SIANTAR, SENTER NEWS
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Setiap bulan suci Ramadhan akan tiba, mandi pangir masih tetap sebagai suatu tradisi yang masih lestari bagi masyarakat Muslim. Faktanya, jelang Ramadhan 1445 H atau 2024. para pedagang pangir mulai bermunculan di Pasar Horas, Kota Siantar, Sabtu (9/3/2024).
Pangir yang terdiri dari daun nilam, daun pandan, batang sere, daun jeruk dan putik pohon pinang itu, ditawarkan dengan harga antara Rp 2.500 sampai Rp 3000 per ikat. “Ada juga ikatan besar seharga sepuluh ribu, ” ujar Wati, pedagang daun pangir di lantai I, Gedung 3 Pasar Horas, Kota Siantar, Sabtu (9/3/2024) sekira jam 11.30 WIB.
Dijelaskan, bahan baku pangir yang dijualnya berasal dari Kabupaten Simalungun. “Ya, setiap menjelang bulan puasa ini ada yang datang menjual pangir ke pajak ini, Jadi saya membelinya untuk dijual lagi, ” kata Wati.
Dijelaskan, pangir akan semakin diburu saat sehari sebelum tiba bulan puasa. Karena situasi itu, akan bermunculan pedagang pangir yang langsung dari kabupaten Simalungun. Ketika sehari sebelum tiba Ramadhan semakin sore, harga pangir yang ditawarkan menjadi lebih murah. “Dari pada tidak laku dan dibawa pulang, terpaksa banting harga, ” ujar pedagang pangir lainnya.
Karena sudah menjadi tradisi yang tetap lestari, masyarakat pengguna pangir rasanya seperti wajib mandi pangir. Bahkan, anak-anak dipastikan bergembira setelah selesai mandi pangir karena badannya menjadi harum.
“Kalau nggak mandi pangir sehari sebelum tiba Ramadhan, rasanya kurang pas. Puasa memang hari Selasa, tapi, nggak apa-apa apa dibeli sekarang. Mumpung sedang belanja untuk keperluan bulan puasa, ” ujar warga yang membeli pangir dari Pasar Horas.
Terpisah, Al-Ustadz Narimo mengatakan, mandi pangir sehari sebelum tiba bulan Ramadhan hanya sebagai suatu tradisi. Dedaunan pangir yang direbus dan dicampur dengan air untuk dimandikan, pada dasarnya untuk membuat badan menjadi bersih dan harum.
“Nilai ibadah mandi pangir itu tidak ada dalam Islam. Tapi kalau ada yang mandi pangir menjelang tiba Ramadhan, berarti seseorang itu bergembira menyambut bulan Ramadhan. Jadi, ada nilai positif juga, ” kata Ustadz Narimo. (Ad)
.






