Oleh : Sri Wahyuni S Pd M Pd
Frasa ”in this economy” sering muncul di media sosial ketika seseorang melihat harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya pendidikan yang semakin mahal, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, atau daya beli masyarakat yang menurun.
Frasa tersebut menjadi ungkapan sederhana untuk menggambarkan kenyataan bahwa hidup saat ini terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Di tengah kondisi seperti itu, setiap kali bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan, muncul pertanyaan yang patut direnungkan, apakah kemerdekaan masih memiliki makna ketika banyak orang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup?
Ketika banyak orang masih berperang bukan melawan penjajah tetapi melawan isi dapur mereka sendiri?
Pernyataan bahwa kemerdekaan hanya seremonial dan bukan kesejahteraan mencerminkan kritik mendalam terhadap realitas sosial ekonomi, di mana perayaan seringkali lebih meriah daripada distribusi kemakmuran yang merata.
Meskipun upacara adalah penghormatan sejarah, substansi kemerdekaan sejati seharusnya membebaskan dari kemiskinan dan ketidakadilan.
Banyak pihak menekankan bahwa kemerdekaan bukan semata seremonial, melainkan mandat sejarah untuk mewujudkan Indonesia maju dan sejahtera.
Upacara bendera tetap penting sebagai bentuk nasionalisme dan pengingat perjuangan pahlawan, bukan sekadar perayaan hura-hura.
Esensi kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika seluruh rakyat merasakan kebebasan dari kemiskinan, ketidakadilan, dan tekanan, menjadikannya sebuah proses perjuangan yang berkelanjutan.
Pandangan Islam dalam Memaknai Kemerdekaan
Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan suatu bangsa. Kemerdekaan juga berarti memiliki kebebasan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bekerja secara halal, menjaga kehormatan diri, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, meskipun kondisi ekonomi sedang sulit, makna kemerdekaan tidak boleh hilang. Justru dalam keadaan sulit, nilai-nilai Islam menjadi pegangan agar manusia tetap memiliki harapan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Ayat ini tidak mengatakan bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan.
Artinya, setiap ujian selalu disertai peluang, hikmah, dan jalan keluar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang beriman.
Kemerdekaan Tidak Diukur dari Isi Dompet
Sering kali seseorang merasa tidak merdeka karena kondisi ekonominya. Padahal Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketakwaannya.
Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, tetapi hidupnya dikuasai oleh keserakahan, utang konsumtif, dan kecemasan yang tidak pernah selesai.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenang karena yakin bahwa rezeki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang tidak diperbudak oleh hawa nafsu, gaya hidup berlebihan, dan kecintaan terhadap dunia.
Rasulullah bershallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Hadits ini sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Di era media sosial, seseorang mudah merasa miskin bukan karena kekurangan, tetapi karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Islam mengajarkan qana’ah, yaitu merasa cukup terhadap rezeki yang halal sambil terus berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Bersyukur Bukan Berarti Berhenti Berjuang
Sebagian orang memahami syukur sebagai menerima keadaan apa adanya tanpa usaha. Padahal syukur dalam Islam selalu berjalan berdampingan dengan ikhtiar.
Petani tetap menanam meskipun musim tidak menentu. Pedagang tetap berusaha meskipun daya beli menurun. Guru tetap mengajar dengan penuh dedikasi. Mahasiswa tetap belajar meskipun peluang kerja semakin kompetitif.
Semua itu merupakan bentuk syukur yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat itu mengajarkan bahwa perubahan memerlukan usaha. Kemerdekaan harus diisi dengan produktivitas, kreativitas, dan kerja keras yang dilandasi kejujuran.
Tantangan Ekonomi Tidak Boleh Menghilangkan Kepedulian
Kondisi ekonomi yang sulit sering kali membuat orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal Islam justru mengajarkan solidaritas ketika keadaan sedang berat.
Zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan instrumen yang Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan agar kesulitan ekonomi tidak hanya dipikul oleh individu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
Ketika sebagian masyarakat mengalami kesempitan, mereka yang memiliki kelebihan harta diperintahkan untuk membantu. Kemerdekaan akan terasa lebih bermakna apabila masyarakat saling menguatkan.
Membeli produk usaha kecil, membantu tetangga yang kesulitan, membuka peluang kerja, atau sekadar berbagi makanan merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai Islam.
Jangan Sampai Terjajah oleh Mentalitas Konsumtif
Salah satu tantangan terbesar “in this economy” bukan hanya mahalnya harga barang, tetapi juga budaya konsumtif.
Banyak orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena mengikuti tren, fomo, gengsi, atau tekanan media sosial. Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Ayat itu tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga mengandung prinsip hidup sederhana dan tidak boros.
Kemerdekaan ekonomi dimulai dari kemampuan mengelola rezeki dengan bijaksana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari pemborosan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Optimisme
Islam melarang umatnya berputus asa. Seberat apa pun keadaan ekonomi, seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus berusaha.
Hari Kemerdekaan menjadi pengingat bahwa bangsa ini pernah melewati masa yang jauh lebih berat, yaitu penjajahan, kelaparan, peperangan, dan keterbatasan.
Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, semua itu dapat dilalui karena adanya persatuan, semangat, dan keyakinan akan masa depan. Nilai yang sama harus terus dihidupkan pada masa kini.
Kita membutuhkan generasi yang bekerja keras, berwirausaha secara jujur, meningkatkan kompetensi, memanfaatkan teknologi untuk hal yang produktif, serta menjadikan agama sebagai pedoman dalam mengambil keputusan ekonomi.
Kesimpulan
Memaknai kemerdekaan “in this economy” berarti menyadari bahwa tantangan ekonomi memang nyata, tetapi tidak boleh menghilangkan rasa syukur, semangat bekerja, dan kepedulian terhadap sesama.
Kemerdekaan bukan jaminan bahwa hidup akan selalu mudah. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk berikhtiar tanpa penjajahan, beribadah tanpa tekanan, dan membangun masa depan dengan nilai-nilai yang diridai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk menghadapi kesulitan dengan iman, menjawab tantangan dengan kerja keras, serta menguatkan masyarakat melalui solidaritas.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi menjadi kekuatan moral yang melahirkan pribadi yang tangguh, keluarga yang sejahtera, dan bangsa yang bermartabat.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, marilah kita menjaga keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, usaha adalah kewajiban, dan kepedulian kepada sesama adalah ciri masyarakat yang benar-benar merdeka.
Itulah makna kemerdekaan yang selaras dengan ajaran Islam. (Penulis : Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






