SIANTAR, SENTERNEWS
Sebelum melakukan aksi donor darah tanggal 23 Agustus 2026, Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar gelar sosialisasi pelaksanaan donor darah dengan tema, “Setetes Darah Sejuta Harapan”.
Pada kegiatan yang berlangsung di aula MUI Pematangsiantar, Jalan Kartini, Minggu (16/08/2026) itu, Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Pematangsiantar, Drs H Rasyid Nasution yang juga Ketua Panitia mengatakan, donor darah tersebut merupakan rangkaian HUT Kemerdekaan ke 81 RI. Sekaligus Milad MUI ke 51 Tahun.
“Kegiatan ini direncanakan dua hari lalu dan langsung melakukan sosialisasi. Sedangkan donor akan dilaskanakan di kantor MUI Pematangsiantar,” kata Drs H Rasyid Nasution melalui laporannya.

Dijelaskan, para peserta sosialisasi terdiri dari ketua Komisi MUI Pematangsiantar, Ketua MUI Kecamatan, Organisasi Masyarakat dan elemen lainnya yang mencapai 85 orang. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Pematangsiantar.
“Untuk itu, mari kita ajak saudara dan anak-anak kita dari generasi muda untuk mendaftar sebagai pendonor karena kegiatan ni tentu sangat bermanfaat dalam rangka membantu orang lain,” ujarnya.
Ketua MUI Pematangsiantar Drs H M Ali Lubis yang membuka sosialisasi yang juga sebagai nara sumber menjelaskan, kegiatan donor darah sebagai aksi kemanusiaan tentu sangat mulia karena darah akan disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pada kesempatan itu, Drs H M Ali Lubis mengisahkan perang di zaman Nabi Muhammad SAW. Dimana ada sepuluh orang Suhada yang kritis karena terluka dan tampak sangat haus. Sementara air yang tersedia hanya untuk satu orang.
Namun, ketika air itu diberikan kepada seorang suhada pertama, mengucapkan terimakasih dan mengatakan air itu lebih baik diberikan kepada suhada kedua, ucapan serupa juga disampaikan suhada yang ekdua agara air tersebut diberikan kepada suhada ketiga. Demikian seterusnya.
Saat suhada yang kesepuluh diberikan air, malah mengatakan lebih baik diserahkan kepada suhada yang pertama. Nyatanya, ketika diberikan kepada suhada yang pertama, tetapi sudah meninggal dunia dan kesepuluh suhada itu juga telah meninggal.
“Para suhada yang sepuluh orang itu semua mengutamakan orang lain dan sikap ini sangat mulia. Karena itulah turun ayat bahwa mereka mengutamakan orang lain dibanding dirinya meski membutuhkan air itu,” turut H M Ali Lubis.
Melalui donor darah yang akan dilakukan MUI Pematangsiantar, meski tanpa berharap balasan, pahalanya tentu sama dengan bersedekah. Karena, merupakan sikap kepedulian terhadap sesama.
Nara sumber berikutnya, Ketua PMI Pematangsiantar, dr Rajin S Saragih yang juga sebagai Dokter Spesialis Bedah memaparkan, sampai saat ini belum ditemukan benda atau zat sebagai pengganti darah “Itulah kuasanya Tuhan, sampai saat ini belum ada sesuatu benda yang dapat diciptakan sebagaia pengganti darah,” ujarnya.
Kemudian menjelaskan tentang berbagai hal menyangkut fungsi dan kegunaan darah yang memiliki beberapa golongan dan itu hasil dari perpaduan silang genetik ayah dengan ibu. Kemudian, para pendonor minimal berusia 18 tahun sampai 60 tahun.
“Ada mitos yang mengatakan kalau donor darah itu menjad tubuh kurang sehat, sakit dan darahnya akan dijual PMI. Itu hanya mitos, faktanya melalui donor darah secara rutin minimal tiga bulan sekali, membuat badan menjadi sehat,” kata dr Rajin.
Kemudian, kalau pun ada rasa sakit, itu hanya sebentar saat jarum suntik dimasukkan, Dan, tidak benar PMI menjual darah tetapi ada biaya operasional untuk mengelola darah yang didonorkan sebelum digunakan orang lain agar benar-benar steril bebas dari berbagai virus.
Saat dilakukan tanya jawab yang dipandu moderator dr Andi Buchori, para peserta sosialisasi begitu antusias berbagai pertanyaan. Selain soal darah, juga terkait dengan kesehatan.
Tanya jawab berlangsung komunikatif karena nara sumber yang menjawab pertanyaan secara medis dapat menjelaskan dengan terang benderang dan bahasa yang mudah dimengerti. (In)






