SIANTAR, SENTERNEWS
Hendra Pardede, pengusaha UD J Bintang Pardede yang menyediakan pupuk maupun pestisida kebutuhan pertanian mengatakan, akibat fluktuasi Rupiah terhadap Dollar AS yang semakin melemah ditambah dengan kenaikan harga BBM, jelas berdampak terhadap sektor pertanian.
Terbukti, harga pupuk non subsidi dan pestisida mengalami kenaikan antara 10 sampai 30 persen. Masalahnya, barang-barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri. Tetapi, mayoritas hasil import atau dari luar negeri.
“Kalau pupuk hanya merek Urea dan Ponska yang diproduksi di dalam negeri, selebihnya dari luar negeri termasuk pestisida,” kata Hendra Pardede yang juga Ketua Komisi II DPRD Siantar, Senin (15/06/2026).
Dijelaskan, kenaikan harga pupuk impor itu berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi dengan geopolitik seperti sejak perang Ukraina sampai perang Iran kontra AS dan Israel. Ditambah dengan kenaikan harga BBM.
“Akibat kenaikan pupuk dan pestisida, petani terpaksa harus mengurangi volume pembelian antara 20 persen sampai 30 persen dan membuat penanaman komiditi pertanian juga dikurangi,” ujarnya.
Namun., meski harga pupuk dan pestisida mengalami kenaikan, hasil panen komoditi pertanian seperti sawit, jagung, gabah (padi), justru mengalami kenaikan antara 20 persen sampai 30 persen.
“Seharusnya, petani tidak mengurangi volume penanaman hasil pertanian karena keuntungan yang diperoleh tidak jauh berbeda atau malah semakin bagus dibanding sebelum harga pupuk dan pestisida mengalami kenaikan” bebernya lagi.
Untuk mengantisipasi kondisi pertanian tidak semakin terputuk, pemerintah harus turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan terhadap harga hasil komoditi pertanian agar tetap stabil. Sekaligus melaksanakan program yang pro terhadap petani.
“Demi ketahanan pereonomian rakyat dan mendukung ketahanan pangan nasional, pemerintah harus memberi pemahaman kepada petani agar luas lahan pertanian kota Siantar seluas 1.032 Hektar tidak semakin berkurang” katanya mengakhiri. (In)







