Senter News
Kamis, 9 Juli 2026
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
No Result
View All Result
Senter News
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
Home NEWS SIANTAR-SIMALUNGUN
Imran Nasution

Imran Nasution

Inilah Siantar! Kenapa Rupanya?

Catatan: Imran Nasution

Penulis: Redaksi Senternews.com
14 Juli 2023 | 13:45 WIB
Rubrik: SIANTAR-SIMALUNGUN
Share on FacebookShare on WhatsappShare on Telegram

Sebagai Kota terbesar di Sumatera Utara setelah Medan, Siantar jelas memiliki karakteristik yang berbeda dibanding dengan kota lainnya.

Beda bukan karena penduduk kota dengan motto “Sapanagambei Manoktok Hitei”, terdiri dari beragam suku, agama dan golongan, dapat hidup berdampingan dengan harmonis dan tak mau digesek soal hal yang sensitif.

Terbukti ada sejumlah kampung (kelurahan) menggunakan nama suku dan agama. Namun, warganya tidak harus sesuai dengan nama kelurahan dimaksud. Seperti, Kelurahan Melayu, Karo, Martoba, Bantan, Banjar, Kelurahan Kristen dan ada juga Tomuan maupun Pardomuan tempat berbagai suku maupun agama bertemu dalam satu lingkungan.

Siantar berbeda dengan kabupaten maupun kota di Sumatera Utara bukan karena “lebel” sebagai kota pendidikan telah luntur karena pendidikan Kota Siantar telah tertinggal karena banyak sekolah unggulan di luar daerah lebih berkualitas. Sedangkan Siantar sepertinya begitu-gitu atau begini-gini saja.

Berbeda bukan lagi karena klub kebanggaan Persatuan Sepakbola Siantar (Persesi) dengan semangat “Siantarman” yang pernah tak gentar menjajal kekuatan sejumlah klub luar negeri saat merumput di stadion Sangnaualuh (dulu Martoba), seperti dongeng.

Sementara, stadion saat ini malah berantakan bagai lokasi jin buang anak dan mangkrak karena material bangunannya dibiarkan hilang tetapi tiada bertanggungjawab. Sehingga puluhan miliar anggaran negara yang berasal dari uang rakyat, lenyap percuma.

Siantar sekarang berbeda, bukan pula karena ada Becak BSA yang lincah mengitari jalan menurun dan mendaki meski terancam punah karena dijual dan diageni dengan harga tinggi. Sehingga, bakal tinggal tugu dan miniatur yang kelak sebagai cerita pengantar tidur anak cucu.

Bukan pula karena ada sungai Bah Bolon yang meliuk-liuk membelah kota, masih digunakan untuk mencuci, buang air besar dan mandi. Tempat anak-anak berkecimpung ria sambil melompat dari tepian yang tinggi atau dari atas jembatan.

Lebih dari itu, Bah Bolon masih dijadikan sebagai lokasi  memancing dan menjala meski ikan khas seperti jurung mulai punah apalagi tawes sudah entah kemana. Karena, airnya semakin dangkal dan kotor dengan limbah perkotaan dan limbah rumah tangga.

Siantar berbeda karakter dengan kota lain di Sumatera Utara, bukan pula karena  pernah sempat disebut  kota sejuk tapi kini mulai gersang. Karena pepohonan sebagai hutan kota ditebangi dan kenapa rupanya kalau tugu Adipura hanya tinggal pajangan?

Sehingga, Siantar tidak lagi seperti Bandung yang bersih, hijau dan berbunga (Berhiber). Pernah sama-sama dikelilingi perkebunan teh dan tempat para demang atau pejabat kolonial Belanda beristerahat.  Siantar dan Bandung tidak lagi “Twin City” atau kota kembar. Dan, itu tidak banyak mengetahuinya.

Lantas, kalau berbeda dengan kota lain di Sumatera Utara, kenapa rupanya?

Kenapa rupanya kalau DPRD Siantar membentuk Hak Angket karena Wali Kota dr Susanti melakukan demosi, non job dan mutasi para ASN meski dikembalikan lagi dan pemakzulannya ditolak Mahkamah Agung ?

Kenapa rupanya kalau pasca penolakan pemakzulan Wali Kota, DPRD Siantar jarang masuk kantor? Kenapa rupanya kalau DPRD Siantar berangkat mengambil salinan penolakan pemakzulan Wali Kota ke Mahkamah Agung?

Kenapa rupanya kalau pasca pengusulan pemakzulan Wali Kota ditolak bermunculan  papan bunga  deskreditkan DPRD? Kenapa rupanya kalau Wali Kota tidak pernah bersedia menerima pengunjukrasa? Kenapa rupanya kalau Wali Kota ada bayangannya?

Kenapa rupanya soal pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang sempat dipergunjingkan? Kenapa rupanya masih banyak pejabat Pemko Siantar berstatus  Pelaksana Tugas (Plt)?

Kenapa rupanya teriakan orasi pengunjukrasa  sampai serak tetapi apakah didengar penguasa atau tidak tak terlalu penting? Kenapa rupanya soal proyek fisik di Pemko? Kenapa rupanya kalau ada pejabat dilaporkan mahasiswa ke APH  karena dituding korupsi?

Kenapa rupanya kalau pengunjukrasa juga menyuarakan soal KW proyek fisik? Kenapa rupanya kalau para mahasiswa demontrasi menyuarakan lokasi transaksi Narkoba yang katanya berpindah-pindah?  Terus, kenapa rupanya kalau berimbas dengan meningkatnya aksi kejahatan?

