SIANTAR, SENTERNEWS
Komisi Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Majelis Ulma Indonesia (MIUI) Kota Siantar, gelar Kajian Ilimiah dengan tajuk “ Peluang & Tantangan Umat Islam Memilih Pemimpin”, Sabtu (4/11/2023).
Kegiatan yang berlangsung di aula DP MUI Kota Siantar itu menghadirkan nara sumber, Prof D Hasan Bakti Nasution Guru Besar UIN SU dan H Maranaek Hasibuan (Kandidat Doktor) yang juga Ketua Komisi Komisi Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan MUI Kota Siantar.
Ketua panitia Drs Syalamudin Lubis M Pd mengatakan, Kajian Ilmiah mengusung tema, “Memperkokoh Siyasah Islamiyah Demi Mewujudkan Izzul Islam Wal Muslimin”. Peserta, MUI Kecamatan, Ormas Islam dan OKP Islam, BKM dan mahasiswa. Hadir juga Dewan Pertimbangan MUI Kota Siantar, Ustadz H Rafii Nasir BA dan sejumlah Ketua Komisi.
“Materti untuk memperkokoh Islamiyah Wal Muslimin sebagai kajian ilmiah ini diharap menjadi refrensi dan rekomendasi Komisi Fatwa MUI Kota Siantar,” ujar Drs Syalamudin Lubis M Pd melalui laporannya.
Ketua MUI Kota Siantar, Drs H M Ali Lubis yang resmi membuka Kajian Ilmiah menyatakan, Pesta Demokrasi atau Pemilu 2024 sudah disepakati secara nasional berlangsung 14 Februari 2024.
Untuk itu, umat Islam diharap dapat memilih pemimpin yang sidiq atau jujur, amanah atau dipercaya, fathanah atau cerdas serta tabligh yang maknanya menyebar informasi atau menyampaikan suatu pesan dengan transparan.
Dijelaskan, seorang ulama harus memberi contoh dan tauladan di tengah-tengah umat dan bersatu untuk saling menghormati, membesarkan dan memperhatikan demi kebersamaan. “Perbedaan selalu ada. Tapi jangan jadi berkelahi dan menimbulkan perpecahan. Jadikan sebagai bunga-bunga keindahan menuju persatuan,” kata Drs H M Ali Lubis.

KAJIAN ILMIAH
Usai acara pembukaan, nara sumber H Maranaek Hasibuan paparkan materi Islam dan Dominasi Kekuasaan. Jelaskan, Grafik Thingking Historical Muslem dan fakta sejarah Kekuasaan Islam.
“Dalam kajian ilmiah, harus berimbang karena ada dua paham yang saling berbeda,” kata H Maranaek sekaligus memaparkan Ikhtilaf Al Ulama tentang Wajib memilih Muslim dan menerima non Muslim.
Dijelaskan, agama merupakan faktor utama alasan pemilih menentukan pilihan. Seperti survei IPS, 80 persen pemilih beragama Budha terpengaruh faktor agama dari pasangan ketika menentukan pilihannya. Kalangan Muslim, memandang agama penting memilih sebesar 67,8 persen, diikuti Protestan 21,5 persen. Sedangkan Katolik dan Hindu, masing-masing 9,1 persen.
Nara sumber kedua, Prof D Hasan Bakti Nasution Guru Besar UIN SU memaparkan materi tentang Peluang dan Tantangan Umat Islam dalam Memilih Pemimpin/Wakil Rakyat pada Pemilu 2024, dalam presfektif Politik Islam.
Direktur Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumut itu mengatakan, umat Islam sebagai pemilih terbanyak, harus bicara politik karena Islam memiliki konsep politik. Bahkan, masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW ada “Piagam Madina” yang begitu tersohor.
Dijelaskan juga, faktor pilihan politik sangat terkait dengan prilaku politik masyarakat dalam menentukan pilihan. Pertimbangan paling pertama, politik pragmatis selalu mendominasi. Baik dengan memanfaatkan uang maupun memanfaatkan jabatan.
Kemudian, menjadikan agama sebagai dasar pilihan politik. Ideologis, idealis, kultural, dan tekanan kekuatan tertentu.“Umat Islam memiliki peluang meraih kekuasan eksikutif seiring dengan jumlahnya yang mayoritas. Namun, peluang ini akan terwujud jika berbagai tantangan dapat dieliminasi,” kata Prof D Hasan Bakti Nasution mengakhiri pemaparannya.
Kajian Ilmiah yang resmi ditutup Ketua MUI Kota Siantar itu juga memberi kesempatan kepada peserta untuk melakukan tanya jawab yang berlangsung dengan komunikatif. (In)






