Senter News
Sabtu, 8 Agustus 2026
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
No Result
View All Result
Senter News
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST
Home NEWS SIANTAR-SIMALUNGUN
Samsudddin Siregar M PDi

Samsudddin Siregar M PDi

Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun

Penulis: Redaksi Senternews.com
20 Mei 2026 | 19:56 WIB
Rubrik: SIANTAR-SIMALUNGUN
Share on FacebookShare on WhatsappShare on Telegram

Penulis : Samsudddin Siregar M PDi

Setiap organisasi besar selalu diuji bukan ketika berada dalam situasi tenang, melainkan ketika memasuki momentum pergantian kepemimpinan. Pada titik itulah nilai-nilai organisasi dipertemukan dengan realitas kepentingan, idealisme dipertemukan dengan dinamika kekuasaan, dan semangat kebersamaan diuji oleh proses kompetisi.

Pergantian kepemimpinan tidak sekadar soal memilih figure. Tetapi juga menentukan arah masa depan organisasi: apakah organisasi akan tumbuh semakin terbuka, atau justru bergerak ke ruang yang semakin sempit.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), kepemimpinan pada hakikatnya tidak hanya dimaknai sebagai perebutan posisi, melainkan sebagai amanah yang lahir dari proses musyawarah, pengabdian, serta rekam jejak perjuangan.

Sejarah panjang NU menunjukkan bahwa organisasi ini tumbuh bukan semata karena kekuatan struktur, melainkan juga karena kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat.

Pesantren, majelis taklim, pengajian kampung, guru-guru agama, para kiai, dan warga nahdliyin di akar rumput merupakan fondasi yang membuat NU tetap besar hingga hari ini.

Di tengah dinamika menjelang kontestasi kepemimpinan NU di Simalungun, muncul berbagai pembicaraan dan persepsi dari kalangan masyarakat terkait ruang kompetisi yang dianggap belum sepenuhnya terbuka bagi semua kader.

Salah satu nama yang mulai diperbincangkan ialah KH. Erayadi. Di kalangan tertentu, beliau dipandang sebagai kader yang tumbuh dari proses panjang pengabdian dan dianggap memiliki kedekatan dengan basis warga nahdliyin.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan ataupun menyalahkan pihak tertentu. Sebab, proses organisasi tetap memiliki mekanisme dan aturan yang harus dihormati.

Namun apabila muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa terdapat kader yang berasal dari akar rumput menghadapi keterbatasan ruang kompetisi, maka hal tersebut layak menjadi bahan refleksi bersama.

Sebab yang lebih penting daripada siapa yang menang adalah bagaimana proses menuju kemenangan itu berlangsung secara sehat, terbuka, dan bermartabat.

Ketika Kompetisi Dipersepsikan Menyempit

Dalam organisasi apa pun, kompetisi yang sehat memerlukan tiga syarat utama: kesempatan yang sama, ruang yang terbuka, dan mekanisme yang adil.

Ketika salah satu di antaranya mulai dipertanyakan, maka yang muncul bukan sekadar persaingan kandidat, tetapi juga persoalan kepercayaan.

Persoalan yang sering muncul dalam berbagai organisasi bukan terletak pada hadirnya kandidat tertentu, melainkan pada persepsi bahwa peluang untuk bertarung tidak diberikan secara setara.

Dalam kondisi demikian, yang berkembang biasanya bukan diskusi tentang gagasan, melainkan pembicaraan mengenai kedekatan dengan kekuasaan, pengaruh elite, atau dukungan kelompok tertentu.

Padahal NU memiliki tradisi musyawarah yang sangat kaya. Organisasi ini dibangun dengan semangat kolektif, bukan dengan dominasi satu kelompok atas kelompok lain.

Karena itu, apabila muncul anggapan bahwa ruang gerak kader tertentu terasa terbatas atau kurang mendapatkan ruang yang sama, maka persoalan tersebut sebaiknya tidak dipandang sebagai konflik individu, melainkan sebagai tantangan organisasi.

Sebab sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan nama seseorang. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga terhadap proses organisasi.

