SIANTAR, SENTERNEWS
Selama 40 hari dalam bentuk darah dan 80 hari menjadi segumpal daging, 40 hari berikutnya ada tulang dalam daging, malaikat diperintahkan Allah SWT meniupkan ruh kepada janin.
Ketika ruh ditiupkan menjadi manusia, di situlah ditentukan berapa banyak rezeki dan berapa lama hidup di dunia. Setelah sembilan bulan sepuluh hari, bayi dilahirkan seorang ibu dengan rasa sakit dan pengorbanan darah.
Pernyataan itu merupakan tausiah Al Ustadz H. Husnul Arifin M Pd melalui Safari Shubuh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar , di Masjid Al Hilal, Jalan Melanton Siregar, Pematangsiantar, Minggu (26/09/2026).
Ketika bayi dilahirkan menangis. Selain alasan medis, juga sebagai pertanda beratnya tanggungan dunia yang penuh tantangan dan maksiat di antara sesama maupun kepada Allah SWT dalam hidup dan kehidupan.
“Demi Waktu, Allah yang menciptakan waktu, yang menjalankan waktu begitu cepat, seperti tiada pernah berhenti,” imbuh H Husnul Arifin.
Ada mengatakan, “Time is Money” yang memanfaatkan waktu untuk mencari materi semata. Padahal waktu itu seperti pedang yang kalau tidak terampil menggunakannya, dapat mencelakakan diri.
“Kalau tidak mampu dan tidak hati-hati menggunakan waktu, kita akan digilas waktu.
Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian atau bangkrut karena tidak mampu memanfaatkan waktu untuk beriman dengan ikhlas,” ujarnya.
Dijelaskan juga, hati atau kalbu merupakan sentral niat untuk mengabdi kepada Allah dan hati (akhlak) harus sehat. “Kalau hati baik, baiklah manusia itu,” imbuhnya.
Untuk menguatkan hati menjadi baik, dapat dilakukan dengan zikir, sholat dengan khusuk sebagai makanan rohani untuk memperkuat fisik. Kemudian, menghindarkan diri merasa lebih dibandingkan orang lain.
“Mari gunakan sisa waktu yang tidak kita ketahui berapa lama lagi karena hidup akan berakhir menuju alam barzah dan kehidupan akhirat,” ujar H Husnul Arifin sembari mengatakan, sesama manusia wajib saling mengingatkan menuju kebaikan.
Sebelumnya, H Zainal Siahaan SE MM sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pematangsiantar melalui sambutannya mengatakan, Safari Shubuh merupakan program Komisi Dakwah MUI yang terus dilakukan secara bergantian dari masjid ke masjid.
Tujuannya juga untuk bersilaturahmi dan menyampaikan berbagai program yang sudah dilaksanakan. Antara lain pembinaan muallaf, dan PDKU maupun program lain yang berkaitan dengan kepentingan umat.
“Beberapa hari lalu, MUI Pusat melakukan monitoring dan evaluasi ke MUI Pematangsiantar dan hasilnya, alhamdullillah kinerja MUI Pematangsiantar dinilai baik,” ujar H Zainal Siahaan.
Usai Safari Shubuh yang dipandu Al Ustadz Fakhrudin Sagala M Pd dan diawali dengan
pembacaan Ayat Suci Al Qur’an oleh Al Ustadz Angga Pratama Nasution S PdI itu, dilakukan serapan bersama jamaah serta bincang-bincang dengan BKM Masjid Al Hilal.
“Terimakasih atas kunjungan pengurus MUI ke masjid kami untuk yang kesekian kalinya,” kata Ketua BKM Masjid Al Hilal, H Sahat Silalahi.
Pengurus MUI Pematangsiantar yang juga turut menghadiri Safari Subuh antara lain, Muhammad Rusli M Pd M. Thaib MA, Sarjono SHI, Rahmat Ridwan S Sos, Yoandi Putra S PdI, Imran Nasution S Kom, Abdul Rasyid M Si, H M Syukri Batubara, Dra Hj Rayani Purba, Dra Nurlelawati Lubis dan Agus P Nasution S PdI (MUI Kec. Siantar Marimbun). (In)






