SIANTAR, SENTERNEWS
Unjukrasa Badan Eksikutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Universitas Simalungun (USI) Kota Siantar yang semula “panas” di Kantor Bea Cukai Pematangsiantar, berujung kondusif, Senin (27/04/2026) sekira pukul 10.30 WIB.
“Kami ingin menyampaikan aspirasi bahwa peredaran tokok ilegal tanpa cukai begitu bebas di pasaran. Tolong buka pintu gerbangnya. Terima kami,” kata Koordinator aksi, Rado Sidauruk melalui pengeras suara di depan pintu gerbang Bea Cukai, Jalan Sisingamangara, Kota Siantar.
Karena pintu gerbang yang dijaga puluhan personel Pores Siantar tidak juga dibuka, massa aksi sempat menuding bahwa pihak Bea Cukai diduga ada melakukan pembiaran dan ikut bermain.
Jelang beberapa saat, seorang pria yang mengaku sebagai Humasy Bea Cukai mengatakan, siap menerima aspirasi pengunjukrasa. Namun, karena dinilai tidak dapat membuat keputusan, massa aksi menolak keras dan minta supaya masuk untuk bertemu kepala Bea Cukai.

Meski tetap dihalangi, akhirnya massa aksi yang berjanji tidak akan melakukan tindakan anarkis, dipersilahkan masuk ke halaman kantor Bea Cukai dan tetap mendapat pengawalan dari personel Polres Siantar.
Saat pengunjukrasa kembali melakukan orasi di tengah panas terik matahari, pria yang mengaku sebagai Humas Bea Cukai malah terpancing dan mendekati mahasiswa sembari mengatakan bahwa mahasiswa itu belum selesai kuliah.
Akhirnya, massa aksi seperti “tersulut” dan berusaha mendekati Humasy yang juga malah turut mendekati massa. Melihat situasi semakin tegang bahkan memanas, pihak kepolisian berupaya melerai dan menarik pria itu supaya masuk ke kantor.
Selanjutnya, massa aksi kembali melakukan orasi dan tetap mendesak supaya kepala Bea Cukai menerima aspirasi BRM Fakultas Ekonomi USI.
”Kami beri waktu 15 menit. Kalau kepala Bea Cukai tidak juga datang, kami akan menerobos masuk ke ruangan kantor,” kata pengunjukrasa lainnya, Randa Wijaya melalui pengeras suara.
Karena matahari tetap terasa terik, pengunjukrasa akhir berteduh ke teras kantor yang terasa sejuk dan pihak Kepolisian meminta agar mahasiswa tertib karena sedang melakukan negoisasi dengan pihak Bea Cukai.
Jelang 15 menit kemudian, pihak Bea Cukai melalui kepala bidang Sekretariat, Imron datang menemui mahasiswa tanpa didampingi pria yang mengaku sebagai Humas . Bahkan, duduk bersama di atas lantai melakukan dialog dengan mahasiswa. Sementara, kepala Bea Cukai dikatakan sedang menjalani perawatan medis karena sakit.
“Kami selalu melakukan tindakan terhadap adanya peredaran rokok ilegal. Buktinya, sampai tahun 2026 ini, ada 471.262 batang rokok ilegal yang sudah dimusnahkan dan pelakunya sesuai ketentuan huku, sudah dikenakan denda,” kata Imron.
Tidak puas dengan jawaban tersebut, mahasiswa kembali mempertanyakan transparansi data tentang pedoman rokok dan barang ilegal di Kota Siantar. Termasuk total kerugian dan para pelaku kejahatan rokok ilegal serta barang ilegal lainnya.
“Kalau hanya keterangan lisan seperi yang bapak sampaikan, kami tentu kurang yakin, untuk itu, kami minta data yang akurat,” kata Randa Wijaya
Karena data itu harus di input, pihak Bea Cukai bersedia menyampaikannya pada Rapat Dengar Pendapat Umum dengan mahasiswa, Senin (4/5/2026).
“Kita siap melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan adik-adik mahasiswa seperti dalam kesepakatan tertulis yang sudah kita tandatangani,” kata Imron yang disambut mahasiswa dengan aplusan positif.
Karena, suasana aksi jadi kondusif, pihak pengunjukrasa dengan pihak Bea Cukai akhirnya bersalaman akrab.
Namun, sebelum membubarkan diri dengan tertib, Rado Sidauruk mengatakan, apabila pihak Bea Cukai mengingkari janji, siap kembali berunjukrasa dengan jumlah massa yang lebih besar. (In)






