SIANTAR, SENTERNEWS
Haul bukan sekadar mengenang wafatnya seorang tokoh. Tetapi menjadi momentum penting untuk meneladani nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, serta pengabdian yang telah ditunjukkan Raja Sang Naualuh Damanik dalam sejarah Kota Siantar.
Pernyataan itu disampaikan Walikota Siantar Wesly Silalahi melalui sambutannya pada Haul Raja Sang Naualuh Damanik, di pelataran Masjid Raya, Jalan Masjid Kelurahan Timbang Galung Kecamatan Siantar Barat, Kamis (23/04/2026) malam.
“Beliau merupakan sosok pemimpin yang tidak hanya dikenal karena keberanian dan kebijaksanaannya. Tetapi juga karena komitmennya dalam menjaga persatuan, nilai-nilai adat, serta keharmonisan di tengah masyarakat,” ujar Walikota.
Walikota yang juga datang bersama Ketua PKK Ny Liswati Wesly Silalahi mengatakan, semangat Sang Naualuh Damanik sepatutnya diwariskan dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Terutama di kalangan generasi muda.
Setiap tahun, Haul Raja Sang Naualuh Damanik terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh-tokoh yang telah berjasa, sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Pematangsiantar.

Sementara, ahli waris Raja Sang Naualuh Damanik, Tuan Difi Sang Nuan Damanik memaparkan, buyutnya memiliki empat istri. Istri terakhir, Boru Saragih dari Silampuyang dan menjadi permaisuri. Dari Boru Saragih, lahirlah Sarmahata Damanik.
Sarmahata Damanik memiliki tujuh anak. Putra Sulungnya, Syah Alam Damanik yang kemudian menjadi prajurit TNI Angkatan Udara (AU) dengan pangkat terakhir Marsekal Muda.
Dari pernikahannya dengan Halimah br Sinaga, Syah Alam Damanik memiliki tiga anak, yaitu 2 perempuan 1 laki-laki. Anak yang laki-laki itulah, Tuan Difi Sang Nuan Damanik.
“Saya punya kakak dan seorang adik. Saya ini kalau dikatakan, cicit dari Raja Sang Naualuh Damanik, Raja Siantar XIV,” kata Difi.
Tuan Difi Sang Nuan Damanik menyampaikan, ini kali pertama Haul Raja Sang Naualuh Damanik dilaksanakan di Masjid Raya Pematangsiantar yang ternyata diketahuinya, tanah Masjid Raya merupakan wakaf dari kakek buyutnya, Wakaf itu diharap menjadi amal jariyah dengan pahala terus mengalir kepada Raja Sang Naualuh Damanik.
Difi juga mengaku bangga sebagai cicit Sang Naualuh Damanik yang bukan hanya fokus juga terhadap masyarakat Muslim di Pematangsiantar. Lebih dari itu kepada masyarakat Nasrani dan umat lainnya. Dan itu menyebabkan Siantar melekat sebagai Kota Toleransi.
Pada kesempatan itu, Tuan Difi Sang Nuan Damanik mengucapkan selamat kepada Kota Pematangsiantar yang meraih peringkat 4 Indeks Kota Toleran (IKT) di Indonesia. Harapannya terus dipertahankan ke depannya.
“Semoga haul perdana di Masjid Raya ini dapat dilanjutkan untuk tahun-tahun berikutnya. Kita bisa diskusi, dan menggali lebih lanjut tentang suri keteladanan Raja Sang Naualuh Damanik XIV,” katanya.
Sementara, Badan Kenaziran Masjid (BKM) Masjid Raya Pematangsiantar Prof Dr Ir Harmein Nasution MSi mengucapkan terimakasih kepada Walikota, pimpinan OPD, TNI/Polri, perbankan, dan tamu lainnya yang telah hadir pada acara Haul Raja Sang Naualuh Damanik.
“Pada Haul kita memperingati wafatnya, itulah makna Haul. Kita peringati karena memberikan dampak yang begitu besar kepada kehidupan bermasyarakat,” ucapnya.
Harmein menjelaskan, tahun 1906, tanah Masjid Raya diwakafkan Raja Sang Naualuh Damanik kepada masyarakat, yang diterima tokoh masyarakat saat itu diwakili Tuan Syech H Abdul Jabbar Nasution dan Pangulu Hamzah Daulay.
“Masjid Raya ini dibangun tahun 1906, digunakan untuk shalat Jumat tahun 1911. Masjid Raya ini termasuk tujuh masjid yang bersejarah di Indonesia. Karena salah satu yang langsung terlibat membangunnya adalah Raja Sang Naualuh Damanik,” paparnya.
Masjid Raya yang ada di Sultan Deli juga tahun 1906 yang tahunnya sama dengan pembangunan maasjid Raya Kota Siantar. “Jangan-jangan mereka berkoordinasi waktu itu. Dengan memperingati Haul Raja Sang Naualuh Damanik dapat memberikan hikmah,” terang Harmein yang merupakan cucu Syech Abdul Jabbar Nasution.
Harmein menegaskan agar jangan main-main dengan Raja Sang Naualuh Damanik. “Perlu kita lestarikan, perlu kita membuat buku tentang kepemimpinan Raja Sang Naualuh Damanik. Sehingga di kemudian hari bisa jadi bahan ajar untuk sekolah-sekolah di Pematangsiantar dan Simalungun,” jelasnya.
“Jadi pada kesempatan ini, mari kita kaji kembali jiwa kepemimpinan, Intangible Asset, sehingga Siantar ini memiliki wisata religius. Tren ke depan adalah wisata yang authentic dan genuine. Inilah ke depannya harus dirawat oleh Pemko Pematangsiantar. Seperti semboyan kita, Sapangambei Manoktok Hitei, bergotong royong untuk tujuan yang mulia,” lanjut Harmein.
Sedangkan narasumber Drs Shohibul Anshor Siregar MSi sebagai akademisi paparkan sejarah Raja Sang Naualuh Damanik.
Haul juga dihadiri Wakil Walikota Herlina, Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak SH SIK MH, Dandim 0207/Simalungun Letkol Inf Gede Agus Dian Pringgana, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar Ahmadi Rahman dan perwakilan Forkopimda lainnya.
Ketua Yayasan Raja Sang Naualuh Damanik Evra Sassky Damanik didampingi sekretaris Edi Juniharto. Ketua MUI Pematangsiantar, Drs H M Ali Lubis Ketua Dewan Masjid Indonesia Pematangsiantar Drs H Natsir Armaya Siregar, pimpinan organisasi Islam, pimpinan OPD Pemko Siantar dan lainnya. (In)






