SIANTAR, SENTERNEWS
Aksi unjukrasa Aliansi Majelis Rakyat Berdaulat (Oposisi Sipil) yang mengusung slogan “Makzulkan Walikota Pematangsiantar” bergerak dari Pelataran Tugu Sang Naualuh Damanik, Jalan Sang Naualuh Damanik, Kota Siantar, Selasa (19/05/2026) sekira pukul 11.00 WIB.
Di sepanjang jalan Sutomo, massa yang jumlahnya mencapai seratusan, terdiri dari kelompok GMNI, HMI dan masyarakat, konvoi di belakang mobil pickup menyusung sound sistim. Dan, massa aksi juga mengusung spanduk, bendera serta puluhan poster.
Di depan kantor pintu gerbang Kejaksaan Negeri (Kejari) Siantar, unjukrasa dengan koordinator aksi Mora Matondang berhenti dan Niko Gurning dari GMNI serta Jihan Akbar Nasution dari HMI melakukan orasi secara bergantian.
Jelang beberapa saat, pihak Kejaksaan Negeri Siantar melalui M Reza Kurniawan yang mengaku mewakili Kepala Kejari menerima pengunjukrasa. Meski awalnya sempat terjadi perdebatan, massa aksi akhirnya menyampaikan catatan tertulis dalam map warna merah jambu terkait dugaan korupsi di Pemko Siantar. Bahkan, diduga melibatkan Walikota Siantar.
“Dugaan korupsi yang kami sampaikan sudah hasil kajian dan kami minta supaya ditindaklanjuti,” kata Niko Gurning didampingi Mora Matondang.
Setelah menerima berkas tertulis dalam map, M Reza Kurniawan mengatakan, akan menyampaikannya kepada atasan. Kalau soal tindaklanjut, tentu ada proses yang dilakukan.
“Terimakasih atas aspirasi yang sudah disampaikan dan saya akan menyampaikannya kepada atasan,” kata M Reza Kurniawan.
Terkait berkas yang disampaikan pengunjukrasa itu, sesuai dengan pernyataan sikap pengunjukrasa. Di antaranya terkait dugaan mark up pembelian eks rumah singgah Covid-19, dugaan keterlibatan Walikota terkait tindak pidana mafia proyek, pencucian uang dan lainnya.
Sebelum meninggalkan Kejari, massa aksi mendesaak agar aspirasi mereka segera ditindaklanjuti. Apabila tidak juga ditindaklanjuti, siap menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar.
Dari Kantor Kejaksaan Negeri, massa aksi bergerak ke Polres Siantar yang hanya berjarak beberapa meter. Namun, tidak langsung melakukan orasi meski pintu gerbang Polres Siantar sudah dijaga puluhan personel lengkap menggunakan seragam.
Massa aksi sejenak berteduh dari terik panasnya matahari di bawah pohon pulau jalan sembari tetap melakukan orasi “kecil-kecilan”.
Sejam kemudian, pengunjukrasa baru merapatkan barisan menghadap pintu gerbang dan mempertanyakan sudah sejauh mana laporan mereka terkait pemukulan seorang mahasiswa saat berlangsung Musda KNPI Pematangsiantar di Siantar Hotel beberapa hari lalu.
Pada kesempatan tersebut, massa aksi menyatakan ingin bertemu Kapolres. Namun yang menerima, Kasat Reskrim AKP Sandi Riz Akbar.
Soal pemukulan mahasiswa yang berlangsung saat Musda KNPI lalu tersebut, dikatakan sedang dalam proses. Bahkan, dalam waktu dekat akan memanggil saksi-saksi.
Usai dari Polres Siantar, massa aksi bergerak ke kantor DPRD Siantar yang ternyata pintu gerbangnya tertutup rapat dan dijaga puluhan personel Polres Siantar. (In)