Ketika warga mulai merasa bahwa figur yang dekat dengan akar rumput mengalami kesulitan memperoleh ruang kompetisi yang setara, maka pertanyaan besar yang muncul ialah: apakah organisasi sedang bergerak menuju keterbukaan, atau justru menuju eksklusivitas?

Pertanyaan ini penting karena NU dibangun oleh warga. NU lahir dari tradisi bawah, tumbuh dari masyarakat, berkembang melalui pesantren, dan dibesarkan oleh jamaah.

Akar Rumput Bukan Sekadar Penonton

Dalam banyak kontestasi organisasi, kelompok akar rumput sering kali memiliki posisi yang unik. Mereka menjadi kekuatan utama ketika organisasi membutuhkan dukungan, tetapi terkadang merasa jauh dari proses pengambilan keputusan.

Padahal kelompok akar rumput bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah denyut kehidupan organisasi. Mereka hadir dalam pengajian-pengajian kecil di desa, menjaga tradisi keagamaan, membesarkan lembaga pendidikan, menghidupkan kegiatan sosial, dan menjaga hubungan NU dengan masyarakat.

Karena itu, ketika muncul kader yang dipandang lahir dari proses panjang pengabdian di bawah, maka sesungguhnya yang hadir bukan hanya seorang kandidat. Yang hadir juga adalah harapan sebagian warga agar suara mereka memperoleh ruang yang lebih luas.

Dalam konteks inilah nama Erayadi, M.Pd mulai banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan warga nahdliyin di tingkat akar rumput.

Erayadi. M Pd (Syekh Karimudin Tuan Guru Bah Joga)

Di tengah masyarakat, figur ini juga dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bah Joga (Syekh Karimudin), sekaligus sebagai pimpinan Pesantren Darul Hikmah. Kedekatan dengan masyarakat menjadikan namanya relatif akrab di tengah basis warga, terutama pada lingkungan pendidikan, pengajian, dan aktivitas keagamaan masyarakat.

Bagi sebagian masyarakat, kedekatan tersebut tidak dibangun secara instan melalui momentum kontestasi, melainkan tumbuh dari proses interaksi sosial yang berlangsung cukup panjang.

Di banyak organisasi berbasis keagamaan dan sosial kemasyarakatan, kedekatan seperti ini sering kali menjadi modal sosial yang penting karena melahirkan hubungan emosional dan kepercayaan publik.

Selain itu, figur Erayadi juga dipersepsikan memiliki karakter kepemimpinan yang tenang dan kharismatik. Dalam tradisi kepemimpinan keagamaan, ketenangan sering dipandang bukan sekadar sifat personal, tetapi bagian dari kemampuan menjaga keseimbangan, meredam ketegangan, dan merawat persatuan.

Sementara kharisma tidak semata diukur melalui kemampuan berbicara di ruang publik, tetapi juga melalui konsistensi pengabdian serta penerimaan masyarakat terhadap figur tersebut.

Namun persoalan utama sesungguhnya bukan terletak pada sosok Erayadi sebagai individu. Persoalannya ialah apakah setiap kader, termasuk kader yang tumbuh dari proses panjang di tingkat bawah, memiliki kesempatan yang sama untuk bertarung secara terbuka.

Sebab kompetisi yang sehat bukan berarti memastikan siapa yang menang, tetapi memastikan setiap kader memperoleh hak yang sama untuk mengikuti proses organisasi secara adil.

Dukungan Penguasa dan Dukungan Massa

Dalam dinamika organisasi modern, dukungan memiliki banyak bentuk.Ada dukungan struktural.Ada dukungan moral.Ada dukungan kultural.Ada pula dukungan massa.

Tidak ada yang salah dengan kedekatan kepada pemerintah atau pihak-pihak tertentu selama semuanya bertujuan untuk kepentingan organisasi. Hubungan yang baik dengan berbagai pihak bahkan dapat menjadi modal penting bagi pengembangan program organisasi.

Namun persoalan muncul ketika dukungan struktural dipersepsikan lebih menentukan daripada dukungan warga. Sebab organisasi keagamaan memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi politik praktis.

Legitimasi tertinggi dalam organisasi keagamaan sering kali tidak lahir dari kekuatan formal semata, melainkan dari penerimaan masyarakat. Seorang pemimpin dapat memiliki kekuatan administrasi, tetapi ia juga membutuhkan kekuatan sosial.

