SIANTAR,SENTERNEWS
Para pedagang ikan laut di Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan Kota Siantar heran mengapa atap balairung tempat mereka berjualan yang sebagian sudah dibongkar tidak kunjung diperbaiki.
Namun, demikian pedagang tetap nekat berjualan di bawah atap dengan memasang tenda plastik untuk menghindari apabila datang hujan. Sementara, saat hujan tiba, lantai balairung digenangi air dan jadi becek. Sehingga, tampak begitu kotor dan kumuh.
Karena kondisi tersebut, para pedagang terpaksa harus menguras genangan air dengan caranya sendiri. Bahkan, ada menyusun batu supaya pembeli bisa melintasi lapak-lapak pedagang dengan harapan, pembeli tetap merasa nyaman untuk berbelanja.
“Setelah dibongkar, malah dibiarkan. Apakah kita pedagang ikan ini dianggap anak tiri?” ujar seorang pedagang sembari bertanya ada apa dengan Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya (PD PHJ) sebagai pengelola Pasar Dwikora, Selasa (27/2/2024).
Pedagang menjelaskan, pihak PD PHJ tidak pernah menjelaskan kepada pedagang kapan selesai perbaikan atap balairung yang roboh di akhir tahun baru 2024 lalu karena kerangka baja ringan sebagai penyangga banyak yang keropos.
Bahkan, sudah sekitar tiga minggu lebih tidak ada lagi pihak Pasar Dwikora berada di lokasi untuk memperbaiki atau memantau bagaimana kondisi kerangka baja ringan sebagai penyangga atap balairung yang sebagian sudah mulai keropos. Sehingga, pedagang kawatir akan ada atap yang akan ambruk lagi.
“Kalau katanya pihak PD PHJ tidak punya anggaran untuk perbaikan, manalah pedagang mengetahui. Tapi, harapan kami, Walikota juga memperhatikan nasib pedagang ikan ini. Pedagang juga tak ingin kondisinya terus seperti sekarang,” kata Khairil salah seorang pedagang.
Sebelumnya, Kepala Pasar Dwikora Putra Lubis mengatakan, soal perbaikan atap balairung yang ambruk terbentur soal anggaran. Sementara, pengajuan anggaran yang disampaikan kepada Pemko tidak direalisasi karena ada kendala soal teknis. (In)






