Oleh: Samro Himtihani Nasution MA
Bagaimana kita biasa menilai kesuksesan seseorang? Rumah besar, mobil bagus, karier mapan, usaha yang terus berkembang, itu yang paling sering muncul di kepala. Standar sukses seolah berhenti di titik itu saja.
Begitu melihat orang hidup berkecukupan, kita langsung menyimpulkan: dialah yang paling banyak diberi rezeki oleh Allah.
Cara pandang Islam soal rezeki jauh lebih luas dari itu. Rezeki tidak selalu berwujud sesuatu yang bisa dipegang, dihitung, atau ditabung.
Ada jenis rezeki yang tidak kelihatan sama sekali, tapi nilainya melampaui seluruh harta di dunia, yaitu ketika Allah menuntun hati seorang hamba untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan memudahkan langkahnya tetap berada di jalan ketaatan.
Pernah bertemu orang yang ilmu agamanya luas, hafal banyak dalil, paham berbagai hukum fikih, tapi ternyata masih bergelut menjaga shalat tepat waktu? Di sisi lain, ada juga orang yang ilmunya biasa saja, tapi kakinya begitu ringan melangkah ke masjid, istiqamah membaca Al-Qur’an, dan tak pernah absen bersedekah walau sedikit.
Dari sini kita jadi sadar bahwa sekadar tahu kebenaran saja belum cukup. Untuk bisa mengamalkannya, seseorang butuh pertolongan Allah. Itulah yang disebut taufik dan inilah yang seharusnya terus kita minta dalam doa.
Untuk Apa Sebenarnya Kita Diciptakan?
Allah Swt. berfirman: ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-DZariyat: 56)
Seorang muslim hidup untuk mengenal Tuhannya, mengabdi kepada-Nya, dan menjadikan seluruh aktivitasnya bernilai ibadah. Bekerja, belajar, berdagang, bahkan mencari nafkah sekalipun bisa bernilai ibadah asal niatnya benar.
Sayangnya, kehidupan modern kerap membuat kita lengah. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, media sosial, hiburan, dan segudang urusan dunia perlahan menggerus waktu dan perhatian kita. Tanpa sadar, shalat mulai tertunda, Al-Qur’an makin jarang dibuka, majelis ilmu terasa makin jauh.
Padahal dunia ini cuma tempat singgah sebentar. Cepat atau lambat, semua yang kita banggakan akan kita tinggalkan. Yang benar-benar menemani kita nanti hanyalah iman dan amal saleh.
Taufik dan Hidayah, Dua Hal yang Saling Melengkapi
Dalam hidup seorang muslim, hidayah dan taufik ibarat dua sisi mata uang. Hidayah adalah cahaya petunjuk yang membuka hati seseorang, sehingga ia bisa mengenal kebenaran dan membedakan mana yang benar dari mana yang salah.
Tapi petunjuk itu baru benar-benar terasa manfaatnya kalau Allah juga menganugerahkan taufik pertolongan-Nya yang membuat kita mampu menjalankan apa yang sudah kita ketahui.
Berapa banyak orang yang paham betul pentingnya shalat, tapi tetap saja belum bisa menjaganya? Berapa banyak yang tahu keutamaan membaca Al-Qur’an, tapi belum juga terbiasa membacanya setiap hari? Ini bukti bahwa ilmu saja tidak cukup tanpa uluran tangan Allah.
Jadi, setiap kali kita berhasil bangun untuk shalat Subuh, hati terasa adem saat membaca Al-Qur’an, tangan ringan untuk bersedekah, atau lisan mudah berzikir jangan buru-buru merasa itu semata hasil jerih payah sendiri.
Semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang sedang menitipkan taufik kepada kita. Kesadaran seperti inilah yang akan menumbuhkan rasa syukur sekaligus kerendahan hati. Seorang mukmin sejati tidak akan pernah merasa lebih baik dari orang lain, karena ia tahu setiap amal saleh yang bisa ia kerjakan adalah semata-mata karunia Allah.
