SIANTAR,SENTER NEWS
Gelandangan Pengemis (Gepeng) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tampaknya mudah bermunculan lagi di berbagai sudut kota Siantar. Sehingga, bukan hanya merusak pemandangan, lebih dari itu malah sering meresahkan masyarakat.
Pada dasarnya, Gepeng ada juga bukan gelandangan tetapi hanya sebagai pengemis. Daerah operasinya di areal perkotaan, prapatan lampu lalulintas dan di sejumlah lokasi keramaian lainnya seperti Paar Horas dan lainnya.
Pengemis ada mengandalkan kecacatan seperti tuna netra. Sambil membawa peralatan elektronik musik untuk karaoke, dipandu seseorang. Selain itu ada mengandalkan pakaian lusuh dan didominasi kaum perempuan. Paling terbaru, manusia silver yang seluruh tubuhnya kecuali mata dan kepala dilumuri cat berwarna perak.
Khusus manusia silver, beroperasi di sekitar lampu lalulintas Jalan A Yani dan prapatan lampu lalulintas samping tugu Wahana Tata Nugraha, Jalan Merdeka Ujung. Manusia silver itu mengaku bernama Ari (27), warga Kota Medan.
Sengaja datang ke Siantar dan tinggal dengan menyewa kamar kost di Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Siantar Timur. Ketika ditanya berapa penghasilannya perhari, dikatakan tidak menentu. Tapi, paling sedikit Rp 100 ribu perhari.
“Kalau soal penghasilan, tergantung cuaca,” ujar Ari yang memang berusaha menghindar saat diwawancarai. Bahkan, tidak bersedia diabadikan saat mengulurkan tangan kepada para sopir mobil pribadi maupun kepada penumpang angkutan kota.
Usaman (35) warga Kelurahan Timbang galung, Kecamatan Siantar Barat yang sering mangkal di balairung lapangan H Adam Malik mengaku selalu mengamati para Gepeng. “Kalau di depan toko roti ganda Jalan Sutomo, Gepengnya perempuan dan sudah bertahun-tahun di situ,” ujar Usaman, Minggu (9/4/2023) sekira jam 14.30 Wib.
Dijelaskan, Gepeng di kota Siantar seperti ada yang mengerahkan. Terbukti, dia pernah bicara-bicara dengan seorang Gepeng perempuan berusia sekira 60 tahun yang mengaku tinggal di Tebing Tinggi. Bahkan, dating ke Siantar bersama beberapa orang Gepeng lainnya.
“Waktu saya tanya siapa yang mengajak dan berapa disetorkan kepada orang yang mengajaknya, dia tidak mau menjawab,” ujar Usaman sembari mengatakan bahwa para Gepeng semakin banyak muncul karena sekarang bulan ramadhan dan Idul Fitri akan tiba.
.
Selain soal Gepeng, ODGJ juga seperti semakin bertambah. Ada berpakaian kurang senonoh. Bahkan, pernah ada lelaki hanya pakai celana dalam, duduk seenaknya di depan plang nama kantor Wali Kota. Selain itu, ada berbaring bebas di depan plang nama RSUD Djasamen Saragih Jalan Sutomo.
Sementara, saat masyarakat yang berjalan kaki melintas, tidak sedikit harus menutup hidung karena ODGJ itu seperti mengumbar bau. Bahkan untuk menghindari hal tidak diinginkan, warga khususnya kaum perempuan, terpaksa harus melangkah dengan cepat supaya menjauh.
“Kalau lelaki yang buka baju tidur di depan palng nama rumah sakit itu, memang sudah biasa. Tak tau di mana rumahnya. Dia seperti punya gangguan jiwa,” ujar alah seorang juru parkir di depan RSUD Djasamen Saragih.
Pantauan Senter News, beberapa waktu lalu Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Siantar bersama Satpol PP pernah menertibkan para Gepeng di sejumlah lokasi. Namun, pada dua bulan terakhhir sudah tidak dilakukan lagi.
Risbon Sinaga dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Siantar mengatakan, untuk melakukan razia atau penertiban, tentu butuh anggaran dan alat pendukung seperti transportasi dan bekerja sama dengan Satpol PP.
“Kalau soal penertiban, pastinya tergantung anggaran. Yang jelas, program untuk penertiban ada,” ujarnya sembari mengatakan bahwa penertiban abeberap waktu lalu, berhasil menertibkan Gepeng dan ODGJ yang meresahkan masyarakat.
Saat melakukan penertiban beberapa waktu lalu itu, Gepeng ditertibkan diminta membuat pernyataan agar tidak berkeliaran lagi. Kalau diamankan untuk kedua atau ketiga kalinya, dikirimkan ke panti.
Hasil pendataan Dinas Sosial P3A, para Gepeng memang berasal dari luar daerah. Demikian juga soal ODGJ yang berkeliaran di areal perkotaan. “Kalau ODGJ itu kita perkirakan di buang ke Siantar. Tapi, walaupun begitu, kita tetap melakukan penertiban,” ujarnya mengakhiri. (In)






