SIANTAR, SENTERNEWS
Karena dinilai ada kejanggalan terhadap pelaku pengeroyokan yang membuat Jaka Malau meninggala dunia, Dahlia Siallagan sebagai ibu kandung menuntut keadilan hukum. Bahkan, berharap atensi DPR RI Komisi 3, agar peristiwa itu dapat diungkap dengan terang benderang.
Ibu rumah tangga beralamat di Medan Petisah, Kota Medan itu mengatakan, pihak keluarhga merasa sendiri menghadapi kasus tragis tersebut. Bahkan, sudah 2 Minggu setelah kematian putranya, seperti didiamkan.
“Polisinya saya kirim pesan gak dibalas, saya telepon pun tidak diangkat. |Kami, berharap tidak ada yang ditutup- tutupi terhadap kematian anak saya itu,” pukas Dahlia, ditemui di seputaran Kota Siantar, Minggu (14/6/2025) sekira pukul 16.00 WIB.
Dahlia mengaku tidak terima seperti dikatakan Kapolres Siantar pada gelar konferensi pers beberapa waktu yang menyatakan Jaka Malau tukang pembuat tato. Padahal, putra bungsunya itu sama sekali bukan pembuat tato. Hal itu, persis dengan informasi di seputaran lokasi kejadian.
“Saya pastikan anak saya bukan pembuat tato, saya tahu anak saya,” ujar Dahlia yang juga dibenarkan Tina Malau dan Rizki Malau sebagai kakak dan abang kandung korban Jaka Malau.
Permintaan sampai ke wakil rakyat di DPR RI Komisi 3 yang membidangi hukum, menurut keluarga korban, berharap dengan turun tangannya anggota dewan tersebut, dapat membuka tabir kematian Jaka Malau, kematian tragis yang dialami Jaka Malau.
“Mohon kepada komisi 3 di DPR RI di Jakarta untuk membantu kami dalam peristiwa kematian anak saya, bapak ibu DPR, tolong pak atensikan kematian anak saya ini pak, berikan keadilan buat kami bapak ibu komisi 3 yang di pusat Jakarta sana,” isak Dahlia meneteskan air mata.
Tina Malau membeberkan, kejanggalan terhadap kematian Jaka Malau, mengapa wajah pelakunya tidak bisa dilihat. Sementarakan sudah direalis, 3 orang lagi pelaku lainnya tidak bisa diketahui identitasnya.
“Kami berharap sampai ke aktor intelektualnya juga bisa terungkap. Belum lagi sampai sekarang SP2HP tidak diberikan, mau dihubungi menanyakan perkembangan pun tidak dijawab,” ungkapnya, mencerita luka dialami korban sungguh mengenaskan disekujur tubuhnya.
“Adik kami itu bukan kami biarkan, saya selalu komunikasi dengan nya. Bahkan mamak saya sering ke Siantar, terakhir dua minggu lalu jumpa,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Punguan Silau Raja, Ambarita Raja dan Sagala Raja, yang turut mendampingi keluarga korban, mengungkapkan fakta-fakta yang didapat di lokasi kejadian. “Hampir semua orang yang sering melakukan aktivitasnya di taman bunga, menyatakan korban adalah orang baik. Bahkan ada seorang wanita bermarga Purba, berani bersaksi kalau korban itu orang baik,” tegas Econ Damanik.
Hal senada disampaikan Rudi Malau, keterangan orang yang mengenal Jaka Malau juga menyebutkan bukan korban sebagai orang yang membuat tato, tapi orang lain dan orang berbeda.
“Sebagai Popparan Silau Raja, kami masih mempercayakan penuh kasus ini sama kepolisian, terkhususnya Polres Pematangsiantar yang menangani perkara ini. Penyidik punya teknis dan strategi sendiri dalam pengungkapan kasus ini sampai benar- benar tuntas semua dan seterang- terangnya,” imbuh pria yang merupakan advokat ini.
Sekedar informasi, peristiwa berdarah itu terjadi, Kamis 28 Mei 2026 sekitar pukul 21.20 WIB di kawasan Taman Bunga, Jalan Merdeka, Kelurahan Dwikora. Tepat di depan Kantor Walikota Siantar.
Dari 6 orang terduga Pelaku, 2 orang menyerahkan diri pada tanggal 1 Juni sudah ditahan dan menjalani proses hukum Roitnandah Panjaitan, 24 tahun, dan Frengki Silaen, 30 tahun, Satu orang lainnya masih dirawat di rumah sakit sehingga belum bisa ditahan. (Rel)