Jadi, Apa Rezeki yang Sesungguhnya?
Begitu mendengar kata “rezeki”, kebanyakan orang langsung membayangkan uang, rumah, kendaraan, usaha yang maju, atau jabatan tinggi. Semua itu memang termasuk nikmat dari Allah.
Tapi nikmat semacam itu belum tentu jadi ukuran kemuliaan seseorang di hadapan-Nya. Tidak sedikit orang bergelimang harta tapi hatinya jauh dari Allah. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana, tapi tak pernah absen shalat berjamaah, lisannya selalu basah oleh zikir, dan hatinya penuh syukur.
Memohon Taufik dalam Beribadah
Rasulullah SAW., manusia paling mulia sekalipun, tidak pernah mengandalkan kekuatan dirinya sendiri dalam beribadah. Beliau selalu memohon pertolongan Allah lewat doa:
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Doa ini mengajarkan satu hal penting: tidak ada seorang pun yang bisa istiqamah tanpa pertolongan Allah. Karena itu, sudah sepantasnya kita memperbanyak doa—memohon agar Allah menjaga hati kita, memudahkan langkah menuju masjid, menjadikan Al-Qur’an teman sehari-hari, menguatkan semangat bersedekah, dan menjauhkan kita dari segala bentuk maksiat.
Taufik dari Allah sering muncul lewat hal-hal sederhana. Hati terasa ringan saat azan berkumandang. Ada rindu untuk membuka Al-Qur’an. Bersedekah terasa membahagiakan, bukan memberatkan.
Menghadiri majelis ilmu jadi kebutuhan, bukan beban. Kita juga jadi lebih mudah memaafkan, menjaga lisan, dan berusaha menghindari dosa meski ada kesempatan untuk melakukannya.
Sebaliknya, kalau hati mulai terasa berat untuk beribadah, malas berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau justru lebih menikmati maksiat daripada ketaatanitu tanda kita perlu segera kembali kepada Allah. Jangan tunggu sampai hati makin keras.
Segeralah perbanyak istighfar, perbaiki diri, dan mohon agar Allah tidak mencabut taufik serta hidayah-Nya dari kita.
Menjaga Taufik dan Hidayah agar Tak Hilang
Taufik dan hidayah adalah nikmat yang harus dijaga, bukan sekadar dinikmati. Salah satu caranya adalah dengan terus membiasakan diri melakukan amal saleh sedikit tapi konsisten jauh lebih baik daripada banyak tapi hanya sesekali.
Jaga shalat lima waktu dengan sungguh-sungguh. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungi Al-Qur’an. Perbanyak zikir dan istighfar. Pilih lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah, bukan menjauhkan.
Hadiri majelis ilmu agar iman terus terisi. Dan yang tak kalah penting, jauhi maksiat—karena dosa yang terus-menerus dilakukan bisa mengeraskan hati dan menghalangi datangnya hidayah.
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin nyata pula ia rasakan pertolongan-Nya di setiap langkah kehidupan. Pada akhirnya, semua yang kita miliki di dunia ini akan kita tinggalkan.
Harta tidak akan ikut masuk ke liang kubur. Jabatan akan berakhir. Kesehatan pun cepat atau lambat akan hilang. Yang akan tetap bersama kita hanyalah iman dan amal saleh. Karena itu, jangan hanya berdoa memohon rezeki dalam bentuk materi.
Mintalah juga rezeki yang jauh lebih besar, hati yang selalu hidup dengan iman, kemudahan untuk beribadah, keikhlasan dalam beramal, kekuatan untuk istiqamah, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Sebab jika Allah sudah memberikan taufik dan hidayah, sehingga kita mampu menjaga shalat, mencintai Al-Qur’an, gemar bersedekah, dan senantiasa mendekat kepada-Nya maka sesungguhnya kita telah menerima rezeki yang paling mahal. Rezeki yang nilainya tak akan pernah bisa ditukar dengan seluruh kekayaan dunia.(Penulis: Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






