Oleh: Cynthia S Pd MM
Hari ini kita hidup di zaman yang luar biasa. Dengan sebuah telepon genggam, kita dapat mengakses jutaan informasi.
Dengan internet, kita dapat belajar dari berbagai penjuru dunia. Dengan media sosial, kita dapat berkomunikasi tanpa batas jarak. Dengan kecerdasan buatan atau AI, berbagai pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat dilakukan dalam hitungan menit. Teknologi telah memberikan kemudahan yang luar biasa.
Kemajuan teknologi tidak selalu berarti kemajuan manusia. Kita bisa memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi jika akhlak semakin buruk, teknologi justru dapat menjadi bumerang.
Kita bisa semakin cepat mendapatkan informasi, tetapi semakin lambat menyaring kebenaran. Kita bisa semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit menjaga lisan. Kita bisa semakin mudah terhubung dengan banyak orang, tetapi semakin jauh dari orang-orang di sekitar kita. Kita bisa memiliki kecerdasan digital, tetapi kehilangan kecerdasan moral.
Beberapa hal yang perlu kita renungkan.
1. Islam Mengajarkan Kita untuk Tidak Menelan Informasi Mentah-Mentah
Salah satu masalah terbesar di era digital adalah banjir informasi. Setiap hari kita menerima berita melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan berbagai platform lainnya. Masalahnya, tidak semua informasi yang kita terima adalah benar.
Allah Swt. telah memberikan prinsip yang sangat jelas yang artinya, ”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan digital kita. Sebelum share, tabayyun. Sebelum forward, periksa. Sebelum memberikan komentar, pikirkan. Sebelum menuduh seseorang, cari kebenarannya.
Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada akal dan hati kita. Karena satu kali kita menekan tombol “bagikan”, informasi itu dapat menyebar kepada ratusan bahkan ribuan orang. Dan jika ternyata berita itu bohong, kita tidak bisa menarik kembali semua dampaknya.
2. Jari Kita Juga Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Sering kali kita berpikir: “Ah, saya hanya mengetik.” “Saya hanya komentar.” “Saya cuma share.” “Saya cuma repost.” Tetapi bagi Allah, tidak ada sesuatu pun yang sia-sia.
Allah Swt. Berfirman yang artinya, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Jika ucapan kita dicatat, maka apa yang kita tulis juga harus kita pertanggungjawaban. Komentar kita. Postingan kita. Pesan kita. Video yang kita sebarkan. Berita yang kita teruskan. Semuanya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka, jangan merasa bebas hanya karena berada di balik layar.
3. Rasulullah Mengajarkan Etika Berkomunikasi
Rasulullah bersabda yang aetinya,” Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini bukan hanya berlaku ketika kita berbicara secara langsung. Ia juga berlaku ketika kita berada di dunia digital.
Sebelum menulis komentar, tanyakan: Apakah ini perkataan yang baik? Sebelum membuat postingan, tanyakan: Apakah ini memberikan manfaat? Sebelum membalas komentar orang lain, tanyakan: Apakah balasan saya akan menyelesaikan masalah atau justru memperbesar masalah?
Jika tidak mampu berkata baik, maka diam. Jika tidak mampu menulis sesuatu yang bermanfaat, lebih baik jangan menulis. Jika belum mengetahui kebenaran sebuah berita, jangan menyebarkannya.
4. Jangan Jadikan Media Sosial sebagai Tempat Menghina
Salah satu penyakit dunia digital adalah mudahnya seseorang menghina orang lain. Karena merasa tidak berhadapan langsung, seseorang menjadi berani menulis kata-kata kasar.
Menghina fisik. Menghina keluarga. Menghina pekerjaan. Menghina pendidikan. Menghina kondisi ekonomi. Bahkan terkadang menghina agama dan kehormatan seseorang.
Allah Swt. Berfirman yang artinya,”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”(QS. Al-Hujurat: 11).
Orang yang kita hina di internet mungkin justru lebih mulia di hadapan Allah. Orang yang kita anggap bodoh mungkin memiliki amal yang lebih banyak. Orang yang kita anggap rendah mungkin memiliki hati yang lebih bersih. Jangan merasa tinggi hanya karena kita memiliki kemampuan mengetik dan membuat komentar.