Ia memerlukan penerimaan. Ia memerlukan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan. Kepercayaan lahir melalui proses panjang pengabdian.

Jalan Keluar: Mengubah Massa Menjadi Kekuatan Organisasi

Pertanyaannya ialah: bagaimana jika figur yang dianggap dekat dengan akar rumput ingin memperoleh kesempatan bertarung secara terbuka?

Jawabannya bukan dengan membangun pertentangan antara “penguasa” melawan “massa”. Jalan yang lebih bijak adalah mengubah kekuatan massa menjadi kekuatan organisasi. Setidaknya terdapat beberapa langkah yang dapat dipikirkan antara lain :

-Mendorong forum terbuka antar kandidat

Apabila terdapat beberapa kandidat yang akan bertarung, maka sebaiknya ruang dialog dibuka secara luas. Misalnya melalui: penyampaian visi dan misi; dialog terbuka;  forum gagasan;  penyampaian program kerja.

Dengan cara demikian, warga dan pengurus dapat menilai kandidat berdasarkan kualitas gagasan, bukan berdasarkan persepsi kedekatan dengan kelompok tertentu.

Kompetisi akan menjadi lebih sehat.

–Mengutamakan etika organisasi

Dalam tradisi NU, adab selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Karena itu seluruh pihak perlu menjaga suasana agar tetap kondusif. Perbedaan pilihan tidak boleh merusak persaudaraan. Kontestasi hanya berlangsung sesaat. Tetapi persatuan organisasi harus dijaga dalam jangka panjang.

–Memberi Kesempatan Bertarung Bukan Berarti Menentukan Pemenang

Salah satu hal yang perlu dipahami bersama ialah bahwa memberi ruang kompetisi terbuka tidak berarti memihak kandidat tertentu.  Memberi kesempatan bertarung bukan berarti menentukan siapa yang menang.

Memberi ruang yang sama hanyalah memastikan bahwa proses organisasi berjalan sehat. Bila KH. Erayadi memang memiliki dukungan kuat dari bawah, maka biarkan dukungan tersebut diuji secara terbuka. Bila kandidat lain memiliki kekuatan yang lebih besar, biarkan pula hal itu dibuktikan melalui proses yang adil.

Karena kemenangan yang lahir dari kompetisi sehat akan menghasilkan legitimasi yang kuat. Sebaliknya, kemenangan yang terus dipertanyakan akan meninggalkan ruang keraguan.

Penutup

Pada akhirnya, NU Simalungun membutuhkan lebih dari sekadar ketua baru. Yang dibutuhkan ialah proses kepemimpinan yang mampu menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh warga. Karena organisasi besar tidak dibangun oleh satu figur. Ia dibangun oleh banyak tangan.

Dibangun oleh para kiai. Dibangun oleh pengurus. Dibangun oleh guru. Dibangun oleh warga. Dan dibangun oleh mereka yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan. Apabila ada kader dari akar rumput yang ingin bertarung, maka kesempatan itu semestinya dipandang sebagai kekayaan organisasi, bukan ancaman.

Karena organisasi yang sehat bukan organisasi yang membatasi kompetisi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani membuka pintu bagi seluruh kadernya.

Pada akhirnya, sejarah akan lebih mengingat apakah proses itu berjalan adil daripada sekadar mengingat siapa yang menang. Dan mungkin di situlah ujian terbesar bagi NU Simalungun hari ini: menjaga agar pintu kompetisi tetap terbuka. Sehingga seluruh kader dapat masuk dengan kepala tegak, bertarung dengan bermartabat, lalu kembali bersatu untuk membangun organisasi yang lebih besar. (Penulis: Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar/Mahasiswa S3 UIN Walisongo Semarang)

ShareSendShare

Berita Terkait

SIANTAR-SIMALUNGUN

Kentung Pengedar Sabu Diamankan Polsek Gunung Malela

8 Agustus 2026 | 08:58 WIB

SIMALUNGUN,SENTERNEWS Pria berinisial MAS  alias Kentung (45) terduga pengedar narkotika jenis sabu  tak berkutik  diamankan jajaran Polsek Gunung Malela, Polres...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Ditanya SOP Usaha, Manager SPPBE PT NIJ Alam Lestari Ngaku Konsumen

