Oleh: Cynthia SPd MM
ISLAM tidak melarang perkembangan teknologi, termasuk media sosial. Namun, penggunaannya harus tetap berada dalam koridor syariat. Karena, segala aktivitas manusia, termasuk di dunia digital, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”(QS. Qaf: 18).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap perkataan, termasuk yang ditulis di media sosial, tidak luput dari pengawasan Allah SWT.
Di era digitalisasi saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas, mulai dari komunikasi, hiburan, hingga penyebaran informasi dilakukan melalui platform digital.
Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan, terutama bagi umat Islam dalam menjaga akhlak dan nilai-nilai keimanan.
Banyak pengguna media sosial tidak menyadari bahwa setiap unggahan, komentar, dan interaksi akan dimintai pertanggungjawaban. Karenanya, penting bagi seorang Muslim untuk menggunakan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan sebaliknya.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist itusangat relevan dalam penggunaan media sosial, khususnya saat berkomentar atau membuat konten. Dalam pandangan Islam, mengekspresikan kegalauan (perasaan sedih, kecewa, atau stres) di media sosial tidak langsung dilarang, tetapi harus memperhatikan adab, niat, dan dampaknya. Islam sangat menekankan menjaga lisan, termasuk “lisan digital” agar tetap dalam kebaikan.
Berikut penjelasan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits:
1.Islam Mengajarkan Menjaga Ucapan (Termasuk di Medsos)
Allah SWT berfirman: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18).
Ayat itu menunjukkan bahwa semua yang kita tulis di media sosial juga dicatat. Jadi, menggalau boleh saja, asal tidak mengandung hal yang dilarang, seperti:
a.Mengeluh berlebihan hingga menyalahkan takdir
b.Membuka aib sendiri atau orang lain
c.Menyindir, menyakiti, atau menyebarkan kebencian
2.Mengeluh kepada Allah Lebih Dianjurkan
Dalam Al-Qur’an, Nabi Ya’qub AS memberikan contoh: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan kesusahanku kepada Allah…” (QS. Yusuf: 86). Artinya, tempat terbaik untuk mencurahkan kegalauan adalah kepada Allah, bukan kepada publik.
3.Hadits tentang Berkata Baik atau Diam
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks medsos:
a.Jika postingan galau tidak membawa kebaikan, lebih baik tidak diposting.
b.Jika bisa memberi hikmah atau pelajaran, maka diperbolehkan.
4..Larangan Membuka Aib
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (membuka aibnya sendiri).”(HR. Bukhari dan Muslim). Curhat berlebihan di medsos bisa termasuk membuka aib pribadi serta mengumbar masalah rumah tangga atau hubungan. Ini tidak dianjurkan dalam Islam.
5.Boleh Mengungkapkan Perasaan, Asal dengan Cara yang Baik
Islam tidak melarang manusia merasa sedih atau galau. Namun, mengungkapkan dengan bahasa yang sopan dan tidak berlebihan. Lebih baik dalam bentuk doa, refleksi, atau motivasi serta menghindari dramatisasi yang mengundang perhatian berlebihan (riya’)
Dampak Media Sosial
Adapun dampak positif dari penggunaan medsos yaitu: Menjadi sarana dakwah, mempermudah komunikasi, menyebarkan ilmu pengetahuan, serta menjalin silaturahmi.
Selain itu dampak negatif penggunaan medsos, yaitu: penyebaran hoaks, ghibah (menggunjing) dan fitnah, kecanduan media sosial, menimbulkan iri dan dengki.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini sangat relevan dalam penggunaan media sosial, khususnya saat berkomentar atau membuat konten.
Cara Mengoptimalkan Media Sosial untuk Kebaikan:
1.Niat yang Benar
Segala aktivitas harus diawali dengan niat yang baik, termasuk dalam bermedia sosial.
2.Menyebarkan Konten Positif
Gunakan media sosial untuk menyebarkan dakwah, motivasi, dan ilmu yang bermanfaat.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan…” (QS. Ali Imran: 104)
3.Menjaga Etika dan Akhlak
Hindari berkata kasar, menghina, atau menyebarkan kebencian.
4.Tabayyun (Memeriksa Kebenaran Informasi)
Sebelum menyebarkan informasi, pastikan kebenarannya.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”(QS. Al-Hujurat: 6)
5.Menghindari Konten Negatif
Menjauhi konten yang mengandung maksiat, pornografi, dan hal yang melalaikan.
6.Menggunakan Waktu Secara Bijak
Tidak berlebihan dalam menggunakan media sosial agar tidak melalaikan dalam melaksanakan ibadah.
Media sosial adalah alat yang dapat membawa manfaat atau mudarat tergantung pada penggunanya. Dalam Islam, penggunaan media sosial harus dilandasi dengan niat baik, etika, serta tanggung jawab.
Dengan memanfaatkan media sosial untuk kebaikan, seorang Muslim dapat menjadikannya sebagai ladang amal menuju surga.
Sebagai generasi Muslim di era digital, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakan “jempol” kita untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan, agar setiap aktivitas digital bernilai ibadah di sisi Allah SWT. (Penulis: Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






