Oleh: Samsuddin Siregar M PdI
Ada satu pertanyaan yang seharusnya tidak pernah berhenti kita ajukan kepada diri sendiri. Benarkah Allah menjadi satu-satunya tempat bergantung dalam hidup kita?
Ataukah kalimat Lā ilāha illallāh hanya berhenti sebagai lafaz yang fasih di bibir. Sementara hati diam-diam bersandar kepada kekuatan lain?
Inilah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebab tauhid bukan sekadar pengakuan, melainkan keadaan hati. Tauhid bukan hanya keyakinan yang diucapkan, tetapi juga cara memandang kehidupan.
Ketika hati lebih tenang karena tabungan daripada karena pertolongan Allah, lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ridha-Nya, lebih gelisah oleh penilaian manusia daripada murka-Nya, saat itulah kita perlu duduk sejenak dan bertanya, masihkah Allah menjadi pusat kehidupan kita?
Ibnu Atha’illah As-Sakandari mengajarkan bahwa sumber ketenangan bukan terletak pada berubahnya keadaan, tetapi pada dekatnya hati kepada Allah. Banyak orang mengejar perubahan dunia dengan keyakinan bahwa di sanalah kebahagiaan berada.
Mereka berpindah pekerjaan, mengejar kedudukan, membangun rumah yang lebih besar, mengumpulkan harta yang lebih banyak, tetapi kegelisahan tetap tinggal di dalam dada. Mengapa? Karena hati diciptakan bukan untuk dipenuhi dunia, melainkan untuk dipenuhi Allah. Dunia hanya mampu mengenyangkan mata, tetapi tidak pernah mampu mengenyangkan ruh.
Ketika hati kehilangan Allah, seluruh kenikmatan dunia hanya menjadi hiburan sesaat yang tidak pernah benar-benar menyembuhkan kegersangan jiwa.
Musibah terbesar seorang mukmin bukanlah kemiskinan, bukan pula kehilangan jabatan atau kehormatan. Musibah terbesar adalah ketika ia masih rajin beribadah, tetapi tidak lagi merasakan kehadiran Allah dalam ibadahnya.
Bibirnya membaca Al-Qur’an, namun pikirannya mengembara ke mana-mana. Tubuhnya berdiri dalam shalat, tetapi hatinya sibuk menghitung keuntungan dan kerugian dunia. Tasbih berputar di tangannya, tetapi kecemasan tetap menguasai jiwanya.
Perlahan ibadah berubah menjadi kebiasaan, bukan lagi perjumpaan dengan Rabb Yang Maha Pengasih.
Ketika ibadah kehilangan rasa, bukan berarti Allah menjauh. Boleh jadi kitalah yang terlalu jauh berjalan sehingga tidak lagi mampu merasakan kelembutan kasih sayang-Nya.
Hari ini manusia sangat takut kehilangan apa yang ada di tangannya. Takut kehilangan harta, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan pasangan, takut kehilangan pengaruh. Namun sedikit sekali yang menangis karena kehilangan kekhusyukan, kehilangan keikhlasan, kehilangan rasa malu kepada Allah.
Padahal semua kehilangan di dunia masih dapat diganti. Rezeki yang hilang bisa datang kembali. Jabatan yang lepas dapat berganti. Bahkan orang yang kita cintai pun suatu hari pasti akan berpisah.
Akan tetapi, apabila hati kehilangan Allah, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengembalikannya. Sebab cahaya tauhid hanya Allah sendiri yang sanggup menanamkannya ke dalam hati hamba yang benar-benar ingin kembali.
Ibnu Atha’illah pernah mengingatkan bahwa keinginanmu untuk melepaskan diri dari takdir yang telah Allah tempatkan adalah tanda belum padamnya syahwat tersembunyi dalam dirimu. Hikmah ini mengajarkan bahwa banyak kegelisahan muncul bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena hati menolak keputusan Allah.
Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana kita. Kita ingin semua doa segera dikabulkan. Kita ingin hidup selalu sesuai harapan. Ketika kenyataan berbeda, kita kecewa, bahkan mulai mempertanyakan kasih sayang Allah.