Kenapa rupanya kalau pengamat lokal yang sebenarnya harus diamati hanya berasumsi sambil menjilat?  Kenapa rupanya kalau ada yang mengetawainya meski tidak diekspos media massa atau media sosial?

Kenapa rupanya kalau pedagang kaki lima semakin berjubel menyesak ke badan jalan hingga arus lalulintas jadi macet? Kenapa rupanya tentang terminal? Kenapa rupanya kalau arus  lalulintas  perkotaan macet dan semraut?

Kenapa rupanya kalau lantai II Gedung 4 Pasar Horas amblas dan banyak lagi terancam karena lantai itu banyak yang keropos? Kenapa rupanya kalau ada Galian C yang disebut illegal dibiarkan?

Kenapa rupanya kalau gelandangan pengemis (Gepeng) wajah baru dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) begitu mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Ada berpenampilan  ala penyanyi reage dengan rambut tak pernah disisir sehingga jadi gimbal?

Ada ODGJ perempuan bagai peragawati yang kalau berjalan meliuk-lIuk dengan gaun panjang seperti di atas catwalk? Bahkan, kenapa rupanya kalau ada yang mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra, layaknya bagai dukun?

Lantas, kenapa rupanya kalau tak pandai menari, lantai dibilang tak rata? Kenapa rupanya kalau muka jelek, cermin disalahkan? Dan, banyak lagi sebenarnya kenapa rupanya dan kenapa rupanya?

“Inilah Siantar!  Kenapa rupanya?” (Penulis: Jurnalis berdomisili di Siantar)

ShareSendShare

Berita Terkait

SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Kunjungi Museum Simalungun: Pelestarian Sejarah dan Budaya sebagai Fondasi Utama Pembangunan Daerah

9 Juli 2026 | 15:27 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Bupati Simalungun Dr H Anton Achmad Saragih lakukan kunjungan ke Museum Simalungun di Jalan Sudirman, Kecamatan  Siantar...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Simalungun Kunker Raya Kahean, Perkuat Pemerataan Pembangunan hingga Pelosok Nagori

8 Juli 2026 | 15:18 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih didampingi sejumlah pimpinan perangkat daerah, lakukan  kunjungan kerja (kunker) ke...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Sebagai Bentuk Kepedulian, Bupati Simalungun Tinjau Korban Puting Beliung  

8 Juli 2026 | 09:16 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS Sebagai bentuk kepedulian, Bupati Simalungun Dr H. Anton Achmad Saragih, didampingi sejumlah pimpinan perangkat daerah, turun menemui warga...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Simalungun Kunker ke Kecamatan Siantar: Alokasikan Anggaran Rp15 Miliar Lebih  

7 Juli 2026 | 17:56 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Bupati Simalungun, Dr H Anton Achmad Saragih, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Simalungun, Ny. Hj. Darmawati Anton...

Read moreDetails
Sekolah yang dituding lakukan pungutan liar
SIANTAR-SIMALUNGUN

Minta Rp5 Juta Ditolak Guru, Oknum LSM Kutip Uang Siswa  

7 Juli 2026 | 16:09 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Awalnya, sejumlah oknum Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM) menuding salah satu sekolah swasta di Kecamatan Panombeian Panei,...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bunda PAUD Simalungun Gaungkan Wajib Belajar 13 Tahun

6 Juli 2026 | 21:59 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Bunda PAUD Kabupaten Simalungun, Ny Darmawati Anton Achmad Saragih, hadiri kegiatan Sosialisasi Program Wajib Belajar 13 Tahun...

Read moreDetails

Berita Terbaru

SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Kunjungi Museum Simalungun: Pelestarian Sejarah dan Budaya sebagai Fondasi Utama Pembangunan Daerah

9 Juli 2026 | 15:27 WIB
ANEKA RAGAM

Pemko Siantar Melalui Dinsos Sosial P3A, Salurkan Ribuan Paket Bantuan Rehabilitasi Sosial Dasar  

8 Juli 2026 | 16:43 WIB
ANEKA RAGAM

DPRD Siantar Segera Tentukan Pembahasan Tujuh Ranperda  

8 Juli 2026 | 15:25 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Simalungun Kunker Raya Kahean, Perkuat Pemerataan Pembangunan hingga Pelosok Nagori

8 Juli 2026 | 15:18 WIB
ANEKA RAGAM

Anak Perempuan Diduga ODGJ dan Sudah Dimankan, Bunuh Ibu Kandung

8 Juli 2026 | 13:08 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Sebagai Bentuk Kepedulian, Bupati Simalungun Tinjau Korban Puting Beliung  

8 Juli 2026 | 09:16 WIB
ANEKA RAGAM

Dukung Dashboard Satu Data,Dinas Kominfo Siantar Tenandatangani Komitmen Bersama

7 Juli 2026 | 20:26 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Simalungun Kunker ke Kecamatan Siantar: Alokasikan Anggaran Rp15 Miliar Lebih  

7 Juli 2026 | 17:56 WIB
SEREMONIAL

Andrew Panjaitan Pimpin DPC Pro Jurnalismedia Siber Pematangsiantar

7 Juli 2026 | 17:49 WIB
ANEKA RAGAM

Cair! 225 Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora Parluasan Terima Bansos Tahap II

7 Juli 2026 | 17:38 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Minta Rp5 Juta Ditolak Guru, Oknum LSM Kutip Uang Siswa  

7 Juli 2026 | 16:09 WIB
ANEKA RAGAM

Pasca Kebakaran Pasar Dwikora Parluasan, Berkembang Isu Negatif dan PD PHJ Lakukan Klarifikasi 

7 Juli 2026 | 10:09 WIB

barak barak barak barak barak barak

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
  • Visi & Misi

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata