SIANTAR,SENTER NEWS
Meski saat ini sudah memasuki bulan Ramadhan 1444 H dan tak lama lagi tiba Idul Fitri, suasana kota Siantar tampak masih seperti suasana Imlek. Terbukti, pernak-pernik seperti lampion kertas warna merah, masih mendominasi di sejumlah lokasi.
“Imlek bulan Januari lalu sudah lewat. Tapi, pernak-perniknya masih bertaburan seperti masih suasana Imlek.Padahal, sekarang sudah bulan Ramadhan 144 H dan Idul Fitri tinggal sebentar lagi,” ujar Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Siantar, Drs H M Natsyir Armaya Siregar, Sabtu (8/4).
Dijelaskan, Wali Kota Siantar seharusnya memahami situasi dan kondisi saat ini. Artinya, harus peka dengan dinamika yang berkembang. Apalagi Kota Siantar tidak lagi sebagai kota paling toleransi di Indonesia. Bahkan, sudah terdepak dari 10 besar.
Untuk itu, H M Natsyir Armaya mengatakan bahwa hal-hal yang sensitif tentang kota Siantar yang penduduknya terdiri dari beragam suku dan agama maupun golongan, jangan pernah diabaikan dan dianggap sebagai persoalan kecil.
“Kita harap, Wali Kota tidak hanya melakukan kegiatan serimonial dengan melakukan kunjungan kesana dan kemari. Harusnya lebih fokus dengan hal lain yang lebih mengedepankan kepentingan yang lebih besar,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, soal adanya “insident” penutupan bazar Imlek Fair yang sempat viral di dunia maya beberapa waktu lalu sehingga Wali Kota dituding tidak toleran atau intoleran, harusnya menjadi pelajaran agar Siantar kembali meraih predikat kota paling toleransi di Indonesia.
“Kita pernah meraih predikat kota paling toleransi di Indonesia tahun 2015. Kemudian, tahun 2016 turun pingkat kedua dan 2017, peringkat ketiga. Selanjutnya sampai sekarang terdepak di luar 10 besar. Ini harus jadi perhatian,” ujar HM Natsyir Armaya Siregar lagi.
Lebih lanjut dijelaskan, soal “insident” penutupan bazar Imlek Fair sebenarnya hanya pembentukan opini seolah-olah Wali Kota tidak toleran atau intoleran. Terbukti, situasi dan kondisi Kota Siantar tetap baik-baik saja dan kehidupan antar ummat beragama tetap berlangsung harmonis. Hanya saja, saat itu opini yang berkembang seperti diabaikan begitu saja.
“Saran saya, Wali Kota harus membuat agenda untuk duduk bersaam dengan berbagai tokoh agama yang ada di Kota Siantar. Ini penting dan itu sudah dilakukan Wali Kota sebelum-sebelumnya,” kata H M Natsyir Armay Siregar mengakhiri.
Terpisah, Kadis Kominfo Kota Siantar, Johanes Sihombing yang dikonfirmasi soal masih banyaknya pernak-pernik Imlek di Kota Siantar. Sementara, Imlek sudah lama berlalu dan sekarang sudah Ramadhan, menjelang Idul Fitri, justru masih akan mengkordinasikannya dengan Dinas PRKP.
“Ya, segera akan saya koordinasikan dengan PRKP,” ujarnya sembari mengatakan bahwa pernak-pernik Imlek akan dibuka dan dipasang dengan pernak-pernik Idul Fitri yang bahannya sudah dibeli. (In)






