SIANTAR, SENTERNEWS
Akibat nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar terus melemah, terjadi kenaikan berbagai harga bahan baku usaha dan kebutuhan pokok rumah tangga. Akibatnya, pelaku usaha menjerit dan ibu rumah tangga mengeluh.
“Harga kedelai yang diimpor dari Amerika melejit naik sampai Rp40 per karung ukuran 50 Kg. Mau tidak mau, kita harus membeli karena kedelai lokal tidak berkualitas,” kata Hendro pengelola usaha tahu dan mie kuning basah di Jalan Pitola, Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur Kota Siantar, Senin (15/06/2026).
Dijelaskan, saat harga berbagai bahan baku mengalami kenaikan, tidak mungkin menaikkan harga tahu dan mie kuning basah karena pembeli sepi. Apalagi minat beli semakin rendah.
“Sebenarnya kita menjerit. Untuk dapat bertahan saja sudah bagus,” kata Hendro sembari mengatakan bahwa kondisi saat ini tentu membuat para pengusaha kecil bawah sepertinya resah. ”Kami butuh perhatian pemerintah supaya usaha tidak mati,” imbuhnya.
Terpisah, Bakhtiar sebagai pengusaha kebutuhan pokok membenarkan bahwa minat beli masyarakat semakin lemah akibat kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok. “Kenaikan harga tidak drastis. Tetapi berangsur-angsur. Misalnya, beras,” imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakan, menurunnya minat beli masyarakat akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok suatu hal yang lumrah karena upah masyarakat yang bekerja informal atau buruh, tidak mengalami kenaikan.
“Di sinilah masyarakat butuh perhatian pemerintah supaya perekonomian masyarakat tidak gulung tikar,” katanya mengakhiri. (In)