5.Hoaks, Fitnah, dan Ujaran Kebencian Bukan Sekadar “Konten”
Di era digital, kebohongan dapat berubah menjadi viral hanya dalam hitungan menit. Satu foto dapat disalahgunakan. Satu video dapat dipotong dari konteks. Satu judul dapat dibuat menyesatkan. Satu rumor dapat menghancurkan nama baik seseorang. Karena itu, Rasulullah memberikan peringatan keras tentang bahaya dusta.
Beliau bersabda yang artinya,”Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka jangan berkata: “Saya cuma ikut menyebarkan.” Kalau yang kita sebarkan adalah kebohongan, kita ikut menjadi bagian dari penyebaran kebohongan tersebut. Jangan berkata: “Saya cuma ikut komentar.” Kalau komentar kita menyakiti dan menzalimi orang lain, kita tetap bertanggung jawab.
6.Literasi Digital Harus Berjalan Bersama Literasi Akhlak
Secara sederhana, literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi secara cerdas, kritis, aman, dan bertanggung jawab. Tetapi seorang Muslim membutuhkan sesuatu yang lebih: Literasi digital harus disertai literasi akhlak.
Kita harus tahu bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga harus tahu bagaimana bersikap ketika menggunakan teknologi. Kita harus tahu cara mencari informasi, tetapi juga harus tahu cara menghormati orang lain.
Kita harus tahu cara membuat konten, tetapi juga harus tahu batas antara kebebasan dan kemaksiatan. Kita harus mampu menggunakan AI, tetapi jangan sampai AI membuat kita kehilangan kejujuran dan tanggung jawab. Kita harus pintar menggunakan media sosial, tetapi jangan sampai media sosial membuat kita kehilangan adab.
7.Teknologi Seharusnya Menjadi Alat, Bukan Tuan
Teknologi diciptakan untuk membantu manusia. Tetapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Manusia yang akhirnya diperintah oleh teknologi. Kita bangun tidur mencari handphone. Sebelum tidur melihat media sosial.
Sedang makan membuka layar. Sedang bersama keluarga sibuk dengan gadget. Sedang berada di masjid pun masih memikirkan notifikasi. Akhirnya teknologi yang seharusnya menjadi alat, berubah menjadi penguasa kehidupan kita.
Allah Swt. Mengingatkan yang artinya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak sampai terlena oleh berbagai kesibukan dunia. Termasuk popularitas. Jumlah pengikut. Jumlah penonton. Jumlah likes. Tren. Komentar. Dan berbagai bentuk pencapaian dunia maya. Jangan sampai kita sibuk mengejar angka di layar, tetapi lupa mengejar pahala di akhirat.
8.Jadikan Teknologi sebagai Jalan Pahala
Islam tidak mengajarkan kita untuk memusuhi teknologi. Justru teknologi dapat menjadi sarana kebaikan yang luar biasa. Dengan satu video kita bisa mengajarkan ilmu. Dengan satu tulisan kita bisa mengingatkan seseorang.
Dengan satu unggahan kita bisa mengajak kepada kebaikan. Dengan satu pesan kita bisa menguatkan orang yang sedang terpuruk. Dengan satu informasi kita bisa membantu orang lain. Bayangkan jika satu konten kebaikan dilihat ribuan orang.
Kemudian ada yang mengamalkannya. Kemudian orang lain mengamalkannya lagi. Maka teknologi dapat menjadi ladang amal jariyah.
Rasulullah bersabda yang artinta,” Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Maka mari kita gunakan teknologi bukan hanya untuk viral, tetapi untuk bernilai. Bukan hanya mencari views, tetapi mencari manfaat. Bukan hanya mengejar followers, tetapi menyebarkan kebaikan.
9.Lima Prinsip Akhlak Digital
Mari kita pegang lima prinsip akhlak digital:
- Tabayyun sebelum menyebarkan. Periksa sebelum percaya.
- Pikir sebelum mengetik. Tanyakan apakah tulisan kita akan menyakiti atau memberikan manfaat.
- Saring sebelum sharing. Tidak semua informasi yang kita terima harus diteruskan.
- Jaga privasi dan kehormatan orang lain. Jangan menyebarkan foto, video, aib, atau informasi pribadi seseorang tanpa hak.
- Ingat akhirat sebelum menekan tombol “kirim”. Tanyakan: “Jika tulisan ini diperlihatkan kepada Allah di hari kiamat, apakah saya siap mempertanggungjawabkannya?”.
Jika kita membiasakan lima hal ini, insya Allah teknologi menjadi sarana kebaikan. (**) (Penulis: Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar)







