Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 sebagai pesta demokrasi memilih wakil rakyat, memang telah selesai meski belum tuntas. Namun, dari informasi yang beredar sudah ada memprediksi siapa Caleg yang “duduk” dan siapa “terduduk”.
Pastinya, tratatak TPS telah dibuka, kursi dan meja dikembalikan kepada pemiliknya. Para undangan yang menunaikan hak pilih telah bubar. Bahkan, uang transaksional dari Caleg juga habis. Warga lanjut usia (Lansia) juga mulai lupa siapa Caleg pilihannya.
Kalau dicermati dengan kasat mata, tanpa harus pakai kaca pembesar karena bukan rahasia umum lagi, dinamika Pemilu yang muncul secara nyata memang begitu beragam. Termasuk di Kota Siantar khususnya
Karenanya, berbagai adegan dalam Pemilu itu bagai drama yang pakai sekrenario atau tanpa sekrenario. Sementara, pasca pencoblosan, terjadi beberapa penggesaran informasi. Baik penggeseran isu yang dikemas menjadi fakta atau fakta yang malah disebut-sebut sebagai isu.
Informasi soal transaksional sebelum masa pencoblosan, bergeser dengan adanya Tim Pemenangan bertengkar dengan rakyat yang tidak komit mencoblos Caleg sesuai nilai nominal. Namun, penyelesaiannya minim publikasi media sosial apalagi media massa.
Informasi tentang bagaimana panitia penghelatan di TPS yang keletihan karena begadang sampai subuh untuk menghitung suara sehingga banyak mendatangi tukang urut badan karena katanya masuk angin, mulai senyap.
Cerita petugas PPS yang tidak biasa kerja lembur sampai melewati batas waktu sehingga sempat ada dilarikan ke rumah sakit, mulai sepi diperbincangkan karena mereka sudah kembali ke rumah tanpa dipugut biaya karena masuk peserta BPJS Kesehatan meski anya sampai bulan Maret 2023 atau hanya sebulan.
Tentang berapa besaran honor saksi partai politik yang membuat daya tarik tersendiri, bergeser menjadi berita kurang enak di gendang telinga yang tidak tuli karena masih ada saksi yang turut begadang sampai subuh dan keringatnya telah kering, belum juga terima honor.
Tentang bagaimana repotnya cara memilih lima kertas suara yang terdiri dari Presiden, DPD, DPR RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kota, mulai terabaikan karena seluruh suara sah, tidak sah maupun rusak, masuk peti suara untuk mulai dihitung melalui rapat pleno terbuka di kantor camat.
Perhitungan suara melalui rekapitulasi yang disaksikan berpasang-pasang bola mata para saksi dan diawasi Panwascam, ternyata tidak mudah karena tetap saja ada kesalahan dengan alasan saat perhitungan di TPS, para saksi dan PPS serta lainnya keletihan.
Karenanya jadwal rapat pleno diperpanjang dan informasi terkait Caleg terpilih sedikit tertunda meski banyak pesan-pesan menyebar melalui media sosial dengan berbagai versi yang tidak diketahui bersumber dari mana. Tetapi ada percaya dan menyebarnya lagi. Sehingga, ada mempertengkarkannya di tingkat akar rumput yang berlumpur.
Terlepas dari suka atau tidak, berbagai dinamika terus menggelinding bagai bola salju yang sempat membesar tetapi akan berangsur-angsur mengecil karena diurai sinar matahari yang terus meninggi sampai melewati tengah hari.
Katanya Pemilu disebut sebagai pendidikan politik untuk mencerdaskan nalar rakyat agar berpikir waras bagaimana agar hasil yang dicapai membuat perubahan situasi dan kondisi lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun, kalau melihat dinamika yang berkembang, apa benar?
Karenanya, agar rakyat jadi pemilih cerdas, perlu perbaikan sistim. Baik sistim Pemilu dan kepartaian, juga sistim perekrutan pelaksana Pemilu yang bebas intervensi siapapun, terutama rezim penguasa nasional maupun tingkat lokal.
GAGAL TARGET
Masing-masing partai politik terkhusus di Kota Siantar, memang punya target memperoleh kursi maksimal melalui hasil Pemilu. Dan, paling jadi perbincangan sampai ke warung-warung pinggir jalan, partai milik penguasa lokal sempat sesumbar siap merebut pimpinan legislatif.
Selain itu, sekaligus meraih satu perahu murni untuk mengusung calon eksikutif satu dan dua agar kekuasaan tetap berada dalam genggaman. Namun karena target jauh dari harapan, akhirnya jadi materi “stand up komedi” untuk bahan tertawaan.
Apalagi sempat dicibir memanfaatkan perangkat para pejabat sampai tingkat lingkungan kelurahan sampai dituding mendompleng program negara sambil menutup pintu dan jendela rapat-rapat terhadap pendapat orang-orang berpengalaman.
Menganggap pendapat atau strateginya emas sedangkan pendapat dan strategi orang lain besi berkarat. Padahal, emasnya terbukti hanya sepuhan. Sehingga politik buta mata gagal lampiaskan libido rebut kekuasaan karena terbentur tembok tebal tinggi kesombongan.
Sejatinya politik itu bagai karet yang harus ditarik maupun diulur. Tidak harus terus ditarik karena bisa putus dan karet akhirnya kendor. Lantas, kalau Pemilu itu penuh drama, tentu ada happy ending dan ada sad ending.
Kalau happy ending silahkan senyum atau tertawa tapi jangan sampai terbahak-bahak karena mungkin akan ada yang tersinggung. Kalau sad ending, jangan habiskan hari di ujung lamunan.
PENUTUP
Bicara soal pesta, selalu ada kali-kali dan bagi -bagi tentang berapa biaya pengeluaran maupun akan dikeluarkan lagi apakah untung atau buntung. Jadi, kalau dipikir-pikir masyarakat awam, sebenarnya tidak perlu dipikiri. Karena, kalau tetap dipikiri, rasanya bisa jadi tak habis pikir. (Penulis pemimpin redaksi senternews.com)