Padahal sejak awal, Allah tidak pernah berjanji memenuhi semua keinginan kita. Allah hanya berjanji memberikan yang terbaik bagi hamba yang percaya kepada-Nya.
Renungkanlah kehidupan para nabi. Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Nabi Yusuf dipenjara tanpa kesalahan. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit yang panjang. Nabi Muhammad ﷺ kehilangan orang-orang yang paling dicintainya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang memindahkan sandaran hati kepada selain Allah.
Mereka kehilangan banyak hal, tetapi tidak pernah kehilangan tauhid. Mereka menangis, tetapi tangisan mereka membawa mereka semakin dekat kepada Rabb-nya.
Berbeda dengan kita. Sedikit saja harapan tidak terpenuhi, kita mulai berburuk sangka kepada Allah. Sedikit saja dunia berpaling, kita merasa Allah meninggalkan kita. Padahal mungkin justru saat itulah Allah sedang mengajarkan arti bergantung hanya kepada-Nya.
Tauhid yang sejati akan terlihat ketika semua pintu dunia tertutup. Selama hidup mudah, semua orang mampu mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Allah.
Namun ketika usaha bangkrut, ketika penyakit datang, ketika keluarga tidak lagi memahami kita, ketika doa terasa belum menemukan jawaban, di situlah kualitas tauhid diuji.
Apakah hati tetap tenang karena mengetahui Allah tidak pernah salah mengatur kehidupan? Ataukah hati mulai mencari keselamatan melalui jalan-jalan yang tidak diridhai-Nya? Banyak orang kehilangan agama bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena lebih mencintai dunia daripada mencintai Allah. Dunia yang seharusnya berada di tangan akhirnya naik menguasai hati.
Salah satu penyakit paling halus adalah merasa bahwa keberhasilan berasal dari kemampuan diri sendiri. Kita lupa bahwa kecerdasan adalah pemberian Allah. Kesempatan adalah pemberian Allah. Pertemuan dengan orang-orang baik adalah pemberian Allah. Bahkan kemampuan menarik napas pada detik ini pun merupakan karunia Allah.
Ketika manusia merasa dirinya menjadi sebab utama keberhasilannya, saat itulah hijab kesombongan mulai menutupi cahaya tauhid. Allah tidak menyukai hati yang merasa cukup tanpa-Nya. Sebaliknya, Allah mencintai hamba yang setiap hari mengakui kelemahannya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan kebesaran Rabb semesta alam.
Mungkin kita tidak pernah sujud kepada patung. Kita tidak menyembah matahari atau bulan. Namun berhati-hatilah terhadap berhala yang tidak terlihat.
Berhala itu bernama ambisi yang tidak mengenal batas. Berhala itu bernama popularitas yang membuat seseorang rela kehilangan kejujuran. Berhala itu bernama pujian yang membuat amal kehilangan keikhlasan. Berhala itu bernama hawa nafsu yang selalu meminta dituruti. Berhala-berhala itu tidak berdiri di padang pasir sebagaimana masa jahiliah dahulu. Ia berdiri di dalam hati. Selama hati masih memberikan tempat yang lebih besar kepada selain Allah, selama itu pula perjalanan menuju tauhid belum selesai.
Karena itu, marilah kita kembali kepada Allah sebelum Allah memanggil kita kembali. Tidak ada yang kita bawa ke alam kubur selain hati yang pernah mengenal-Nya dan amal yang pernah dilakukan dengan ikhlas karena-Nya.
Semua yang hari ini kita banggakan akan tertinggal. Rumah akan menjadi milik orang lain. Jabatan akan digantikan. Nama perlahan dilupakan. Bahkan foto-foto kita akan memudar dimakan waktu. Yang tetap hidup hanyalah hubungan kita dengan Allah.
Maka jangan biarkan dunia mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik-Nya. Bersihkan hati setiap hari dengan istighfar, hidupkan dengan dzikir, kuatkan dengan tawakal, dan terangilah dengan tauhid yang murni. Sebab ketika hati benar-benar mengenal Allah, ia tidak lagi takut kehilangan dunia, karena ia telah menemukan Pemilik seluruh alam semesta. (Penulis : Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar)