7 Agustus 2026 | 08:43 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS Mengelak saat dikonfirmasi terkait Standar Operasional Prosedural (SOP), Manager SPPBE PT NIJ Alam Lestari  mengaku tidak memiliki hubungan...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Pemkab Simalungun Pulihkan Fasilitas Umum di Serbelawan Pasca Banjir

6 Agustus 2026 | 19:02 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Melalui semangat gotong royong  melibatkan berbagai unsur, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah sekitar, Pemkab Simalungun percepat...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Konsumsi Sabu, 2 Perempuan Menangis Saat Digerebek di Kamar THM

5 Agustus 2026 | 20:55 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS Dua perempuan muda pengonsumsi narkotika jenis sabu tak berkutik bahkan menangis saat digerebek personel Polsek Gunung Malela, Polres...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Bupati Simalungun Berangkatkan 38 Anggota Pramuka Menuju Jamnas XII 2026

5 Agustus 2026 | 17:28 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS Bupati Simalungun, Dr H Anton Achmad Saragih, sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Kamabida)  melepas keberangkatan 38 anggota Gerakan...

Read moreDetails
SIANTAR-SIMALUNGUN

Pemkab Simalungun Sambut Baik Investor di Kawasan Danau Toba

5 Agustus 2026 | 08:47 WIB

SIMALUNGUN, SENTERNEWS   Pemkab Simalungun terus berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan Danau Toba. Untuk itu, senantiasa membuka pintu...

Read moreDetails

Berita Terbaru

SEREMONIAL

Walikota Pematangsiantar Hadiri APEKSI Leadership Dialogue 2026

8 Agustus 2026 | 17:03 WIB
ANEKA RAGAM

Walikota Lepas Kwarcab Gerakan Pramuka Pematangsiantar Menuju Jamnas XII Tahun 2026 di Buperta Cibubur

8 Agustus 2026 | 16:59 WIB
ANEKA RAGAM

MUI Pematangsiantar Sosialisasi KUHP No 1 Tahun 2023  

8 Agustus 2026 | 15:45 WIB
ANEKA RAGAM

Sumut Rally 2026 FIA APRC dan IMI National Rally Championship  Ceremonial Start dari Lapangan Adam Malik Siantar

8 Agustus 2026 | 09:01 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Kentung Pengedar Sabu Diamankan Polsek Gunung Malela

8 Agustus 2026 | 08:58 WIB
ANEKA RAGAM

Kendala Perbaikan Pasar Horas Siantar, Menunggu Pembahasan Ranperda Menjadi Perda 

7 Agustus 2026 | 17:46 WIB
SEREMONIAL

DPC Partai Demokrat Pematangsiantar Melalui “Gerakan Langit Biru”, Tanam Pohon di Taman Kehati

7 Agustus 2026 | 14:05 WIB
SEREMONIAL

PLN UP3 Pematangsiantar Gelar Upskilling Petugas Yantek Berbasis K3 dan PS4

7 Agustus 2026 | 08:46 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Ditanya SOP Usaha, Manager SPPBE PT NIJ Alam Lestari Ngaku Konsumen

7 Agustus 2026 | 08:43 WIB
SIANTAR-SIMALUNGUN

Pemkab Simalungun Pulihkan Fasilitas Umum di Serbelawan Pasca Banjir

6 Agustus 2026 | 19:02 WIB
ANEKA RAGAM

Pemasangan Bendera Merah Putih di Jalan Sriwijaya Masih Minim

6 Agustus 2026 | 18:41 WIB
ANEKA RAGAM

Anggota DPRD Siantar Andika Prayogi Gerak Cepat Tinjau Rumah Warga Terancam Longsor Agar Ditanggulangi

6 Agustus 2026 | 15:38 WIB

barak barak barak barak barak barak

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
  • Visi & Misi

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SIANTAR-SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • ANEKA RAGAM
  • NASIONAL
  • SEREMONIAL
  • VIDEOGRAM
  • PODCAST

© 2024 Senternews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sinata