenggam. Tetapi bisa ditangkap dan dimasukkan dalam botol sebagai bukti bahwa bendanya ada. Lantas, ada apa dengan asap itu?
Sebenarnya bukan asap sumber masalah. Tapi, api dalam sekam yang kalau dibiarkan, bakal menyala. Ketika dihembus semilir angin dengan gemulai, api semakin marak dan botol penyimpan asap akan meledak. Apalagi di sebelahnya ada kompor bersumbu dua belas atau kompor gas berapi biru bertabung non subsidi.
Akibatnya, lahan-lahan kering kerontang yang haus akan demokrasi terbakar. Padahal, demokrasi bukan hanya sekedar kata atau suara dari rakyat untuk rakyat. Demokrasi merupakan pola pikir sehat yang melahirkan kebebasan tanpa dipagari intimidasi dengan bayang-bayang terali besi berbalut pasal karet agar mudah ditarik ulur sampai kendor.
Dari dinamika yang berkembang, disebut bahwa suhu perpolitikan kota Siantar menjelang Pemilu 2024 sebagai tahun politik, mulai menghangat meski ada menyatakan itu keliru. Karena bukan mulai menghangat, tapi mulai memanas dan semakin memanas. Sehingga, Siantar sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Lantas kalau tidak sedang baik-baik saja, muncul tanya mengapa begitu? Bukankah soal suhu perpolitikan di Kota Siantar dari dulu sampai sekarang selalu memanas dan itu bagai sebuah tradisi? Terutama di tingkat elit jajaran eksikutif dengan legislatif yang sama-sama punya kepentingan.
Baik kepentingan sesaat atau kepentingan praktis. Tapi, bagi rakyat yang entah kapan berdaulat, itu tidak penting. Dapat memenuhi sejengkal perut dan berjengkal-jengkal perut anak, istri di rumah kontrakan, tentu sudah sangat lumayan. Kalau soal biaya untuk anak sekolah tetap dicari dengan membanting tulang, peras keringat sampai terasa kelat.
Sejatinya, antara legislatif dengan eksikutif merupakan mitra sejajar membangun Kota Siantar yang sampai saat ini belum jelas apakah sudah dibangun apa belum. Karena, rakyat berkelas sandal jepit belum merasa ada peningkatan kesejahteraan yang siginifikan akibat terjadinya kenaikan harga-harga berbagai kebutuhan pokok.
Kalau disebut suhu perpolitikan Siantar sejak dulu sering memanas dan itu sudah biasa, sekarang jelas beda. Sebelumnya para elit bersitegang dalam ruangan dan bergeser ke atas kertas untuk merubah angka-angka anggaran melalui kali-kali dan kalulasinya pakai rumus bagi-bagi.
Sekarang juga begitu, hanya saja lebih meluas karena berkaitan dengan tahun politik yang kalau dikait-kaitkan dengan kursi maupun jabatan, tentu sangat sensitif apakah masih bisa digenggam atau lepas. Baik itu melalui Pemilu Legislatif maupun melalui Pilkada Walikota.
Sementara, kalau dalam dunia politik dan duduk di kursi kekuasaan legislatif atau eksikutif bersandaran busa empuk dan bisa berputar, kekuasaan itu dapat menjadi candu memabukan. Tapi, bukan mabuk darat atau mabuk laut yang kalau meminum air laut, semakin diminum semakin dahaga. Melainkan mabuk di awang-awang angan tanpa batas.
Kembali kepada Siantar yang katanya sedang tidak baik-baik saja, Hal itu menyuara karena ada pihak yang dilarang berpolitik praktis atau lebih tegasnya ASN, terindikasi terlibat dukung mendukung Caleg tertentu dari salah satu partai politik tertentu pula.
Para ASN itu disebut sudah memijak garis peraturan hanya karena takut kehilangan jabatan. Padahal, jabatan merupakan amanah meski untuk mendudukinya pakai pelicin dan sebelum diangkat, ada perjanjian untuk dipenuhi secara praktis agar jabatan tetap digenggaman.
Memang ada peraturan dan sanksi kalau terbukti memijak garis peraturan yang berpotensi berdampak luas. Bukan hanya soal karier di pemerintahan, lebih dari itu ada sanksi moral yang akan membuat malu bagi mereka yang masih punya malu.
Sementara, tidak sedikit yang memandang pesimis terhadap elemen pengawas Pemilu agar dapat menegakkan peraturan berdiri lurus. Padahal, kalau tidak ada yang melapor, pelanggaran tentu dapat diperoleh dari hasil temuan.
Kata seorang Wakil Rakyat yang masih berteman baik dengan saya dan suka bicara pedas bagai rasa cabe yang harganya terus melejit mengatakan, para ASN harus sadar bahwa jabatan kepala daerah yang juga sebagai ketua partai ada batasnya.
Bahkan, jabatan tidak akan lestari kalau melakukan berbagai cara tanpa melihat ke atas bahwa di atas langit masih ada langit. Ketika kepala daerah berganti dan tidak lestari, apa yang bau akan tercium meski selalu disembunyikan sampai ke bawah bantal sebagai pengganjal kepala agar bisa tidur nyenyak.
Masalahnya, tembok, dinding, daun pintu, daun jendela dan tiang-tiang perkantoran punya telinga. Dapat bicara meski tanpa suara tentang siapa-siapa saja yang bau itu. Karenanya, kata Wakil Rakyat teman saya tersebut, hilangkan rasa takut kehilangan jabatan. Sehingga, kalau pun tidur tanpa bantal berkasur springbed, tetap bisa nyenyak tanpa dihantui mimpi buruk.
Saat ini, Pemilu 2024 semakin dekat dan akan semakin dekat saat bayang-bayang yang selalu mengikuti berubah menjadi musuh bagi diri sendiri. Sehingga, untuk menghilangkan bayang-bayang itu selalu menghindari cahaya. Tetap berusaha dalam gelap.
Saat ini juga, asap api dalam sekam itu semakin menebal dan akan menghitam pada waktunya kalau Siantar sedang tidak baik-baik saja. Maka, jadikan Siantar agar baik-baik saja, aman dan nyaman bagi siapa saja. Terutama kepada rakyat kelas sendal jepit yang dapat menjadi korban politik tanpa etika.
PENTUTUP
Biasanya dan sudah biasa, pada penghelatan akbar seperti pesta demokrasi, baik Pemilu Legislatif maupun Pilkada, mayoritas rakyat selalu dituding transaksional. Tapi, masalahnya bukankah karena ada pemberi maka ada penerima? (Penulis Alumni Fisip Komunikasi berdomisili di Kota Siantar)






