SIANTAR, SENTERNEWS
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Muhammad Bobby Nasution melalui surat No 200.14/12478/2025 menghimbau kepada Bupati/Walikota agar Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 dilaksanakan secara sederhana, khidmat dan tidak berlebihan.
Pada surat tertanggal 24 Desember 2025 itu, ditegaskan, kondisi daerah saat ini berada dalam suasana duka dan keprihatinan karena terjadinya bencana alam di berbagai daerah di wilayah Sumatera Utara.
Sementara, di Kota Siantar surat Gubsu itu dinilai diabaikan. Karena, Walikota Siantar, Wesly Silalahi menempatkan hiburan di atas tanggung jawab publik yang berlangsung megah di lapangan H Adam Malik, Kota Siantar dengan dengan sponsor rokok.
Pernyataan itu disampaikan Imran Simanjuntak selaku akademisi sekaligus pemerhati sosial dan politik. Karena, ketika ribuan warga Sumatera Utara masih berjuang dari puing bencana, kebijakan Walikota Siantar justru memilih pesta megah Ttahun Baru.
“Dari sisi kemanusiaan, kegiatan itu sebagai pengkhianatan empati, duka rakyat ditutup dengan perayaan. Dari sisi kebijakan, ini adalah kelalaian nyata, mengabaikan edaran Gubsu dan menempatkan hiburan di atas tanggung jawab publik,” kata,” katanya, Rabu (31/12/2025).
Dari sisi sosial, perayaan itu memperdalam jurang ketidakadilan, yang berduka semakin terpinggirkan. Sementara elit tidak menginspirasi masyarakatnya untuk bersolidaritas malah berpesta ria.
”Dari sisi politik, langkah ini mencerminkan kepemimpinan yang lebih tunduk pada kepentingan sponsor dari pada amanat rakyat. Inilah wajah euforia yang menyingkirkan kemanusiaan dan solidaritas,” kata Imran.
Untuk itu, Imran Simanjuntak berpendapat, Walikota harus mampu merestart ulang. Akan kah panggung mega dengan nuansa perayaan di sulap menjadi panggung amal? Akankah para pejabat kota ini berhadir dalam euforia kemeriaan sebuah peayaan atau hadir sebagai donatur ?
“Akankah masyarakat dapat pencerahan kemanusiaan hingga membentuk kesadaran atau hanya ritual akhir tahun tanpa sisi sosial humanisme… itu akan kita lihat malam ini,” katanya lagi.
Dikatakan juga, awalnya pesta karena desakan dari berbagai elemen.”Tiga hari yang lalu flayer berubah pakai donasi dan barkode cris. Ini ironis,” tutupnya.
Sekedar informasi, Surat Gubsu menyatakan, selain dilaksanakan secara sederhana, khidmat dan tidak berlebihan, pelaksanaan Nataru 2026 juga meniadakan atau membatasi kegiatan perayaan yang bersifat euforia berlebihan, pesta terbuka, pesta kembang api dan aktivitas lain yang tidak sejalan dengan suasana keprihatinan yang dialami bersama.
Bupati/Walikota diminta memberikan arahan kepada masyarakat untuk mengedepankan doa, empati, solidaritas sosial serta kepedulian terhadap sesama dalam seluruh rangkaiankegiatan.
Selalu menjaga ketertiban, keamanan, serta toleransi antar umat beragama diwilayah masing-masing selama periode Natal dan Tahun Baru. “Demikian disampaikan untuk dapat segera dilaksanakan,” tulis Gubernur yang mendandatangani surat edarannya.(In)






